Bukan Rahim Pinjaman

Bukan Rahim Pinjaman
7. Status Baru


__ADS_3

Tak terasa setelah beberapa jam kemudian akhirnya kini Gilang dan Amanda sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Amanda tidak pernah menyangka jika ia akan menikah secepat ini. Sebab dalam impiannya setelah lulus kuliah, Amanda ingin menjadi wanita karir.


Namun nyatanya rencana hanyalah rencana. Sebagus dan sebaik apapun kita mengatur rencana, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan kita kelak. Kini Amanda hanya mengikuti alur dalam hidupnya saja.


Begitupun dengan Gilang, ia masih tidak mengira jika ia akan menikah secepat ini. Sebelumnya Gilang tidak pernah memikirkan tentang pernikahannya sedikitpun. Meski kakeknya sering meminta Gilang untuk segera menikah, tapi Gilang tidak pernah menggubrisnya.


Bahkan Gilang terkesan santai dan tidak mau terburu-buru dalam mengambil keputusan ini.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Amanda?" tanya Gilang yang sejak tadi memperhatikan Amanda yang seperti sedang melamun.


"Ah tidak apa-apa, aku hanya memikirkan tentang hubungan kita saja. Aku tidak pernah menyangka jika aku akan menikah secepat ini," jawab Amanda yang membuang nafasnya secara kasar.


"Apa? Kenapa pikiran kita bisa sama ya? Aku juga sempat berfikir seperti itu. Aku juga tidak pernah membayangkan jika aku akan menikah secepat ini," timpal Gilang yang sama-sama merasakan hal yang demikian.


Untuk sesaat mereka pun terdiam. Mereka sibuk dalam pikirannya masing-masing. Meski kini mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri, akan tetapi mereka masih sama-sama merasa canggung.


"Benarkah? Kamu juga merasa seperti aku?" tanya Amanda tidak percaya.


"Iya Amanda, aku juga merasa seperti itu. Padahal aku masih ingin hidup bebas, tapi kakek yang selalu saja memaksaku untuk segera menikah," gerutu Gilang dengan wajah yang sedikit cemberut.


Hal itu spontan membuat Amanda tertawa. Amanda merasa lucu saat melihat Gilang seperti itu.


"Loh kenapa? Apa ada yang salah dengan perkataanku?" tanya Gilang yang merasa heran karena tiba-tiba saja Amanda tertawa.


"Ah tidak, hanya saja kamu terlihat begitu lucu, hihi," jawab Amanda yang masih saja terkekeh sambil menutup mulutnya.


Sementara Gilang hanya menggeleng saat mendengar Amanda berbicara. Malam ini adalah malam pengantin bagi mereka berdua. Tapi tidak ada kata-kata atau perbuatan romantis seperti layaknya pasangan pengantin baru pada umumya.


Mereka terkesan kaku dan malu-malu. Setelah acara resepsi selesai mereka segera bergegas ke dalam kamar hotel yang berada tidak jauh dari gedung pernikahan mereka. Mereka justru sama-sama terdiam dan malah asyik mengobrol.


Gilang yang baru saja mengenal Amanda dalam beberapa hari ini tidak berani menyentuh Amanda. Sebab Gilang masih merasa malu dan belum terbiasa. Begitupun dengan Amanda yang masih menjaga jarak dengan Gilang.


Didalam status mereka yang baru, mereka berdua terkesan dingin dan cuek. Mereka masih merasa malu-malu. Tak terasa karena terus mengobrol akhirnya mereka pun kelelahan hingga akhirnya mereka tertidur dengan begitu pulasnya.

__ADS_1


Keesokan harinya suara burung terdengar berkicauan. Matahari mulai menunjukan sinarnya. Akan tetapi Gilang masih saja tertidur pulas. Namun Amanda sudah terbangun sejak tadi.


"Hoam, rasanya masih ngantuk sekali," ujar Amanda yang masih saja menguap sejak tadi.


Amanda masih merasakan kantuk yang amat sangat, namun ia menyadari jika hari ini adalah hari pertama baginya menjadi seorang istri. Amanda sengaja bangun lebih awal agar ia bisa menyiapkan sarapan.


