Bukan Rahim Pinjaman

Bukan Rahim Pinjaman
39. Berubah Pikiran


__ADS_3

Beberapa jam setelah acara 7 bulanan dilakukan, Sukma menyimpan beberapa perhiasannya, hadiah-hadiah serta uang di atas kursi. Sementara Amanda dan Gilang sedang berbincang bersama keluarganya di ruang tamu.


Semua orang terlihat tampak senang dan bahagia. Apalagi kakek, rasanya sudah tidak sabar untuk menunggu kelahiran bayi Amanda. Begitupun dengan Gilang dan Amanda meski mereka tahu jika yang berada dalam acara tersebut adalah Sukma.


"Apa kamu merasa lelah Amanda?" tanya Gilang.


"Tidak Gilang, aku tidak merasa lelah," jawab Amanda.


Gilang sengaja menanyakan hal itu agar keluarga tidak ada yang curiga. Amanda pun seolah mengerti dengan apa yang ditanyakan Gilang. Mereka hanya tersenyum satu sama lain.


"Oiya Gilang aku akan ke kamar dulu," pamit Amanda.


"Iya Amanda," timpal Gilang sambil tersenyum.


Saat Amanda masuk ke dalam kamarnya, ia melihat banyak tumpukan hadiah, emas juga beberapa lembar uang diatas kursinya. Serta pakaian yang sudah dipakai Sukma setelah acara 7 bulan itu tergeletak di dekat selembaran uang itu.


"Tadi Sukma ke kamar," gumam batin Amanda setelah melihat barang-barang yang dikenakan Sukma tadi.

__ADS_1


Amanda pun bergegas untuk mencari keberadaan Sukma. Ia merasa tidak enak hati.


"Sukma! Sukma!" panggil Amanda sambil setengah berlari menuju kamar Sukma.


Namun setelah melihat kamar Sukma, ia tidak berada dikamarnya. Bahkan Amanda mencari Sukma hampir ke seluruh ruangan. Tidak menemukan Sukma didalam rumah, Amanda mencari keberadaan Sukma ke luar rumah.


Meski di luar terdengar suara petir karena tanda-tanda akan turun hujan namun Amanda tidak menghiraukan hal itu..


"Apa tadi ada Sukma keluar rumah pak?" tanya Amanda saat ia sampai di gerbang.


"Ia nyonya, tadi dia pergi ke arah stasiun," jawab satpam itu.


"Pak tadi istri saya pergi kemana?" tanya Gilang sesampainya dibawah.


"Barusan nyonya menyusul non Sukma ke arah stasiun pak," jawab satpam itu.


Sementara sesampainya stasiun Amanda segera menghampiri Sukma yang sedang duduk dikursi panjang.

__ADS_1


"Sukma kamu mau kemana malam-malam begini?" tanya Amanda.


"Setelah aku pikir-pikir, aku tidak mau memberikan bayiku ini. Aku adalah seorang ibu, aku tidak akan memberikan bayi ini," ujar Sukma.


"Apa yang kamu katakan Sukma? Kita sudah sepakat, kami akan memberikan uang sementara kamu akan memberikan bayi itu," timpal Amanda yang merasa kecewa dengan apa yang dikatakan Sukma.


"Selama 9 bulan aku menantikan bayi itu. Bukan hanya aku, tapi seluruh keluargaku juga menantikan bayi itu. Kebahagiaan keluarga kami berada di tanganmu Sukma!" pekik Amanda yang mulai terbawa emosi.


"Oke baiklah, aku akan memberikan bayi ini tapi dengan satu syarat," tukas Sukma.


"Syarat apa Sukma? Apapun akan ku berikan asal kamu mau memberikan bayi itu," lirih Amanda yang hampir putus asa karena penantiannya selama ini hanya sia-sia.


"Aku ingin suamimu!" celetuk Sukma.


Plak!


Mendengar hal itu membuat Amanda geram. Amanda sangat marah saat Sukma meminta suaminya untuk ditukar dengan anaknya.

__ADS_1


"Aku kira sifat pelacur sudah hilang dari dirimu Sukma, tapi ternyata kamu tega menukar anakmu hanya demi untuk menghancurkan rumah tangga orang lain!" tegas Amanda.


"Aku seorang ibu, aku juga sebenarnya tidak mau menukarkan anakku dengan uang!" timpal Sukma.


__ADS_2