
Sudah beberapa bulan berlalu, tapi rasa sedih itu masih Amanda rasakan. Amanda masih merasakan kehilangan seorang calon buah hati mereka. Seorang anak yang diidam-idamkan oleh keluarga besar Gilang.
Meski sudah berlalu cukup lama, tapi Amanda tetap tidak bisa melupakan kejadian itu. Kejadian yang tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya. Kejadian yang pada akhirnya merenggut nyawa buah hatinya.
"Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa menjagamu. Tapi ibu selalu merindukanmu," gumam batin Amanda.
"Ada apa sayang? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Gilang.
"Tidak, aku hanya sedang merindukan anak kita saja," lirih Amanda.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Gilang hanya bisa memeluk istrinya agar ia lebih tenang. Sebagai seorang suami, Gilang sangat mengerti akan perasaan istrinya. Dia juga merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang anak.
"Oiya, hari ini kita akan ke rumah sakit untuk kontrol," ujar Gilang membuka pembicaraan.
"Tapi aku sedang tidak ingin kemana-mana," jawab Amanda.
"Ayolah sayang ini semua demi kebaikanmu," bujuk Gilang lagi.
"Ya sudah kalau begitu aku siap-siap dulu," timpal Amanda yang segera bergegas ke kamar
mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian akhirnya Amanda selesai mandi dan kini sudah bersiap dan sudah rapi. Mereka pun akhirnya segera bergegas pergi. Beberapa hari sebelumnya Gilang sudah membuat janji dengan Helen untuk pemeriksaan perutnya setelah operasi.
"Kalian mau pergi kemana sudah rapi seperti ini?" tanya Risma saat melihat anak dan menantunya sudah rapi.
"Kami mau ke rumah sakit bu, hari ini ada jadwal Amanda kontrol," jawab Gilang.
"Oh begitu, ya sudah hati-hati dijalan," ujar Bu Risma lagi yang sedang menyapu lantai.
"Kalian tidak sarapan dulu?" tanya Risma.
"Nanti saja di jalan Bu," jawab Gilang sambil berlalu.
Mereka pun segera pergi menggunakan mobil. Entah mengapa Amanda merasa gugup dengan pemeriksaan kali ini. Padahal ini hanya kontrol biasa. Satu jam kemudian tibalah mereka dirumah sakit terdekat.
Gilang dan Amanda segera bergegas menuju ruangan dr. Helen.
__ADS_1
Tok.. tok..
"Selamat siang Helen," sapa Gilang.
"Hai selamat siang, silahkan duduk," tawar Helen.
Amanda dan Gilang segera duduk dihadapan dr. Helen. Sementara Amanda pergi ke atas ranjang untuk pemeriksaan. Amanda melakukan beberapa pemeriksaan. Semenjak kejadian itu Amanda dan Gilang berusaha untuk hamil lagi.
Gilang berharap jika Amanda akan segera hamil lagi, maka dari itu Gilang membawanya untuk diperiksa. Setelah beberapa menit menjalani tes akhirnya pemeriksaan selesai.
"Kondisi Amanda baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir," ujar dr. Helen.
"Syukurlah," timpal Gilang.
"Oiya aku ingin ke toilet dulu," pamit Amanda yang segera bergegas keluar ruangan mencari toilet.
dr. Helen pun kembali membicarakan tentang keadaan Amanda yang sebenarnya. Tadi dia tidak mengatakan kondisi Amanda yang sebenarnya karena khawatir Amanda akan kecewa.
"Oiya Gilang sebenarnya, istrimu sudah tidak bisa hamil lagi. Kejadian kemarin membuat Amanda tidak bisa lagi memiliki seorang anak," ujar dr. Helen dengan penuh penyesalan.
"Apa? Jadi Amanda tidak bisa hamil lagi?" tanya Gilang yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Hal itu benar-benar menjadi kabar buruk bagi Amanda.
"Apa? Jadi aku tidak bisa hamil lagi?" lirih Amanda dari ambang pintu dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya begitu teriris saat mendengar kondisinya yang sebenarnya.
"Amanda? Kamu mendengar semuanya?" tanya Gilang yang merasa tidak tega dengan semua ini.
"Ya, kalian tidak perlu menutup-nytupi semua ini. Aku sudah tahu semuanya," timpal Amanda.
"Maafkan aku Amanda, aku sangat menyesal memberitahukan semua ini. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa," sesal Amanda.
"Aku mohon tolong jangan beritahu keluargaku tentang semua ini," lirih Amanda.
"Tapi kenapa Amanda?" tanya Gilang yang menautkan kedua halisnya.
"Aku tidak mau mereka merasa sedih dengan berita buruk ini, cukup aku saja yang menanggung semua ini," jawab Amanda yang terisak dipelukan Gilang.
__ADS_1
Sementara dr. Helen merasa sangat kasihan pada Amanda. Namun ia juga tidak bisa memberikan jalan keluar atas masalah ini. Meski ia bisa menyarankan untuk mengadopsi anak tapi menurutnya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini.
Setelah pembicaraan mereka selesai, akhirnya Amanda dan Gilang segera bergegas pulang.
"Kita cari makan dulu ya sayang, aku lapar," ujar Gilang sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
"Tapi aku sedang tidak mau makan apa-apa, aku tidak berselera untuk makan," lirih Amanda.
"Ayolah sayang jangan seperti itu, kamu harus tetap makan ya," timpal Gilang.
"Jika kamu tidak mau makan, ya sudah aku juga tidak mau makan. Kita langsung pulang saja," tukas Gilang.
Mendengar hal itu membuat Amanda merasa tidak enak. Amanda tidak mau jika suaminya sampai tidak makan. Amanda tidak ingin jika Gilang sampai jatuh sakit hanya karena gara-gara dirinya.
"Ya sudah ayo kita makan," ajak Amanda.
"Nah begitu dong," ujar Gilang yang tersenyum simpul.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil. Gilang dan Amanda mencari sarapan yang kira-kira mereka suka. Akhirnya tak berapa lama, mereka makan dipinggir jalan. Meski mereka merupakan orang yang kaya, tapi mereka tidak pernah memilih-milih tempat makan.
Mereka akan makan ditempat yang mereka inginkan meski hanya makan dipinggir jalan.
"Bagaimana kalau kita makan soto," tunjuk Gilang pada sebuah warung soto yang terletak dipinggir jalan.
"Boleh," jawab Amanda.
Tanpa banyak kata-kata akhirnya mereka pun makan soto dipinggir jalan. Meski hanya sebuah soto, tapi makanan itu adalah makanan kesukaan Gilang. Mereka pun segera memesan 2 porsi soto beserta nasinya.
"Terima kasih pak," ujar Gilang.
"Sama-sama," jawab pelayan soto itu.
Gilang sangat lahap saat memakan soto itu. Namun Amanda rasanya tidak berselera. Amanda hanya mengaduk-ngaduk soto yang ada dihadapannya. Amanda teringat kembali kata-kata dr. Helen saat ia mengatakan bahwa dirinya tidak bisa hamil lagi dan tidak bisa memiliki anak lagi.
Gilang yang sejak tadi asyik sendiri, merasa tidak enak saat istrinya hanya melamun sambil mengaduk-ngaduk soto itu.
"Ayo sayang aku suapi ya," ujar Gilang yang langsung mengendokan nasi ke mulut Amanda.
__ADS_1
Amanda yang melihat sendok yang ada dihadapannya mau tidak mau harus segera memakannya. Suapan Gilang berhasil membuat Amanda akhirnya mau makan meski tidak terlalu banyak.
Akhirnya tak berapa lama mereka selesai makan dan segera bergegas pulang.