Bukan Rahim Pinjaman

Bukan Rahim Pinjaman
34. Kehilangan Ibu


__ADS_3

Tak terasa Sukma tertidur dipangkuan ibunya. Sukma merasa pegal dan seketika terbangun. Namun saat Sukma terbangun, ia menyaksikan ibunya yang sedang tertidur pulas. Wajahnya begitu tenang dan damai.


"Ibu ikut tertidur juga," ujar Sukma seraya memegang pipi ibunya sambil tersenyum.


Namun disaat yang bersamaan seketika ibunya terjatuh ke samping. Spontan Sukma pun memanggil ibunya dengan panik.


"Bu, ibu! Ibu bangun bu," pekik Sukma yang merasa begitu panik.


Namun tetap saja tidak ada respon. Kini kulit ibunya terasa dingin. Tidak ada kehangatan saat ia membelai Sukma tadi. Sukma merasa semakin takut hingga akhirnya ia meminta tolong pada tetangga.


"Tolong! Tolong!" teriak Sukma yang kini berteriak diluar rumahnya.


"Ada apa nak?" tanya salah seorang tetangga yang kebetulan berada tidak jauh dari rumah Sukma.


"Tolong lihat ibu saya pak, ibu saya sejak tadi tertidur tidak bangun-bangun," lirih Sukma yang mulai berkaca-kaca. Perasaan itu semakin terasa, Sukma merasa takut jika ia akan kehilangan ibunya.

__ADS_1


Orang itu segera bergegas masuk ke dalam rumah Sukma. Dia lalu mengecek denyut nadi Sinta, dengan berat hati dia berkata, "ibumu sudah tiada nak."


"Apa? Tidak mungkin! Ibu, bangun bu!" pekik Sukma yang mengguncangkan tubuh ibunya. Sukma berharap jika ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Namun beberapa kali ia mencoba meyakinkan dirinya.


Sukma tidak pernah menyangka jika ibunya akan pergi secepat ini. Perasaan nya yang sejak kemarin tidak enak ternyata kini menjadi kenyataan. Sukma harus kehilangan ibunya disaat ia seperti ini.


Ayahnya yang tega meninggalkan Sukma dan ibunya, tapi kini ibunya juga telah pergi untuk selamanya.


"Yang sabar nak, sebaiknya kita segera makam kan jasad ibumu. Kasihan dia," timpal tetangga Sukma itu.


"Yang sabar Sukma, ibumu sudah tenang di alam sana," ujar tetangga yang lain saat masuk melayat ibunya.


Sukma hanya bisa menangis, menangis dan terus menangis. Tidak ada sanak saudara yang datang hari itu, karena Sukma tidak memikirkan hal itu. Dia benar-benar terpukul dan belum bisa berfikir dengan jernih.


Beberapa saat kemudian pemakan telah selesai dilakukan. Satu persatu tetangga yang ikut ke pemakaman kini telah pulang.

__ADS_1


"Yang sabar Sukma, kami pergi dulu," ujar Bu Rani tetangga Sukma sambil mengusap bahunya.


"Ayo kita pulang nak," ajak ibu-ibu yang lain.


"Saya masih ingin disini," jawab Sukma yang masih menangis di makam ibunya.


Tanpa berkata apa-apa lagi, semua tetangga pergi meninggalkan Sukma seorang diri. Tidak berapa lama datanglah seorang wanita yang memakai kacamata. Dia lah tante Helen, adik dari Sinta.


"Sukma," panggil Helen sambil membuka kacamatanya.


"Tante, ibu.." lirih Sukma yang kembali menangis dipelukan Helen.


"Aku tahu, tapi inilah takdir Sukma. Kita harus bisa menerima semua kenyataan ini. Tante tahu kamu anak yang kuat. Kamu pasti bisa melewati ini semua," tambah Helen yang kini membalas pelukan Sukma.


Dia berusaha menenangkan keponakannya itu. Beruntung dari seluruh keluarga, Helen lah yang datang menemani Sukma. Helen yang saat itu akan menemui kakaknya ternyata harus menerima kenyataan pahit jika ternyata kakaknya telah meninggal dunia.

__ADS_1


Helen tidak pernah mengira jika ia tidak akan pernah bertemu dengan kakaknya lagi.


__ADS_2