
Hari ini keluarga Mahendra berencana untuk kumpul keluarga. Biasanya acara ini dihadiri oleh keluarga-keluarga yang jauh juga. Acara ini selalu rutin diadakan setiap dua bulan sekali. Acara ini juga diadakan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga.
Dirumah kakek Bhaskara, Bu Risma dan asisten rumah tangganya Bi Sumi sudah mulai sibuk sejak pagi tadi. Risma dan Bi Sumi sudah sibuk mempersiapkan makanan untuk keluarganya yang akan datang.
Saat Amanda turun dari kamarnya, ia merasa tidak enak jika ibu mertuanya sudah sibuk sejak tadi.
"Kenapa ibu tidak membangunkan aku? Aku kan bisa bantu ibu sejak tadi," ujar Amanda yang terlihat begitu lelah saat menuruni anak tangga. Amanda kini terlihat sangat gemuk dan mulai berjalan dengan sangat hati-hati.
Perut Amanda kini semakin membuncit karena usia kandungannya yang semakin membesar. Bagi siapapun yang melihat ibu hamil berbadan besar selalu merasa khawatir saat melihat perutnya yang besar. Akan tetapi Amanda yang merasakannya justru terlihat biasa saja.
"Tidak apa-apa nak, lagi pula ada Bi Sumi yang bantu. Kamu duduk saja ya, jangan terlalu lelah. Tidak baik buat kandunganmu," ujar Bu Risma.
"Iya non, sebaiknya neng Amanda duduk saja di kursi ya. Ada bibi yang bantu pekerjaan ibu disini," timpal Bi Sumi yang tampak sibuk menata makanan ringan ke dalam piring.
"Iya bi, tapi aku ingin membantu pekerjaan yang ringan saja. Biar ada pergerakan sedikit bi," tukas Amanda yang mulai merasa bosan karena setiap hari Amanda selalu istirahat di kamar dan tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan apa-apa.
"Ya sudah neng Manda masukan ini saja ke dalam piring ya," ujar Bi Sumi yang memberikan bungkusan makanan ringan yang dipegangnya.
Dengan sigap Amanda pun segera memasukan kue-kue yang ada ditangannya ke dalam piring satu per satu.
Ting.. tong..
Tak berapa lama suara bel rumah berbunyi.
"Itu sepertinya mereka baru datang," ujar Risma.
"Biar saya aja yang buka bu," timpal Bi Sumi yang segera bergegas ke depan untuk membukakan pintu.
Saat Bi Sumi membukakan pintu ternyata benar saja, beberapa keluarga dari Risma dan Arya pun mulai berdatangan. Kini dirumah Kakek begitu banyak orang.
__ADS_1
"Hai kak Risma apa kabar?" tanya Widia yang merupakan adik dari Risma.
"Hai sudah lama kita tidak bertemu, suami dan anak-anak ikut juga kan?" jawab Risma yang segera membalas pelukan adiknya.
"Apa kabar kak?" sapa Hasan yang merupakan suami dari Widia.
Mereka juga datang bersama kedua anaknya yang bernama Aditya dan Husna. Aditya sudah duduk dibangku kuliah, sementara Husna masih duduk dibangku kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA). Mereka pun tak lupa menyalami Risma. Selain itu, ada juga Pak Habibi yang merupakan adik dari kakek Bhaskara yang sangat lucu dan konyol.
Tak lupa dokter Alex juga diundang karena ia sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh kakek Bhaskara. Dokter Alex sendiri merupakan dokter pribadi Bhaskara.
"Oiya dimana kakek Bhaskara?" tanya Alex yang baru saja tiba dirumah.
"Sebentar lagi juga kakek turun," jawab Risma.
"Hai Alex apa kabar?" sapa kakek Bhaskara yang sedang menuruni anak tangga.
"Apa kabar kakek? Bagaimana dengan kondisi kesehatan kakek saat ini?" tanya Alex yang sudah lama tidak memeriksa Bhaskara. Terakhir ia memeriksa beberapa bulan lalu, itupun hanya pura-pura saja karena demi keinginannya melihat cucunya ingin segera menikah.