Setelah mandi dan melaksanakan shalat subuh, Amanda segera bergegas ke dapur. Di sana ia mencoba membuka kulkas, barangkali ada sesuatu yang bisa ia buat. Namun saat Amanda membukanya, tidak ada apapun didalam sana. Sebab mereka lupa membeli bahan makanan.


Amanda pun segera kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya.


"Gilang bangun sudah siang," ujar Amanda yang membangunkan Gilang dengan canggung.


"Ah tapi aku masih ngantuk," timpal Gilang yang malah menutup mukanya dengan bantal.


"Tapi kamu belum sholat loh," tukas Amanda memperingatkan.


"Astaghfirulloh ini jam berapa?" tanya Gilang yang merasa khawatir.


"Kenapa tidak membangunkan aku sejak tadi?" gerutu Gilang yang segera bergegas ke kamar mandi.


Amanda pun hanya menggeleng karena memang sudah sejak tadi ia membangunkannya namun Gilang tidak terbangun juga. Beberapa menit kemudian Gilang sudah mandi dan selesai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Oiya maaf dimeja belum ada makanan, soalnya aku lihat kulkas belum ada apa-apa," lirih Amanda.


"Oiya aku juga lupa kemarin tidak membeli stok makanan. Tapi jangan khawatir kita kan tinggal di hotel, bukan di rumah kontrakan. Kita bisa pesan makanan atau turun ke bawah untuk makan," ujar Gilang panjang lebar.


"Betul juga ya, kenapa aku bisa lupa," timpal Amanda dengan memegangi jidatnya.


"Ya sudah ayo kita pergi!" ajak Gilang.


"Kemana?" tanya Amanda dengan menautkan kedua halisnya.


"Kita makan ke bawah," ajak Gilang.

__ADS_1


"Oh oke ayo!" seru Amanda.


Mereka berdua pun segera bergegas menuju lantai bawah, sebab kamar mereka memang berada di lantai atas. Mereka pergi ke sebuah restoran yang tersedia di hotel itu. Sebenarnya mereka bisa saja memesan makanan dan diantarkan ke kamar mereka, namun mereka lebih memilih makan di tempat untuk mencari suasana yang baru.


Tidak butuh waktu yang lama akhirnya mereka tiba di lantai bawah. Disana ramai oleh para pengunjung yang lain. Tidak jauh dari tempat itu pula terdapat sebuah kolam renang yang cukup besar.


"Selamat pagi! Silahkan mau pesan apa?" sapa salah seorang waitress yang segera menghampiri meja mereka.


"Pagi!" jawab Amanda dan Gilang serempak.


Mereka berdua pun segera melihat-lihat menu makanan yang berada di buku menu.


"Aku pesan ini saja," tunjuk Amanda pada sebuah gambar tenderloin steak.


"Aku french fries saja," timpal Gilang.


"Baik pak, bu, untuk minumnya?" tanya itu sebelum ia bergegas pergi.


"Jus jeruk saja," jawab mereka serempak.


"Wah anda memang pasangan yang kompak ya," puji waitress itu dengan tersenyum simpul.


"Baiklah mohon ditunggu sebentar," pamit waitress itu yang segera bergegas membuatkan pesanan mereka.


Sementara Gilang dan Amanda hanya tersenyum simpul. Meski dalam beberapa hari membuat mereka cukup dekat, namun entah mengapa setelah menikah membuat mereka menjadi canggung kembali.


Rasanya seperti orang yang baru bertemu. Mungkin itu semua karena status baru mereka, sehingga mereka belum terbiasa satu sama lain. Tak berapa lama akhirnya pesanan mereka datang. Gilang dan Amanda pun segera menyantap makanan mereka masing-masing.


"Terima kasih," ujar mereka serempak.


"Sama-sama," jawab waitress itu sambil tersenyum simpul.


Lagi-lagi mereka mengucapkan hal yang sama secara bersamaan. Hal itu cukup membuat mereka salah tingkah. Gilang hanya tersenyum, sementara Amanda pun hanya tertipu malu.

__ADS_1


__ADS_2