
Beberapa tahun pun berlalu, kini Sukma sudah menginjak di semester akhir sekolahnya. Hanya tinggal beberapa bulan lagi Sukma akan menyelesaikan Sekolah Menengah Atasnya. Itu artinya sebentar lagi ia bisa mulai bekerja.
Meski cita-cita Sukma ingin menjadi seorang sarjana, tapi semua itu hanyalah sebuah mimpi. Sukma tidak mungkin jika harus selalu merepotkan ibunya. Sudah cukup ibunya yang selama ini membiayai sekolah Sukma.
"Tidak lama lagi bu aku akan menyelesaikan sekolahku. Setelah lulus sekolah nanti aku akan langsung bekerja," ujar Sukma.
Seperti biasa selepas pulang sekolah Sukma segera mengganti pakaian dan bergegas makan siang. Setelah itu ia cepat membantu pekerjaan ibunya sebagai tukang cuci keliling. Meski penghasilannya tidak seberapa, tapi itu cukup untuk makan sehari-hari bagi mereka berdua dan bekal sekolah Sukma.
Sukma beruntung karena berkat kecerdasannya, ia selalu mendapatkan beasiswa dari sekolah. Bahkan sejak Sekolah Dasar hingga sekarang pun Sukma masih bergantung pada beasiswa.
Entah apa yang akan terjadi jika Sukma tidak mendapatkan beasiswa, mungkin ia tidak akan pernah bisa sekolah karena biaya sekolah saat ini sangatlah mahal. Darimana ibunya akan membiayai sekolah Sukma.
"Tapi ibu ingin kamu melanjutkan sekolah nak, minimal jadilah seorang sarjana agar kehidupan mu menjadi lebih baik lagi. Uhuk.. uhuk.."
__ADS_1
Terdengar ibunya batuk saat sedang berbicara.
"Loh ibu kenapa? Ibu sedang sakit?" lirih Sukma.
"Tidak nak, ibu tidak apa-apa. Ibu hanya batuk biasa saja," tukas sang ibu.
Semenjak suaminya meninggalkan Sinta dan juga anaknya ia menjadi sering sakit-sakitan. Namun dihadapan Sukma, Sinta tidak pernah menunjukan tanda-tanda jika ia sedang sakit. Dia selalu pura-pura kuat dihadapan anaknya.
Sebagai seorang ibu Sinta harus luat dan tidak boleh terlihat lemah, karena jika bukan dia, siapa lagi yang akan merawat Sukma. Mendengar ibunya yang terbatuk Sukma segera bergegas mengambilkan air putih ke dapur.
"Terima kasih nak, ibu sangat beruntung karena ibu mendapatkan putri seperti dirimu," timpal Sinta sambil tersenyum simpul.
Entah mengapa rasanya sangat sedih saat melihat ibunya tersenyum. Tidak biasanya Sukma merasakan hal seperti ini. Tiba-tiba saja Sukma merasa jika ibunya akan pergi jauh untuk meninggalkannya.
__ADS_1
"Ibu kenapa? Apa ibu sedang sakit? Kita pergi ke dokter ya?" ajak Sukma yang kini melihat ibunya terlihat begitu lemas. Sukma merasa jika wajah ibunya terlihat begitu pucat. Padahal ibunya selalu terlihat segar bugar, tapi kenapa kali ini terlihat begitu berbeda.
"Ah tidak nak, ibu tidak apa-apa. Sini nak tidur dipangkuan ibu, rasanya ibu ingin membelai rambut mu," tukas Sinta.
Sukma pun segera bergegas tidur dipangkuan ibunya. Tangan hangat itu begitu terasa lembut. Perlahan ibunya mengusap kepala Sukma dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan ibu nak, ibu belum bisa membahagiakan mu," lirih Sinta.
"Tidak bu, justru Sukma yang seharusnya meminta maaf karena selama ini Sukma selalu merepotkan ibu," timpal Sukma.
Semakin lama belaian ibunya semakin hangat. Hingga tak terasa Sukma pun tertidur dipangkuan ibunya.
"Maafkan ibu nak, ibu sudah tidak sanggup lagi. Ibu yakin kamu anak yang kuat," lirih Sinta sambil mengusap anaknya berkali-kali dan tak lupa ia pun mengecup pucuk kepala ibunya.
__ADS_1
Ibunya yang bersandar di tembok, kini tertidur begitu pulasnya. Dia terlihat begitu tenang saat sedang tertidur.