Bukan Rahim Pinjaman

Bukan Rahim Pinjaman
32. Kesedihan Sukma


__ADS_3

Tak terasa sudah beberapa hari keluarga Amanda dan Gilang tinggal bersama di negeri orang. Besok mereka sudah sepakat untuk pulang ke tanah air bersama Amanda dan juga Gilang.


Seluruh keluarga selalu berkumpul diruang tamu. Sukma yang baru merasakan hal seperti ini merasa sangat senang. Selama hidupnya baru kali ini Sukma merasakan kehangatan saat berkumpul bersama keluarga.


"Oiya Sukma besok aku harus mengantarmu pulang karena kami akan pulang ke tanah air," celetuk Gilang saat semua orang sedang berkumpul.


"Apa yang kamu katakan Gilang, bukankah suaminya menitipkan dia kepadamu? Lalu jika dia melahirkan siapa yang akan menemaninya nanti. Sudah biarkan Sukma ikut bersama kita," tukas kakek Bhaskara yang merasa tidak tega jika harus meninggalkan Sukma sendirian.


"Tapi kek."


"Pokoknya tidak ada tapi-tapi, Sukma akan ikut pulang bersama kita. Seperti kakek menjaga Amanda, kakek juga akan menjaga Sukma seperti cucu kakek sendiri," tegas kakek lagi.

__ADS_1


Amanda yang berdiri disamping Gilang pun seketika memeluknya dari samping. Amanda seolah mengerti dengan apa yang dikatakan Gilang kepada kakek. Sementara Sukma begitu terharu saat kakek berkata seperti itu hingga matanya berkaca-kaca.


Selama hidupnya Sukma tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Ayahnya dulu meninggalkan Sukma dan ibunya saat ia masih kecil hanya karena demi wanita lain.


Flashback On


"Kamu mau pergi kemana mas? Jangan tinggalkan kami berdua, aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi," ujar Sinta saat melihat suaminya sedang membereskan beberapa bajunya ke dalam sebuah tas yang cukup besar.


"Sudah lepaskan aku. Aku akan pergi dari sini. Aku sudah tidak tahan hidup seperti ini, aku akan pergi dengan wanita yang cantik dan juga kaya," pekik Gunawan yang tidak menghiraukan anaknya sama sekali meski ia sedang menangis.


Sebagai seorang anak yang berumur 7 tahun, Sukma sangat mengerti jika ayahnya pasti akan meninggalkan dirinya dan juga ibunya. Meski Sukma tahu bahwa orang tuanya selalu bertengkar tapi Sukma tidak mau jika harus kehilangan salah satu diantara mereka.

__ADS_1


Sukma berusaha keras menahan kepergian ayahnya, namun apa daya tangan mungilnya tidak kuat menahan kepergian ayahnya.


"Mas aku mohon demi anak kita," ujar Sintia sekali lagi. Kini ia berlutut dihadapan suaminya. Namun ternyata Gunawan juga tidak menghiraukan tangisan istrinya yang sangat mencintainya.


"Tidak bisa, aku harus segera pergi. Kamu urus saja anakmu sendiri!" pekik Gunawan yang kini benar-benar pergi meninggalkan anak dan istrinya.


Sementara Sinta dan Sukma hanya bisa meratapi kepergian suaminya. Sinta begitu terpukul dengan semua kejadian ini. Belum lagi ia merasakan luka hati karena pengkhianatan suaminya, kini Sinta harus menerima kenyataan bahwa suami yang pernah sangat ia cintai ternyata tega meninggalkannya.


Sejak kepergian suaminya, Sinta harus berjuang seorang diri membesarkan putrinya. Bahkan semua pekerjaan ia lakukan hanya untuk bisa membiayai anaknya.


"Tidak apa-apa nak. Apapun yang terjadi kita bisa tetap menjalani hidup ini. Asal kamu selalu bersama ibu, ibu pasti akan selalu menjagamu," lirih Sinta sambil memeluk putri kesayangannya.

__ADS_1


Sukma pun menangis dipelukan ibunya. Sejak saat itu Sukma merasa begitu sakit hati. Sepanjang hidupnya ia tidak akan pernah bisa melupakan apa yang dilakukan ayahnya.


__ADS_2