Bukan Rahim Pinjaman

Bukan Rahim Pinjaman
17. Permintaan Amanda


__ADS_3

Tak terasa hampir seharian Gilang bekerja. Setelah semua pekerjaannya beres, Gilang ingin segera bergegas pulang. Entah mengapa rasanya hari ini sangat berat. Pembicaraannya dengan dr. Axel membuat Gilang tidak tenang. Ia merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


Di sisi lain Gilang sangat mencintai Amanda, namun di lain sisi Gilang juga merasa bingung dengan apa yang diinginkan kakeknya. Sesampainya dirumah, Amanda sudah menunggu kedatangan Gilang sejak tadi.


"Hari ini kamu pulang lebih cepat?" tanya Amanda saat suaminya baru saja datang.


"Iya Amanda, pekerjaanku selesai lebih cepat makanya aku ingin segera pulang," jawab Gilang yang segera bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Sementara Amanda segera menyiapkan makanan untuk suaminya. Beberapa menit kemudian Gilang segera turun dengan memakai pakaian santai.


"Makan dulu Gilang, ini ada makanan kesukaanmu," ujar Amanda sambil menyendokan nasi ke dalam piring dan segera diberi lauk.


"Wah rendang," tukas Gilang yang langsung melahap makanannya. Nasi hangat dan rendang sapi adalah makanan kesukaan Gilang. Gilang akan makan yang banyak hanya dengan makan rendang.


Amanda hanya tersenyum melihat suaminya makan dengan begitu lahapnya. Rasanya cukup kenyang walau hanya melihat suaminya makan.


"Apa kamu tidak akan ikut makan? Sampai kapan akan melihatku makan?" tanya Gilang yang melihat istrinya hanya memperhatikannya.


"Aku masih kenyang," jawab Amanda yang hanya tersenyum simpul.


Beberapa menit kemudian akhirnya Gilang selesai makan. Sesampainya dirumah Gilang merasa lupa dengan apa yang dipikirkannya sejak tadi pagi. Seketika pikirannya menjadi tenang saat berada dirumah.


"Oiya jika sudah selesai makan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ujar Amanda.


"Tentang apa? Katakan saja?" tanya Gilang yang menautkan kedua halisnya.


"Nanti saja kita bicara dikamar," jawab Amanda.


"Ya sudah ayo kita bicara dikamar, sepertinya serius," tukas Gilang sambil berlalu ke kamar setelah selesai makan.


Amanda merasa gugup dengan apa yang akan dikatakannya. Amanda merasa bingung harus memulainya dari mana. Sebenarnya Amanda tidak ingin mengatakan semua ini, tapi ia harus melakukannya.


"Sebenarnya ada hal apa yang ingin kamu bicarakan Amanda?" tanya Gilang yang kini duduk ditepi ranjang.

__ADS_1


"Aku memiliki permintaan Gilang, apa kamu bisa memenuhinya?" ujar Amanda gugup.


"Apapun itu sayang, aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan," tukas Gilang yang penuh percaya diri.


"Mmh, sebenarnya aku ingin kamu menikah lagi lagi Gilang," lirih Amanda. Rasanya sangat berat bagi Amanda mengatakan hal itu. Tapi ia tidak memiliki pilihan lain.


"Apa? Apa yang kamu katakan Amanda? Aku tidak mungkin melakukan hal itu, aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin pernah mengkhianatimu," timpal Gilang yang merasa terkejut dengan apa yang dikatakan Amanda.


Gilang tidak pernah menyangka jika Amanda akan berkata seperti itu. Hal yang sejak pagi ia pikirkan, ternyata Amanda sudah memikirkannya.


"Tapi Gilang, hanya dengan menikah lagi kamu akan memiliki seorang anak. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa hamil lagi dan tidak akan pernah punya anak. Jadi hanya dengan cara seperti ini keluarga ini akan mendapatkan keturunan," lirih Amanda.


"Tidak sayang, jangan berkata seperti itu. Kita akan mendapatkan seorang anak tapi tidak dengan cara seperti itu," tukas Gilang yang langsung memeluk istrinya.


"Tapi dengan cara apa? Aku tidak bisa memberikanmu keturunan," lirih Amanda yang kini menangis dipelukan suaminya.


