
Beberapa bulan berlalu, tak terasa kini perut Sukma semakin membuncit karena usia kandungannya kini sudah 8 bulan. Sukma mulai merasa kelelahan karena perutnya yang besar. Amanda pun semakin memperhatikan kesehatan Sukma.
Begitupun dengan Gilang yang kini lebih perhatian pada Sukma. Terkadang Amanda merasa cemburu karena ia melihat suaminya lebih memperhatikan wanita lain selain dirinya. Namun Amanda berusaha untuk bersikap biasa dihadapan Gilang.
"Ini makanlah buah ini Sukma, buah-buahan sangat bagus bagi wanita hamil," ujar Gilang yang menyodorkan beberapa potong buah didalam piring kecil.
"Terima kasih," tukas Sukma yang sedang duduk diruang tamu dan segera mengambil piring itu dari tangan Gilang.
"Ya sama-sama," jawab Gilang datar. Meski ia memperhatikan Sukma, namun tidak ada senyuman di wajahnya. Gilang masih saja bersikap dingin.
Disaat yang bersamaan Amanda yang baru keluar dari kamarnya memperhatikan Gilang yang sedang memberikan buah-buahan pada Sukma. Namun ia pura-pura tidak memperhatikannya.
"Aku hanya memberikan buah-buahan saja pada Sukma," ujar Gilang yang merasa tidak enak pada Amanda.
__ADS_1
"Ya tidak apa-apa," timpal Amanda yang segera bergegas menuju dapur. Meski Amanda mengatakan tidak apa-apa, namun tetap saja didalam hatinya Amanda merasa sangat cemburu. Entah mengapa tiba-tiba saja mata Amanda berkaca-kaca.
"Ada apa denganku, kenapa rasanya sedih sekali melihat Gilang memberikan perhatiannya kepada Sukma. Padahal dia hanya memberikan sepiring buah-buahan," gumam batin Amanda yang kini duduk di meja makan.
Untuk lebih menenangkan hatinya, Amanda segera mengambil air minum dan meneguknya sampai habis.
"Maafkan aku Amanda," ujar Gilang yang tiba-tiba saja datang dan menghampiri Amanda.
"Minta maaf karena apa? Kamu tidak salah apa-apa," tukas Amanda.
"Ah tidak, aku tidak apa-apa. Ya sudah kalau begitu aku mau mandi dulu," timpal Amanda yang segera bergegas menghindari Gilang.
"Aku tahu Amanda kamu pasti sedang sedih," gumam batin Gilang.
__ADS_1
Mencoba mengerti dengan keadaan Amanda, Gilang berusaha membujuk Amanda. Gilang membuatkan sarapan untuk Amanda. Gilang tahu jika Amanda pasti merasa cemburu karena sikapnya kepada Sukma.
Untuk menyenangkan hatinya Gilang pun mencoba menghubungi ibunya agar Amanda bisa berbicara dengan ibunya. Dengan begitu Amanda pasti akan merasa bahagia sebab sudah lama Amanda tidak berbicara dengan ibunya.
Gilang pun segera mengambil ponselnya diatas nakas. Dia mencoba melakukan panggilan video agar Amanda bisa melihat ibunya secara langsung.
"Aku yakin Amanda pasti akan merasa senang," gumam batin Gilang yang tersenyum simpul saat ia menunggu panggilannya diangkat oleh ibu mertuanya.
Beruntung tak berapa lama panggilan itu tersambung. Gilang menanyakan kabar ibunya dan juga ayah mertuanya, setelah ia selesai berbicara dengan ibu mertuanya, Gilang pun memanggil Amanda.
"Amanda, ini ada telpon dari ibu," pekik Gilang sambil mencari keberadaan istrinya.
Mendengar hal itu membuat Amanda merasa sangat senang.
__ADS_1
"Apa? Ibu menelpon? Wah rasanya sudah lama sekali tidak berbicara dengan ibu," ujar Amanda yang tiba-tiba terperanjat. Amanda yang awalnya murung dan terlihat sedih, kini Amanda terlihat begitu bahagia.
Amanda begitu antusias saat berbicara dengan ibunya. Begitu banyak hal yang ia bicarakan bersama ibunya. Begitupun dengan ibunya yang merasa sangat bahagia saat menelpon Amanda. Mereka berdua begitu bahagia dan membicarakan banyak hal saat video call berlangsung.