Bukan Rahim Pinjaman

Bukan Rahim Pinjaman
14. Harus Kehilangan


__ADS_3

Tak berapa lama, Amanda pun tiba dirumah sakit terdekat. Amanda segera dilarikan ke ruangan Unit Gawat Darurat (UGD). Didalam ia ditangani oleh dokter kandungan dan beberapa suster. Hampir beberapa jam Amanda berada didalam ruangan.


Sementara Gilang dan seluruh keluarga menunggu Amanda diluar ruangan. Gilang tampak sedih karena tidak menyangka jika istrinya akan mengalami hal ini. Selain itu, kakek Bhaskara tak kalah sedih sebab dia sangat mencemaskan Amanda dan juga bayinya.


"Semoga kamu baik-baik saja nak," gumam batin kakek.


Risma pun segera menghubungi kedua orang tua Amanda. Meski tidak tega namun walau bagaimana pun Silvia harus tahu tentang kondisi anaknya. Beberapa jam kemudian akhirnya dokter keluar.


"Mohon maaf kami sudah berusaha keras, akan tetapi kami hanya bisa menyelamatkan salah satu diantara mereka. Kami hanya bisa menyelamatkan ibunya," ujar dokter dengan penuh penyesalan.


"Apa? Jadi anakku?" tanya Gilang yang masih tidak percaya.


Setelah beberapa jam berkutat didalam ruangan operasi, dengan sangat menyesal Amanda harus kehilangan anaknya. Amanda harus kehilangan bayinya dikarenakan ia terjatuh dan perutnya terbentur sehingga bayinya tidak bisa diselamatkan.


Gilang yang mendengar kabar itu seketika tersungkur. Dia merasa sangat sedih karena harus kehilangan buah cintanya dengan Amanda. Selain itu, seluruh keluarga pun merasakan kesedihan yang sangat mendalam.


Terutama kakek Bhaskara yang benar-benar merasa sedih. Padahal sudah sejak lama Kakek sangat menginginkan seorang cicit. Tapi sekarang kakek Bhaskara harus menerima jika cicitnya tidak akan lahir.


"Mohon pasien jangan terlalu banyak diajak bicara," tambah dokter sebelum ia bergegas pergi.


Dengan sangat hati-hati Gilang masuk ke dalam ruangan. Namun sebelum masuk ke dalam ruangan, Gilang menyeka air matanya terlebih dulu. Ia tidak ingin jika Amanda melihatnya bersedih. Gilang tidak ingin menunjukan kesedihannya dihadapan Amanda.


Ceklek..


Saat masuk ke dalam ruangan ternyata Amanda sedang menangis sesenggukan. Amanda merasa sedih saat dirinya tahu bahwa anaknya tidak bisa diselamatkan.


"Anak kita, anak kita," lirih Amanda yang kembali menangis. Amanda kini menangis dipelukan suaminya.


"Sabar sayang," ujar Gilang yang merasa tidak tega melihat keadaan istrinya.


"Tapi aku bukanlah ibu yang baik. Aku bahkan tidak bisa melindungi anakku sendiri."


"Tidak sayang, selama ini kamu sudah menjaga anak kita dengan sangat baik," timpal Gilang yang mencoba menenangkan istrinya. Meski sama-sama merasa sedih tapi Gilang tidak ingin menunjukannya.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan kakek? Kakek sangat menantikan bayi ini, tapi aku tidak bisa menjaganya dengan baik," lirih Amanda yang kembali menangis. Dia tahu betul bahwa kakeknya sangat mendambakan bayinya. Tapi kini bayi itu justru sudah tiada.


"Kakek pasti akan mengerti, semua ini bukan karena keinginan kita. Tapi ini semua merupakan takdir yang Maha Kuasa," timpal Gilang sambil menyeka air mata Amanda. Gilang merasa tidak tega saat melihat istrinya terlihat sedih.


Namun Amanda masih belum bisa menghentikan kesedihannya. Amanda sangat terpukul atas kehilangan bayinya. Tidak berapa lama, seluruh keluarga masuk ke dalam ruangan.


"Yang sabar sayang," ujar Risma yang langsung memeluk menantunya.


"Aku sudah gagal menjadi ibu bu," lirih Amanda yang kembali menangis dipelukan Risma.


