
Gilang dan Amanda akhirnya sepakat untuk mencari ibu pengganti. Meski merasa berat tapi Amanda akhirnya setuju dengan apa yang dikatakan dr. Axel. Mulai saat ini Gilang harus mulai mencari wanita yang ingin menjadi ibu pengganti itu.
"Tapi kemana aku harus mencari wanita itu. Bagaimana aku bisa menemukan wanita seperti itu. Wanita yang hanya menjadi ibu pengganti," gumam batin Gilang.
Keesokan harinya Gilang mulai mencari ibu pengganti. Dia menanyakan kepada beberapa temannya. Meski cukup malu tapi Gilang berusaha tetap menanyakan informasi itu atas nama orang lain.
Setelah hampir seharian Gilang berkeliling mencari wanita pengganti itu akhirnya dia beristirahat dan mencoba menghubungi temannya.
Tutt... tutt..
"Halo Ada apa mas bro? Kenapa pagi-pagi begini sudah menelpon?" tanya Panji di sebrang sana. Sejak tadi pagi Gilang sudah mencari informasi tentang ibu pengganti kepada temannya yang lain, namun tak kunjung ketemu.
"Ah tidak, aku tidak apa-apa. Hanya saja ada sesuatu yang mengganggu pikiranku," jawab Gilang sambil membuang nafasnya kasar.
"Apa yang membuat pikiranmu terganggu Gilang?" tanya Panji lagi yang menautkan kedua halisnya.
"Temanku, dia memiliki masalah yang sangat rumit. Dia sedang mencari ibu pengganti untuk mengandung anaknya," jawab Gilang lagi yang merasa malu harus menceritakan tentang yang sebenarnya. Meski lewat telpon tapi ia merasa bingung harus menceritakannya mulai dari mana.
"Apa? Ibu pengganti? Memangnya kenapa dia mencari ibu pengganti? Apa istrinya itu tidak bisa memberikannya keturunan?" tanya Panji yang merasa terkejut.
"Justru itu masalahnya, istrinya tidak bisa hamil lagi dan tidak bisa memiliki seorang anak lagi. Tapi tidak mau mengadopsi anak orang lain, makanya dia mencari ibu pengganti," jelas Gilang lagi yang berusaha menjelaskan semuanya.
Untuk beberapa saat Panji terdiam. Dia mencoba berfikir dimana mencari wanita seperti itu. Seingatnya temannya dulu pernah bermain dengan wanita seperti itu. Panji akhirnya menghubungi temannya, dia mencoba bertanya tentang wanita itu.
Tak berapa lama, akhirnya Panji mendapatkan informasi dari temannya itu. Setelah mendapat informasi akhirnya Panji memberitahukan tentang wanita itu kepada Gilang. Panji memberitahukan jika Gilang bisa menemukan wanita itu disebuah club malam.
Setelah mengakhiri panggilan telponnya, Panji segera memberitahukan Gilang bahwa dia bisa menemukan wanita itu disuatu tempat," ujar Panji panjang lebar.
__ADS_1
"Wah apa benar? Lalu dimana?" tanya Gilang yang mulai penasaran.
"Kamu bisa menemui wanita itu di sebuah club malam di daerah x. Dia bernama Sukma Permadi, dia pasti akan setuju dengan tawarannya," tambah Panji.
"Semoga saja dia mau. Terima kasih bro," timpal Gilang sesaat sebelum mengakhiri panggilannya.
"Sama-sama mas bro," jawab Panji.
Gilang ingin segera pulang dan membicarakan semua ini kepada istrinya. Gilang ingin istrinya tahu jika ia akan menemui wanita itu. Gilang berfikir jika tidak ada yang mau ia tutup-tutupi, ia ingin jika semua yang dilakukannya diketahui istrinya.
Sesampainya dirumah Gilang segera menceritakan semuanya kepada Amanda. Amanda yang mendengar hal itu merasa tidak keberatan. Amanda justru memberikan saran agar Gilang segera mencari wanita itu.
Mendengar hal itu dari mulut Amanda membuat Gilang sedikit tenang. Pada malam harinya Gilang segera bergegas menuju club yang tadi diberi tahu Panji. Namun pada saat Gilang akan keluar tiba-tiba saja ibunya keluar dari kamar.
