Bukan Rahim Pinjaman

Bukan Rahim Pinjaman
56. Tamat


__ADS_3

Beberapa bulan pun berlalu, Sukma dan Reza menjalani hari-hari mereka dengan bahagia. Bu Lydia yang awalnya tidak suka kepada Sukma pun kini sudah berubah menjadi lebih baik. Seiring berjalannya waktu Lydia semakin menyadari bahwa tidak ada alasan baginya untuk membenci Sukma.


Di tambah saat Lydia sakit, Sukma lah yang selalu ada merawat Lydia. Sukma begitu baik dan tulus merawat Lydia. Karena hal itulah yang membuat Lydia semakin menyadari kesalahannya.


"Terima kasih Sukma, maafkan ibu yang selama ini selalu bersikap tidak baik kepadamu," lirih Lydia saat Sukma datang ke kamarnya membawakan semangkuk bubur.


"Tidak apa bu, ini sudah kewajibanku sebagai seorang anak. Tidak penting membahas yang dulu-dulu, yang terpenting saat ibu sudah menerimaku," ujar Sukma sambil tersenyum.


"Iya nak sekali lagi maaf kan ibu," tukas Lydia lagi.


"Iya bu, Sukma sudah memaafkan ibu," ujar Sukma.


"Kalau begitu Sukma ke dapur dulu ya bu," pamit Sukma setelah selesai menyuapi ibunya.


Namun saat Sukma baru saja berdiri, tiba-tiba kepalanya merasa pusing. Sukma memegangi kepalanya dan merasa mual.


khuwek.. khuwek..


"Kamu kenapa nak?" tanya Lydia yang begitu khawatir saat melihat menantunya terlihat begitu pucat.

__ADS_1


"Ga tau bu tiba-tiba kepalaku pusing. Aku ke kamar mandi dulu bu," pamit Sukma yang segera bergegas ke kamar mandi.


Lydia pun segera mengekor di belakang Sukma.


khuwek.. khuwek..


Terdengar suara Sukma yang kembali muntah saat tiba washtafel. Lydia yang mengekor dari belakang segera memijit-mijit bahu Sukma.


"Reza, Reza," pekik Lydia.


"Ada apa bu?" jawab Reza yang baru saja turun dari kamarnya.


"Baik bu," jawab Reza yang segera membopong Sukma ke dalam kamarnya.


"Mas, aku malu. Ga usah di gendong," ujar Sukma," dengan tersipu.


"Ga pa-pa, kamu diem aja," timpal Reza sambil tetap membopong istrinya menuju kamar.


Sementara Lydia hanya tersenyum menyaksikan tingkah anaknya. Lydia jadi teringat akan masa lalunya bersama suaminya yang selalu membopongnya menuju kamar.

__ADS_1


Sesampainya dikamar Sukma segera bersiap dan mengganti pakaiannya. Tidak butuh waktu yang lama, Sukma hanya memakai bedak dan lipstik seadanya. Beberapa menit kemudian akhirnya mereka segera bergegas menuju rumah sakit.


"Kamu sudah siap sayang? Ayo biar aku gendong," ajak Reza.


"Ah tidak usah mas, aku bisa jalan sendiri," jawab Sukma yang mulai melangkahkan kakinya secara perlahan. Sementara Reza dengan spontan berada disamping Sukma memegangi istrinya.


Sesampainya dibawah Reza segera mengeluarkan mobilnya dan bergegas menuju rumah sakit terdekat. Beberapa saat kemudian sampailah mereka di rumah sakit dan Sukma segera diperiksa.


"Tidak perlu ada yang khawatirkan, selamat istri anda sedang mengandung," ujar dokter setelah memeriksa Sukma.


"Apa? Beneran dok?" tanya Reza yang masih tidak percaya.


9 bulan kemudian akhirnya Sukma melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik, putih juga bersih. Keluarga Reza merasa sangat bahagia atas kelahiran bayi mereka. karena semenjak kehadiran bayi Sukma suasana di rumah Reza begitu ramai oleh tangisan bayi.


Padahal sudah sangat lama orang tua Reza sangat menantikan seorang cucu. Kini keinginan mereka sudah terkabul dan akhirnya mereka semua mendapatkan kebahagiaan yang selama ini mereka nantikan.


"Terima kasih Sukma karena kamu memberikan aku anak yang cantik sepertimu," ujar Reza.


"Sama-sama mas," tukas Sukma.

__ADS_1


Akhirnya mereka hidup dengan bahagia untuk selamanya.


__ADS_2