Bukan Rahim Pinjaman

Bukan Rahim Pinjaman
16. Merasa Bersalah


__ADS_3

Setelah tahu bahwa dirinya tidak bisa hamil lagi, Amanda selalu memikirkan kata-kata dr. Helen. Kata-katanya selalu menggema ditelinganya. Termasuk saat ia sedang tertidur pulas. Tiba-tiba saja kata-kata itu terngiang dikepalanya.


"Dia tidak akan bisa hamil lagi. Dia tidak akan pernah bisa punya anak lagi."


"Tidak!!," pekik Amanda yang terbangun dari tidurnya. Padahal sebelumnya ia masih tidur dengan sangat pulasnya. Namun tiba-tiba saja kata-kata itu terngiang ditelinganya.


"Ada apa sayang? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Gilang yang merasa terkejut karena teriakan istrinya disebelahnya.


"Ti, tidak. Aku hanya bermimpi buruk saja," jawab Amanda dengan nafas yang terengah.


Gilang pun segera mengambil air minum untuk Amanda. Dan Amanda langsung meneguknya sampai habis.


"Sudahlah sebaiknya kamu tidur lagi, ini masih larut malam," ujar Gilang yang kembali tertidur setelah ia memberikan minum kepada Amanda.


Amanda hanya mengangguk mendengar perintah suaminya. Namun tetap saja pikirannya tidak tenang karena masih memikirkan tentang anaknya. Amanda merasa bersalah karena kebahagiaan keluarganya harus sirna. Setelah beberapa lama terjaga akhirnya Amanda tertidur juga.


Keesokan harinya. Tak terasa hari sudah siang. Gilang sudah bangun sejak pagi karena ia harus bekerja, sedangkan Amanda masih tertidur karena ia tidur menjelang subuh. Rasanya tidak sabar bagi Gilang untuk membangunkan istrinya.


Akhirnya dia berangkat ke kantor tanpa berpamitan kepada istrinya. Saat baru sampai diteras rumah, Gilang berpapasan dengan dokter pribadi kakeknya yaitu dr. Axel. Gilang pun menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya kepada dr. Axel tapi dengan catatan ia tidak boleh menceritakan semua ini kepada seluruh keluarganya.


Axel menyetujui nya karena walau bagaimanapun Axel sudah menganggap Gilang seperti anaknya sendiri. Begitupun dengan Gilang yang sudah nyaman menceritakan masalah pribadinya kepada Axel.


Setelah Gilang menjelaskan panjang lebar, akhirnya Axel memberikan pendapatnya. Dia memberikan saran agar Gilang mencari ibu pengganti. Tapi setelah bayi itu lahir, Gilang akan memberikannya cukup uang dan memberikan anaknya.


"Apa om? ibu pengganti? Aku masih kurang paham," tanya Gilang dengan menautkan kedua halisnya.


"Jadi kamu akan menitipkan benihmu di rahimnya, setelah bayi itu lahir kamu akan mendapatkan bayi itu dan dia akan mendapatkan uangnya," jelas dr. Axel.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan keluargaku?" tanya Gilang lagi.


"Kalian harus pindah keluar negeri untuk beberapa waktu, setelah bayi itu lahir baru kalian bisa kembali lagi kesini."


Mendengar penjelasan dr. Axel kini Gilang mulai paham dan mengerti. Namun rasanya dia sangat mencintai Amanda dan tidak ada niat sedikitpun untuk mengkhianatinya. Setelah dr. Axel menjelaskan panjang lebar akhirnya ia segera bergegas masuk karena harus memeriksa kakek Bhaskara.


Setelah dr. Axel masuk ke dalam rumah, Gilang segera bergegas pergi ke kantornya. Gilang pergi mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Beberapa saat kemudian akhirnya Gilang tiba dikantornya.


Didalam ruangannya Gilang teringat kembali akan kata-kata dr. Axel, namun rasanya ia tidak bisa melakukan hal itu. Gilang benar-benar tidak mau melakukannya. Mungkin ia akan memilih mengadopsi saja jika harus melakukan hal itu.