"Kamu mau kemana nak malam-malam begini?" tanya Risma yang melihat waktu yang sudah hampir larut malam.
"Itu bu, aku mau beli sesuatu," jawab Gilang gagap.
"Oh ya sudah hati-hati," ujar Risma yang segera bergegas ke dapur untuk mengambil minum.
Gilang pun segera bergegas pergi, dia merasa beruntung karena akhirnya Amanda datang untuk membantunya. Gilang mengacungkan jempolnya sesaat sebelum dia pergi. Sementara Amanda hanya tersenyum simpul ke arah Gilang .
Gilang segera pergi menuju mobilnya, ia segera bergegas menuju alamat yang sudah diberitahukan temannya Panji. Suasana dijalan raya tidak begitu ramai karena hari memang sudah larut. Suasana dijalan tampak sepi, hanya ada satu, dua pedagang di pinggir jalan.
Setelah hampir satu jam Gilang mencari alamat, akhirnya dia menemukan alamat club itu. Suasana club itu sangat ramai oleh para penggunjung. Disana terdapat wanita-wanita cantik yang berpakaian seksi.
Disana juga banyak terdapat laki-laki yang mencari wanita penghibur. Sebenarnya Gilang sangat tidak suka melihat tempat seperti ini. Rasanya ia tidak kerasan berada ditempat ini. Namun demi kebahagiaan keluarga apapun akan ia lakukan.
__ADS_1
Termasuk mencari wanita itu, wanita yang sebelumnya Panji bicarakan. Sukma Permadi ialah wanita yang sedang Gilang cari. Hampir seluruh tempat Gilang datangi dan jelajahi. Dia mencari nama Sukma Permadi kepada siapapun yang ia temui.
"Permisi, apa anda mengenal Sukma Permadi?" tanya Gilang kepada seseorang yang baru ditemuinya dengan tubuh yang sempoyongan karena setengah mabuk.
"Apa? Apa? Bahaya nih," ujar seseorang itu yang berjalan ke sisi kiri dan ke sisi kanan kiri.
"Apa anda kenal Sukma Permadi?" tanya Gilang sekali lagi. Kalo ini dengan nada yang sangat tinggi.
"Tidak, tidak aku tidak mengenalnya," jawab seseorang itu dengan nada ketus dan berlalu meninggalkannya.
Meski hampir berputus asa tapi Gilang mencoba masuk ke dalam untuk mencari wanita itu. Saat masuk ke dalam dengan sangat kebetulan nama Sukma Permadi terdengar oleh Gilang.
"Beri tepuk tangan untuk wanita yang cantik ini, Sukma Permadi," ujar seorang pembawa acara diatas panggung. Ternyata Sukma adalah seorang penyanyi yang bersuara merdu.
"Jadi itu yang namanya Sukma Permadi," gumam batin Gilang yang melihat wanita turun dari atas panggung. Wanita cantik yang berpakaian cukup seksi dan bersuara merdu.
Dengan cepat Gilang pun segera menemui Sukma. Meski ragu-ragu dan canggung Gilang mencoba berbicara kepadanya.
"Tunggu!" teriak Gilang dari arah belakang.
"Ya, anda siapa? Apa aku mengenalmu?" tanya Sukma yang menautkan kedua halisnya seraya memperhatikan wajah Gilang. Dia mencoba mengingat apa mereka pernah bertemu atau tidak.
"Aku Gilang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Aku sebenarnya membutuhkan pertolonganmu," jawab Gilang yang berusaha menjelaskan maksud kedatangannya.
"Tapi maaf aku sedang sibuk," jawab Sukma dan berlalu meninggalkan Gilang.
"Aku mohon tolong dengarkan aku dulu, aku sangat membutuhkan pertolonganmu," ujar Gilang yang kini berada dihadapan Sukma.
__ADS_1
Melihat Gilang berada dihadapannya membuat Sukma terdiam. Sukma memperhatikan Gilang dari bawah hingga ke atas. Menurutnya Gilang terlihat tampan dan gagah, serta dia juga terlihat seperti orang kaya.
"Wah tapi sepertinya dia orang kaya aku harus bisa mendapatkan banyak uang darinya," gumam batin Sukma yang tersenyum simpul.