
Sukma yang mendapatkan panggilan dari bosnya itu segera bergegas menuju ruangannya. Meski sempat tidak enak hati karena perbincangan orang-orang tapi Sukma tetap mendatangi Reza.
Tok... tok...
"Silahkan masuk!" ujar Reza dari dalam ruangan itu.
"Bapak memanggil saya?" tanya Sukma sesaat sebelum ia duduk di kursi.
"Ya Sukma, silahkan duduk," jawab Reza.
"Ada apa bapak memanggil saya? Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Sukma yang menautkan kedua halisnya.
"Tidak, tidak. Justru saya memanggil kamu karena saya ingin mengangkat kamu sebagai sekretaris pribadi saya," jawab Reza.
"A, apa? Sekretaris? Tapi bagaimana bisa pak? Saya termasuk karyawan baru, bagaimana kata orang nanti," ujar Sheila yang merasa tidak enak hati jika menjadi sebagai seorang sekretaris. Sebagai karyawan yang baru sangat tidak mungkin jika Sukma akan naik jabatan secepat ini.
"Kenapa tidak mungkin? Saya liat kinerja kamu bagus, maka dari itu saya berani mengangkat kamu sebagai asisten pribadi saya," jelas Reza yang tetap pada pendiriannya.
__ADS_1
"Tapi pak," sanggah Sukma.
"Tidak ada tapi-tapi, pokoknya mulai besok kamu tidak boleh lagi menjadi seorang office girls. Tapi mulai besok kamu harus udah jadi asisten saya," tegas Reza penuh penekanan.
"Ba, baik pak," jawab Sukma yang mau tidak mau harus mengikuti perintah bosnya.
"Ada pertanyaan?" tanya Reza yang melihat Sukma masih terdiam didalam ruangannya.
"Ti, tidak pak. Kalau begitu saya permisi," pamit Sukma sesaat sebelum ia pergi meninggalkan ruangan Reza.
Namun Sukma tidak bisa berbuat apa-apa. Sukma juga tidak bisa menolak keinginan atasannya karena walau bagaimanapun ia harus tetap mentaati peraturan yang ada di kantor ini.
Hampir sepanjang jalan Sukma terus saja melamun.
"Sukma!" panggil Shelly yang baru saja melihat keberadaan Sukma.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu di panggil ke ruangan Pak Reza?" tanya Shelly yang sangat penasaran.
__ADS_1
"Aku, aku diminta Pak Reza untuk jadi sekretarisnya mulai besok," jawab Sukma ragu.
"Wah beneran? Selamat ya, aku ikut senang mendengarnya," timpal Shelly yang segera memeluk temannya karena merasa ikut bahagia.
"Tapi kenapa kamu malah sedih bukannya senang juga," tambah Shelly yang malah melihat temannya diam mematung saat ia memeluknya.
"Aku kan karyawan baru Shel, bagaimana bisa secepat ini naik jabatan," lirih Sukma yang merasa tidak enak sendiri.
"Loh kalau karyawan baru memangnya kenapa? Justru bagus dong!" timpal Shelly.
"Tapi apa kata orang nanti, kemarin aku pergi bareng Pak Reza jadi bahan omongan apa lagi besok," ujar Sukma sambil membuang nafasnya kasar.
"Ah jangan dengerin kata orang, cuma mereka yang iri saja yang tidak suka dengan pencapaian mu Sukma," timpal Shelly yang mencoba memberikan pemahaman kepada temannya Sukma.
Setelah berbicara dengan Shelly membuat Sukma merasa lebih baik. Sukma merasa jika yang dikatakan Shelly ada benarnya juga. Untuk apa dia lelah-lelah memikirkan pendapat orang lain.
Yang namanya orang hidup pasti akan selalu ada yang pro dan kontra. Merasa lebih baik Sukma pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Sukma mulai mengambil peralatan kebersihan ditempat biasa.
__ADS_1