
Setelah semua keluarga mengetahui tentang kehamilan Amanda, mereka merasa sangat bahagia. Terutama kakek, sudah sejak lama dia menantikan kabar baik ini. Rasanya sudah tidak sabar bagi kakek untuk segera menimang cicit.
Pagi-pagi sekali Amanda sudah bangun. Dia mencoba membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas karena waktu menunjukan sudah jam 7 pagi.
"Gilang, sudah siang bukannya hari ini kamu harus pergi ke kantor," ujar Amanda sambil memegang pipi suaminya.
"Ah nanti sebentar lagi, aku masih ngantuk," jawab Gilang dengan suara parau karena masih mengantuk.
"Tapi ini sudah siang loh, sekarang hampir jam 7," tambah Amanda memperingatkan.
"Apa jam? Kenapa kamu tidak membangunkan aku sejak tadi?" tukas Gilang yang merasa terkejut karena ternyata hari sudah siang. Gilang pun terperanjat karena kesiangan. Ia segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Amanda hanya terkekeh menyaksikan suaminya yang dirasa konyol. Amanda segera bergegas turun untuk menyiapkan sarapan bagi suaminya. Meski terkadang merasa mual, tapi ia tidak mau jika harus bermalas-malasan di tempat tidur.
Untuk seluruh keluarga kini lebih memperhatikan Amanda. Terutama ibu nya dan ibu mertuanya. Hampir setiap hari Silvia datang untuk menemui anaknya. Tidak lupa ia pun selalu membawakan makanan untuk ibu hamil. Mulai dari makanan kesukaan Amanda, hingga buah-buahan yang segar untuk wanita hamil.
"Amanda," panggil Silvia yang baru saja datang.
"Ibu?" tanya Amanda yang terkejut dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba.
"Ini ibu bawakan mangga muda sayang, kamu pasti ingin makanan seperti ini kan?" ujar Silvia sambil menyodorkan sebuah kantong keresek berisi manisan mangga muda.
"Wah baru saja aku membayangkan ingin makan mangga muda," timpal Amanda yang segera membuka makanan yang dibawa ibunya.
Bu Risma mertuanya juga tak mau kalah. Dia selalu membuatkan susu hamil untuk Amanda. Semenjak tahu menantunya hamil, Risma juga kini lebih memperhatikan Amanda. Amanda merasa sangat beruntung karena ibu dan ibunya sangat perhatian sekali. Bahkan Amanda selalu merasa seperti anak kecil.
Amanda selalu merasa diawasi dan diperhatikan semua orang. Amanda selalu merasa dirinya seperti anak kecil karena keluarganya selalu memperhatikannya.
"Ternyata seperti ini rasanya hamil, semua orang perduli dan sangat perhatian," gumam batin Amanda.
__ADS_1
Betapa beruntungnya Amanda, tidak lama setelah menikah Amanda dipercaya untuk segera memiliki momongan. Amanda merasa sangat bahagia dengan apa yang dimilikinya saat ini.
Suami yang sangat mencintainya, keluarga yang sangat baik terhadapnya, kali ini ditambah dengan memiliki seorang momongan yang semakin menambah kebahagiaan Amanda. Kakek Bhaskara juga tak kalah bahagia, apalagi sejak lama ia sangat menantikan saat-saat seperti ini.
Rasanya sudah tidak sabar bagi kakek ingin segera menemui cicitnya. Kakek sudah tidak sabar ingin segera main-main bersama cicitnya.
Di halaman rumah, pagi-pagi sekali kakek sudah duduk dikursi goyangnya sambil berjemur.
Diatas kursi kakek melamun dan memikirkan tentang cicitnya kelak. Hingga akhirnya ia pun tertidur dikursi goyang itu. Di dalam tidurnya kakek bermimpi sedang bermain bersama anak laki-laki yang masih kecil.
Tak berapa lama, Amanda datang membawakan sarapan untuk kakek Bhaskara.
"Kek, kakek, ini sarapan dulu," tawar Amanda sambil membangunkan kakeknya yang sedang tertidur.
"Eh iya nak, aduh kakek ketiduran barusan," ujar sang kakek yang segera terbangun dari tidurnya.
