
Semua keluarga tampak senang saat melihat kehadiran sang jabang bayi. Terutama kakek Bhaskara, sudah sejak lama beliau menantikan saat-saat seperti ini.
"Cucuku," ujar kakek saat menghampiri Amanda yang sedang berbaring diatas ranjang.
"Iya ini cucu kakek," timpal Amanda yang tersenyum ke arah kakek.
Semua orang tampak mengerumuni Amanda dan bayinya. Kakek mendoakan bayinya agar ia tumbuh menjadi anak yang sehat dan panjang umur. Risma dan Silvia pun bergantian menggendong cucu mereka.
"Cucuku tampan sekali," ujar Risma.
"Iya ya, sini gantian aku juga mau gendong cucuku," timpal Silvia yang segera meraih cucunya.
"Aduh, hati-hati jeng nanti jatuh loh!" tukas Risma yang merasa kesal karena cucunya direbut begitu saja oleh Silvia.
"Hehe maaf, habisnya aku sudah tidak sabar menggendong cucuku sih."
Seluruh keluarga pun tersenyum menyaksikan tingkah mereka berdua. Begitupun dengan Gilang yang hanya tersenyum saat melihat mereka sedikit berselisih. Namun semua orang paham bahwa mereka hanya bercanda saja.
__ADS_1
"Oiya, Sukma dimana?" tanya Risma yang celingukan mencari Sukma.
"Sukma ada dikamarnya. Kasihan dia karena bayinya tidak bisa diselamatkan," timpal Alex yang terpaksa harus berbohong.
"Kasihan sekali dia, aku ingin menemuinya," pamit Risma yang segera keluar dari ruangan Amanda.
"Aku juga ikut," timpal Silvia yang segera mengekor dibelakang Risma.
Sesampainya dikamar Sukma, Risma dan Silvia segera bergegas masuk yang disusul oleh keluarga yang lain. Dikamar itu hanya ada Sukma seorang diri yang sedang terdiam.
"Yang sabar Sukma, Amanda juga dulu pernah mengalami hal sepertimu. Tapi lihatlah Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk memiliki anak lagi," tukas Risma yang segera duduk disamping Sukma.
"Iya Sukma, kamu yang sabar ya Tuhan pasti merencanakan yang terbaik untukmu," timpal Silvia.
"Semua hanya tentang waktu, Tuhan pasti akan memberikan diwaktu yang tepat," tambah Silvia.
"Iya tante, terima kasih," ucap Sukma.
__ADS_1
Setelah beberapa jam beristirahat Sukma dan Amanda pun diperbolehkan untuk segera pulang. Keesokan harinya Sukma berpamitan kepada seluruh keluarga untuk pergi dari kota ini.
"Oiya Amanda, aku harus segera pamit karena tugasku sudah selesai," pamit Sukma yang langsung memeluk Amanda.
"Iya Sukma terima kasih banyak karena berkat dirimu kami bisa merasakan kebahagiaan ini."
"Oiya, Gilang akan mengantarmu ke bandara," tambah Amanda.
"Ya Amanda sama-sama, aku juga merasa sangat bahagia dan beruntung bisa bertemu dengan keluarga kalian," ujar Sukma yang kini mulai meninggalkan kamar Amanda.
Saat Sukma baru keluar dari kamar Amanda, seluruh keluarga sedang berkumpul diruang tamu. Sukma pun akhirnya berpamitan kepada mereka satu persatu. Selesai berpamitan dengan semuanya kini Sukma dan Gilang segera bergegas pergi menuju bandara.
Gilang mengeluarkan mobilnya yang mewah, sementara Sukma berada disamping Gilang. Tak terasa satu jam kemudian akhirnya mereka tiba di bandara.
"Terima kasih Gilang karena sudah mengantarku," ujar Sukma membuka pembicaraan.
"Seharusnya aku yang berterima kasih Sukma, karena berkat dirimu aku dan Amanda akhirnya memiliki anak. Ini hadiah untukmu, didalamnya ada cek atas namamu dan ini kunci rumah untukmu. Jika aku memberikan seluruh harta ku maka itu tidak akan membalas semua kebaikan mu," ujar Gilang.
__ADS_1
"Tidak Gilang, jika aku menerima semua ini itu sama artinya dengan aku menjual anakku. Aku sudah membawa hadiah ku," tukas Sukma sambil menunjukan foto dirinya bersama keluarga Gilang.
Gilang pun hanya tersenyum dan mengecup pucuk kepala Sukma sesaat sebelum ia pergi. Sementara Sukma tidak mengira jika Gilang akan melakukan hal itu karena selama ini Sukma selalu menantikan hal itu.