"Biar nanti kita pikirkan caranya, yang jelas aku tidak mau jika harus mengkhianatimu sayang, aku sangat mencintaimu," ujar Gilang.


"Aku juga sangat mencintaimu," timpal Amanda.


Bagaimana dia menjelaskan maksud dari dr. Axel. Harus mulai dari mana Gilang menjelaskan semuanya kepada Amanda. Hal itu biar Gilang yang memikirkannya yang jelas saat ini Amanda harus lebih tenang.


"Sudah malam, kamu istirahat ya," ujar Gilang.


"Loh memangnya kamu mau kemana Gilang? Aku tidak akan kemana-mana, hanya ada sedikit pekerjaan saja yang harus aku selesaikan," timpal Gilang.


"Ya sudah jangan tidur terlalu malam ya," pinta Amanda yang segera bergegas menuju ranjangnya.


"Oke sayang," timpal Gilang yang mengecup pucuk kepala istrinya sebelum ia pergi ke ruang kerja.


Setelah mencium istrinya, Gilang segera bergegas menuju ruang kerjanya dengan membawa segelas kopi panas. Didalam ruangan itu Gilang memikirkan hal yang baru saja dia bicarakan bersama istrinya.


Sebenarnya tidak ada pekerjaan yang penting, hanya saja Gilang masih belum bisa memejamkan matanya. Mendengar permintaan Amanda membuat Gilang merasa bingung. Mungkin dia merasa terbebani karena kakeknya yang selalu meminta cicit dari mereka berdua.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan saat ini? Apa aku coba saja saran dari dr. Axel. Tapi aku harus mencari wanita itu kemana," gumam batin Gilang yang merasa pikiran nya terombang ambing kesana-kemari.


"Dimana aku harus menemukan wanita itu? Apakah ada wanita yang ingin menjadi ibu pengganti," gumamnya lagi.


Tak terasa karena kelamaan berada diruang kerja akhirnya Gilang tertidur disana.


Di tempat lain, Amanda yang terbangun mencari keberadaan suaminya yang masih belum ada disampingnya.


"Kemana Gilang? Kenapa dia masih belum kembali? Apa dia tertidur diruang kerja?" pikirnya.


Merasa demikian, Amanda pun segera bergegas menuju tempat kerja Gilang. Dan benar saja, Gilang ternyata tertidur diatas meja kerjanya.


"Astaga, ternyata dugaanku benar," gumam batin Amanda yang melihat suaminya tertidur pulas diatas meja.


"Gilang," ujar Amanda sambil memegang pipinya dengan lembut.


"Amanda? Sedang apa kamu berada disini?" tanya Gilang yang merasa terkejut.


"Kamu ketiduran disini Gilang, makanya aku bangunkan. Kita pindah ke kamar ya," ajak Amanda.


"Iya sayang ayo!" timpal Gilang yang merasa sedikit pusing karena tertidur cukup lama.


Akhirnya Gilang dan Amanda pindah ke kamar mereka. Amanda melanjutkan tidurnya kembali bersama suaminya.


Keesokan harinya, Gilang mencoba membicarakan tentang apa yang dibicarakannya bersama dr. Axel. Meski Gilang merasa bingung harus mulai dari mana, tapi walau bagaimanapun Gilang harus membicarakan semua ini dengan Amanda.


"Amanda ada sesuatu yang harus aku katakan," ujar Gilang sebelum ia berangkat bekerja.


"Iya ada apa?" tanya Amanda yang menautkan kedua halisnya.


"Sebenarnya kemarin aku sudah membicarakan tentang permasalahan kita kepada dr. Axel. Aku sudah menganggapnya sebagai ayah sendiri, makanya aku menceritakan masalah kita," jawab Gilang.


"Lalu bagaimana jika dr. Axel memberitahu keluarga kita tentang keadaanku yang sebenarnya Gilang," timpal Amanda yang mulai resah saat Gilang mengatakan itu.

__ADS_1


"Tidak Amanda, aku sudah mengenal dr. Axel cukup lama. Beliau tidak akan seperti itu. Malah dia menyarankan kita untuk mencari ibu pengganti," tambah Gilang.


__ADS_2