"Tidak, aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku sangat mencintai Amanda," gumam batin Gilang yang merasa bingung sendiri dengan apa yang harus dilakukannya. Namun Gilang juga tidak mau mengecewakan kakeknya, jika ia sampai mengadopsi anak apa yang harus ia katakan kepada keluarganya.


Sementara ditempat lain, Amanda baru terbangun dari tidurnya.


"Apa? Ini sudah siang, kenapa Gilang tidak membangunkan aku?" gumam batin Amanda sambil memegangi kepalanya. Setelah hampir semalaman tidak bisa tidur, membuat kepala Amanda menjadi pusing karena ia kurang cukup tidur.


Agar tidak terlalu pusing dan lelah, Amanda akhirnya bergegas mandi agar merasa lebih segar. Hanya beberapa menit saja akhirnya Amanda selesai mandi. Setelah mandi dan memakai pakaian, kini Amanda duduk dimeja rias.


Amanda tiba-tiba berfikir agar suaminya bisa menikah lagi untuk mendapatkan keturunan. Meski dia sangat mencintai suaminya, tapi ia harus melakukan hal ini untuk kebahagiaan keluarganya.


"Ya mungkin itu yang harus aku lakukan. Aku harus meminta Gilang untuk menikah lagi agar dia memiliki keturunan," gumam batin Amanda dengan mata yang berkaca-kaca.


Meski Amanda tidak pernah mau suaminya menikah lagi, tapi ia terpaksa harus melakukan hal ini. Terutama kakek, dia sangat menginginkan seorang cicit didalam keluarga ini.


Selesai menyisir rambut, Amanda bergegas kebawah untuk sarapan. Namun disaat bersamaan dr. Axel baru saja keluar dari kamar kakeknya.


"Loh dok, ada apa pagi-pagi sekali sudah berada disini?" tanya Amanda sambil menautkan kedua halisnya.

__ADS_1


"Itu, saya baru selesai memeriksa kakek. Beliau drop lagi, sekarang sedang beristirahat karena sudah diberi suntikan dan obat," jelas dr. Axel.


Mendengar hal itu membuat Amanda semakin yakin dengan keputusannya. Kondisi kakek yang seperti ini pasti ada hubungannya dengan dirinya. Kakek pasti masih berharap agar ia masih bisa memiliki cicit.


Tapi jika dia tahu yang sebenarnya mungkin kakek akan kecewa.


"Ada apa Amanda? Kenapa terdiam?" tanya dr. Axel yang tiba-tiba saja melihat Amanda melamun.


"Ti, tidak dok. Aku tidak apa-apa," jawab Amanda gagap. Rasanya sangat tidak mungkin jika ia harus menceritakan yang sebenarnya.


"Kalau begitu saya permisi," pamit dr. Axel.


"Iya dok, silahkan."


Setelah kepergian dr. Axel, Amanda bergegas masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi kakeknya.


"Maafkan aku kek, aku tidak bisa memberikanmu cicit. Aku tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk keluarga ini," gumam batin Amanda yang melihat kakek tertidur dengan pulasnya. Tak terasa air matanya pun turun membasahi pipinya.


Rasanya tidak sanggup bagi Amanda jika melihat kakeknya seperti ini. Amanda benar-benar tidak tega. Merasa sedih Amanda pun segera keluar dari kamar kakeknya.


"Amanda, sedang apa nak?" tanya Risma yang melihat menantunya sedang menyeka air matanya.


"Tidak apa-apa bu, aku hanya melihat kondisi kakek saja. Tapi rasanya tidak tega, apa kakek sakit karena aku bu. Aku tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk keluarga ini?" ujar Amanda yang merasa sangat bersalah karena kakeknya seperti ini.


"Tentu saja tidak nak. Jangan pernah beranggapan seperti itu. Kakek sakit memang kondisi tubuhnya sedang tidak fit, kakek pasti akan seperti itu jika kurang beristirahat," tukas Risma yang menjelaskan panjang lebar.


"Tapi bu," timpal Amanda lagi.

__ADS_1


"Tidak ada tapi, tapi. Sekarang kita sarapan ya, kamu pasti belum makan apa-apa hari ini," ajak Risma yang menggandengnya menuju dapur.


Amanda yang masih dalam keadaan sedih pun hanya bisa mengekor dibelakang ibu mertuanya.


__ADS_2