Bukan Rahim Pinjaman

Bukan Rahim Pinjaman
27. Tanda-Tanda Kehamilan


__ADS_3

Setelah kejadian beberapa hari kemarin membuat Sukma menjadi drop. Sukma merasa trauma karena takut Brian akan datang lagi. Gilang merasa bersalah karena ia meninggalkan Sukma sendiri di rumah.


"Maafkan aku Sukma, karena aku kamu menjadi seperti ini," lirih Gilang yang merasa ikut bersalah.


"Tidak apa-apa Gilang, ini semua bukan salahmu," timpal Sukma yang kini terbaring lemas ditempat tidur.


"Aku bawakan bubur untukmu Sukma," timpal Amanda yang baru saja masuk ke dalam kamar Sukma.


"Wah terima kasih Amanda, tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku jadi tidak enak," tukas Sukma.


"Tidak apa Sukma ini hanya bubur saja."


Khuwek... khuwek..


Ditengah-tengah perbincangan mereka tiba-tiba saja Sukma merasa mual.


"Kenapa Sukma?" tanya Amanda yang merasa ikut panik karena tiba-tiba saja Sukma mual.


"Tidak tahu Amanda, aku tiba-tiba merasa pusing dan mual," jawab Sukma.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita pergi ke dokter," timpal Gilang yang sama-sama merasa panik.


Merasa panik dan khawatir, akhirnya Gilang dan Amanda membawa Sukma pergi ke dokter untuk segera diperiksa. Walau bagaimanapun mereka harus bertanggungjawab jika Sukma kenapa-napa.


Meski awalnya Sukma menolak karena ia merasa tidak apa-apa, tapi karena Amanda terus membujuknya akhirnya Sukma mau ikut bersama mereka untuk diperiksa ke dokter. Sebelum pergi ke kantor, Gilang mengantar Sukma terlebih dahulu bersama Amanda.


Setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai disalah satu rumah sakit terdekat. Sukma segera mendapatkan pemeriksaan.


"Selamat pagi dokter," sapa Gilang saat memasuki ruangan dokter.


"Selamat pagi, silahkan duduk," tawar dokter itu.


"Ini dok teman saya tiba-tiba pusing dan mual," timpal Amanda sambil memegangi bahu Sukma.


Sukma segera berbaring untuk mendapatkan pemeriksaan dokter. Dokter pun tak lupa memeriksa urine Sukma agar dugaan nya benar. Setelah beberapa menit diperiksa akhirnya agar dokter itu tersenyum.


"Selamat anda sedang hamil," ujar dokter itu yang memberikan selamat kepada Sukma.


"Apa dok? Saya hamil?" tanya Sukma tak percaya saat mendengar kabar itu.

__ADS_1


Namun lain halnya dengan Gilang dan Amanda yang sangat merasa sangat senang dengan kabar ini.


"Akhirnya, selamat kamu akan menjadi seorang ibu," ujar Gilang yang segera memeluk Amanda.


"Selamat juga karena kamu akan menjadi seorang ayah," timpal Amanda.


Melihat aksi Amanda dan Gilang membuat dokter mengernyitkan dahinya. Dokter itu merasa heran karena justru Gilang dan Amanda lah yang merasa sangat bahagia.


"Permisi apa ini istri anda?" tanya dokter itu yang menautkan kedua halisnya.


"Bukan, dia hanya teman kami," jawab Gilang.


Mendengar itu membuat dokter itu menggeleng. Rasanya ada yang aneh diantara mereka bertiga. Namun dokter tak menghiraukannya.


"Saya akan memberikan resep untuk ibu hamil. Mohon pasien harus dijaga dan tidak boleh terlalu lelah," ujar dokter itu sambil memberikan selembaran kertas kecil.


"Baik dokter, terima kasih," tukas Gilang dan Amanda kompak.


Sementara Sukma hanya mengekor dibelakang meraka. Gilang dan Amanda merasa sangat bahagia karena akhirnya mereka akan menjadi orang tua yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Aku mohon tolong jaga anak ini baik-baik," ujar Amanda saat masuk ke dalam mobil.


"Baik Amanda, pasti aku akan menjaganya dengan baik," timpal Sukma.


__ADS_2