"Tadi kakek sedang berjemur, tapi tiba-tiba saja kakek ketiduran. Oiya apa kamu tahu nak, dalam tidur kakek barusan, kakek bermimpi sedang bermain-main bersama anak laki-laki. Dia sangat tampan seperti Gilang," tambah sang kakek yang mulai menceritakan mimpinya kepada Amanda.
"Wah benarkah kek? Semoga anakku juga laki-laki ya kek," timpal Amanda yang merasa sangat ikut senang dengan mimpi kakeknya itu.
"Ya sudah kakek sarapan dulu ya," titah Amanda sambil menyodorkan nampan yang berisi susu dan roti bakar isi coklat kesukaan kakek.
"Iya terima kasih nak," tukas kakek yang segera menyantap sarapannya.
"Kalau begitu aku masuk ke dalam dulu ya kek," pamit Amanda yang segera bergegas ke dalam rumah.
"Iya nak, terima kasih," ujar sang kakek.
Setelah mendengar cerita kakeknya, Amanda pun merasa senang. Amanda jadi berharap jika ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan seperti ayahnya. Rasanya sudah tidak sabar bagi Amanda untuk segera melahirkan bayinya. Padahal usia kandungannya baru menginjak beberapa minggu.
__ADS_1
Beberapa bulan pun berlalu, kini tak terasa usia kandungan Amanda sudah menginjak 7 bulan. Itu artinya hanya tinggal 2 bulan lagi Amanda akan segera melahirkan. Semua keluarga pun sudah tidak sabar untuk menyambut bayi Amanda.
Hari ini Amanda berencana untuk mencari perlengkapan bayi. Mulai dari tempat tidur bayi, popok bayi, dan semua yang diperlukan saat melahirkan nanti. Amanda dan Gilang pergi ke sebuah pusat perbelanjaan.
"Kita pilih baju yang warna apa ya, kita kan masih belum tahu jenis kelamin bayi ini apa," ujar Amanda yang tampak kebingungan saat melihat pakaian bayi yang ada dihadapannya.
"Sementara kamu pilih warna yang netral saja Amanda, misalnya coklat itu kan bisa dipakai untuk bayi laki-laki atau perempuan," jawab Gilang.
"Kamu benar juga ya," timpal Amanda.
Amanda pun segera memilih beberapa jenis baju dan beberapa celana yang berwarna coklat. Tak lupa ia juga membeli beberapa jumpsuit yang terlihat sangat lucu. Selain itu, Amanda juga membeli tempat tidur bayi.
Perlengkapan yang lain seperti bedak, minyak telon dan lain-lain pun tak lupa ia beli. Yang jelas Amanda tidak mau jika ada yang terlewat saat ia sedang berbelanja. Sebagai calon orang tua, Amanda dan Gilang sangat antusias.
Setelah semua dirasa lengkap, Amanda dan Gilang pun segera bergegas ke kasir untuk membayar dan segera pulang.
Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah mereka berdua yang selalu tersenyum. Rasanya sudah tidak sabar menunggu waktu 2 bulan itu. Waktu dimana bayi itu akan segera lahir. Namun dalam perjalanan pulang, perut Amanda terasa begitu keroncongan.
"Aku lapar sekali, kita cari makan dulu ya," ajak Amanda.
"Ya aku juga sangat lapar Amanda, kamu ingin sedang makan apa?" tanya Gilang.
"Apa ya? Sepertinya aku sedang ingin makan nasi padang Gilang," jawab Amanda sambil memegangi perutnya.
"Wah boleh juga tuh, kita cari restoran padang yang terdekat dari sini ya," ajak Gilang. Gilang pun semakin menambah kecepatan mobilnya. Sambil menyetir Gilang mencari rumah makan padang disisi kiri dan sisi kanan jalan. Beruntung tidak terlalu jauh, Gilang melihat sebuah tempat makan padang yang begitu ramai oleh para pengunjung.
"Kita makan disitu?" ajak Gilang.
"Ok! Perutku sudah sangat lapar nih!" tegas Amanda yang sudah tidak sabar ingin segera makan.
__ADS_1