"Tidak sayang, selama ini kamu sudah menjadi ibu yang baik. Kamu sudah menjaganya dengan baik, tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita nak. Yakinlah semua yang terjadi pasti yang terbaik untuk kita," timpal Risma yang mencoba menenangkan menantunya.


Tak berapa lama, Silvia datang dan segera menghampiri anaknya.


"Amanda, bagaimana keadaanmu nak?" tanya Silvia yang segera menghampiri Amanda diranjang dan segera memeluknya.


"Ibu, anakku, anakku bu," lirih Amanda yang kini menangis dipelukan ibunya. Lagi-lagi Amanda kembali menangis dipelukan ibunya. Ia kembali menangis sesenggukan.


"Sudahlah nak, yang sabar. Ini semua merupakan takdir bagi kita. Jangan terus menangis, kamu harus kuat ya!" timpal ibunya yang merasa tidak tega melihat anaknya bersedih seperti itu.


Beberapa diantara mereka pun keluar ruangan karena tidak tega melihat Amanda yang masih saja menangis. Untuk malam ini Amanda akan tidur dirumah sakit karena ia harus diistirahatkan.


Sementara keluarga yang lain sudah pulang. Kini hanya tinggal Gilang dan Silvia yang masih berada dirumah sakit.


"Ibu sebaiknya pulang saja, Amanda biar aku yang menjaganya bu," ujar Gilang.


"Tapi ibu masih tidak tega jika harus meninggalkan Amanda nak," tukas Silvia yang merasa tidak ingin jauh dari anaknya.


"Iya ibu sebaiknya pulang saja. Aku tidak apa-apa bu,lagipula disini juga ada suamiku," timpal Amanda.


"Tapi nak," ucap Silvia.


"Sudah ibu pulang saja, kasihan ayah jika sendirian dirumah. Lagipula besok juga aku sudah pulang," tambah Amanda.

__ADS_1


Mendengar kata-kata anaknya akhirnya Silvia pulang.


"Baiklah kalau begitu ibu pulang ya nak, kamu baik-baik disini," pamit Silvia sambil memeluk anaknya sesaat sebelum ia pergi.


"Iya bu, hati-hati ya," ujar Amanda.


Setelah kepergian ibunya Amanda pun segera istirahat. Tak berapa lama seorang suster membawakan makanan untuk Amanda.


"Permisi bu, saya ingin mengantar makanan," ujar suster itu sambil masuk ke dalam ruangan.


"Ya terima kasih sus," jawab Amanda.


Setelah meletakan makanannya, suster itupun bergegas kembali keluar.


"Kamu harus makan dulu sayang, biar cepat pulih," ujar Gilang yang langsung membuka makanan yang ditutup plastik raping.


"Aku sedang tidak berselera makan, aku tidak mau makan apa-apa," lirih Amanda.


"Jangan begitu sayang, aku suapi ya!" tawar Gilang.


Akhirnya karena bujukan suaminya Amanda makan juga. Meski sebenarnya ia sangat tidak berselera untuk makan tapi karena Gilang akhirnya Amanda mau makan. Sebagai seorang ibu yang sudah sangat menantikan anaknya Amanda begitu terpukul dengan kejadian ini.


Tak banyak makanan yang masuk ke mulutnya. Hanya beberapa suap Amanda tidak ingin melanjutkan makannya karena ia teringat kembali kepada anaknya. Amanda mulai berkaca-kaca saat ia teringat kepada anaknya.


Tak terasa akhirnya air mata itu jatuh menetes.


Amanda teringat kembali akan anaknya. Anak yang selama ini ia jaga dengan baik ternyata harus pergi tanpa melihatnya terlebih dahulu.


"Maafkan ibu nak, ibu tak bisa menjagamu dengan baik," lirih Amanda.


"Jangan seperti ini Amanda, aku tidak tega melihatnya. Aku tidak sanggup jika harus melihatmu seperti ini," timpal Gilang yang turut bersedih dan segera memeluknya. Ia juga akhirnya meneteskan air matanya karena tidak sanggup melihat istrinya yang selalu bersedih.


Entah sudah berapa lama ia menangis, yang jelas setelah Amanda merasa lelah akhirnya ia tertidur dengan pulasnya.

__ADS_1


"Sabarlah sayang, kita pasti bisa melewati semua ini bersama," gumam batin Gilang sambil mengusap kepala Amanda.


__ADS_2