Bukan Rahim Pinjaman

Bukan Rahim Pinjaman
23. Kejadian Luar Biasa


__ADS_3

Sudah beberapa jam berlalu namun Amanda masih belum menghubungi Gilang. Kini ia semakin khawatir karena istrinya sejak tadi belum pulang. Padahal hari sudah semakin larut, harus kemana Gilang mencari keberadaan istrinya.


Amanda yang masih terjebak hujan badai masih berteduh di tempat yang aman. Amanda sepertinya tidak bisa pulang karena jalanan yang masih ditutup. Untuk itu ia memilih bermalam disebuah hotel yang tidak begitu jauh dari cafe tempat dia makan.


"Kamu dimana Amanda? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Bahkan aku masih belum bisa menghubungimu," gumam batin Gilang.


Melihat Gilang yang sejak tadi terus melamun membuat Sukma tidak tega melihatnya. Sukma pun berinisiatif untuk menghiburnya. Sukma akhirnya membuat minuman yang ia campur sedikit alkohol agar Gilang merasa lebih tenang.


"Ini minum dulu Gilang, setelah minum ini pasti perasaanmu akan lebih baik," ujar Sukma.


"Tapi aku sedang tidak ingin apa-apa. Saat ini aku hanya mengkhawatirkan istriku saja," lirih Gilang yang sudah merasa cemas sejak tadi.

__ADS_1


"Aku tahu, aku juga sangat mengkhawatirkan keadaan Amanda tapi tidak baik jika kamu terus-terusan seperti ini," timpal Sukma lagi.


Akhirnya setelah panjang lebar Sukma membujuk Gilang, dia mau juga meminum minuman yang dibuat Sukma. Awalnya Gilang meminum minuman itu hanya sedikit demi sedikit tapi lama kelamaan akhirnya Gilang menghabiskan minuman itu.


Beberapa saat setelah menghabiskan minumannya Gilang merasa lebih tenang. Bahkan ia tidak terlalu memikirkan Amanda lagi. Gilang melihat Sukma seperti istrinya Amanda.


Sukma yang sejak tadi ditatap oleh Gilang pun merasa salah tingkah. Gilang mulai memperhatikan Sukma dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sepertinya alkohol itu mulai berpengaruh sehingga Gilang mulai kehilangan kesadaran.


"Amanda, kamu sudah pulang? Sejak tadi aku sangat mencemaskanmu," ujar Gilang yang sejak tadi terus menatap Sukma yang ia anggap sebagai istrinya.


"Aku sangat merindukanmu," ujar Gilang sambil merengkuh tubuh Sukma.

__ADS_1


"Aku juga," timpal Sukma yang segera membalas pelukan Gilang.


Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan. Sejak awal Sukma memang sudah menyukai Gilang karena ketampanannya. Perlahan tapi pasti Gilang mulai mengajak Sukma ke kamar. Gilang mulai menyentuh Sukma yang ia anggap Amanda.


Perlahan tapi pasti Gilang mulai membelai dan mencumbu Sukma. Sukma pun mulai terbawa suasana. Ia menikmati sentuhan-sentuhan yang di lakukan Gilang kepadanya. Setelah puas membelai dan mencumbu Sukma, Gilang mulai tak tahan dengan hasratnya.


Dia mulai melucuti seluruh pakaian Sukma dan mereka pun akhirnya melakukan hubungan itu. Hubungan yang semestinya ia lakukan bersama istrinya. Namun karena pengaruh minuman tadi akhirnya Gilang melakukan hal itu.


Sukma merasa puas karena akhirnya ia bisa melakukan tugasnya dengan baik dan semoga ia cepat hamil agar dia bisa mendapatkan banyak uang.


Ditempat lain Amanda tiba-tiba teringat pada suaminya.

__ADS_1


"Astaga, aku sampai ketiduran seperti ini," ujar Amanda yang langsung terperanjat dari tidurnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan Gilang. Tapi aku berharap kalian sedang melakukan hal itu agar Sukma cepat hamil," lirih Amanda dengan mata yang berkaca-kaca. Meski Amanda sangat mengharapkan buah hati dari Sukma, tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat terluka. Amanda benar-benar tidak pernah menduga bahwa ia akan berbagi suami dengan orang lain.


__ADS_2