"Kabar baik, kabar baik," jawab Bhaskara sambil terkekeh. Mereka memang selalu saja bercanda. Semua orang segera menghampiri kakek, dan menyalami kakek satu per satu.
Semua orang terlihat sangat senang dan sangat bahagia saat bisa berkumpul seperti ini. Tidak lama Gilang turun dari kamarnya. Dia menyalami semua orang yang berada diruang tamu.
Mereka pun merasa senang dengan kehadiran mereka di Gilang ditengah-tengah mereka. Begitupun dengan Amanda yang ikut merasa senang karena ia bisa mengenal lebih jauh keluarga Gilang.
Semua keluarga berkumpul diruang tamu dan makan-makan bersama. Kakek Bhaskara sangat senang saat semua keluarganya bisa berkumpul seperti ini. Semua keluarga Bhaskara ada diruang tamu, hanya saja orang tua Amanda tidak bisa hadir karena ada pekerjaan mendadak.
Gilang pun memutar otak agar semua orang tidak merasa jenuh. Akhirnya ia mengajak semua keluarganya untuk bermain bola kasti. Tidak hanya laki-laki, semua perempuan pun boleh ikut bermain.
Termasuk kakek Bhaskara yang ikut serta dalam permainan ini. Kakek sangat bersemangat hari ini. Seluruh keluarga pun akhirnya dibagi menjadi 2 kelompok. Tidak hanya laki-laki tapi perempuan juga dicampur dalam satu tim.
__ADS_1
Sementara Amanda hanya bisa memperhatikan di gazebo yang ada diluar. Ia hanya bisa melihat semua orang yang bermain di halaman. Gilang terlihat sangat tampan saat memakai baju olah raga serta memakai topi agar ia tidak kepanasan.
Tim a terdiri dari keluarga kakek Bhaskara, sedangkan tim b terdiri dari keluarga Bu Widia beserta suami serta anak-anaknya. Sementara dr. Axel bertindak sebagai seorang wasit diantara mereka.
"Bagaimana semua sudah siap?!" tanya Gilang.
"Siap!!" jawab seluruh keluarga Gilang.
Keluarga Adytia pun tidak mau kalah. Mereka sama-sama bersemangat. Permainan akan segera dimulai kini lemparan dari keluarga Adytia pun mulai dilakukan. Namun Gilang berhasil memukul bola itu hingga sangat jauh.
Dan babak pertama pun dimenangkan oleh keluarga Gilang. Meski lelah tapi mereka masih sangat bersemangat. Kini Giliran keluarga Gilang yang memulai melempar bola itu. Sementara keluarga Adytia bagian yang memukul bola itu.
Satu kali, dua kali bola itu berhasil ditaklukkan. Namun saat giliran Risma yang melempar bola itu ternyata bola itu mengarah ke arah Amanda. Spontan Amanda pun menangkap bola itu hingga akhirnya ia terjatuh karena kakinya tersandung.
Amanda terjatuh dengan posisi bagian perutnya yang besar tertindih dengan begitu kerasnya.
"Aaa.." teriak Amanda yang mengaduh kesakitan. Amanda tersungkur hingga kakinya banyak mengeluarkan darah segar.
"Amanda...!" pekik Gilang yang seketika berlari ke arah Amanda. Dengan sekuat tenaga Gilang berlari dan segera menghampiri istrinya. Semua orang yang melihatnya pun tampak panik dan mengerumuni Amanda.
"Cepat bawa ke rumah sakit Gilang!" pekik Risma.
Gilang pun segera membopong Amanda ke dalam mobil. Dengan kecepatan penuh Gilang segera mengendarai mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Sementara semua keluarga mengikuti dari belakang.
"Aaa.." teriak Amanda lagi yang mengaduh kesakitan.
"Sabar sayang, tahan sebentar," lirih Gilang yang merasa tidak tega melihat istrinya kesakitan.
Semua orang terlihat begitu panik dan bersedih saat melihat Amanda. Padahal awalnya mereka begitu bersenang-senang. Tapi diluar dugaan hal ini bisa terjadi.
__ADS_1