Bukan Rahim Pinjaman

Bukan Rahim Pinjaman
37. Acara 7 bulanan


__ADS_3

Tak terasa hampir sepekan Sukma berada di rumah keluarga Gilang. Entah mengapa rasanya sangat nyaman berada diantara keluarga ini. Selama hidupnya baru kali ini Sukma merasakan bagaimana rasanya memiliki sebuah keluarga.


Semua orang bersikap baik dan sangat memperhatikan Sukma. Bukan hanya satu atau dua orang saja, tapi semuanya begitu baik pada Sukma. Termasuk kakek dan ibunya Gilang sangat memperhatikan Sukma.


"Ternyata seperti ini rasanya memiliki sebuah keluarga," gumam batin Sukma.


"Ada apa nak?" tanya kakek Bhaskara yang melihat Sukma hanya berdiri dibalik jendela.


"Eh kakek, tidak apa-apa kek," jawab Sukma.


"Kakek perhatikan sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu," timpal kakek Bhaskara.


"Ah tidak kek, aku sedang tidak memikirkan apa-apa," tukas Sukma yang merasa bingung harus menjawab apa.


"Oiya Sukma dimana keluargamu?" tanya kakek lagi.

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Sukma merasa bingung harus menjawab apa. Entah harus mulai dari mana Sukma menceritakan tentang keluarganya. Sukma pun terdiam untuk sesaat. Ia seakan teringat kembali akan masa lalunya.


"Jika kamu tidak mau menceritakannya tidak apa nak," ujar kakek yang merasa tidak enak sendiri dengan pertanyaannya.


"Bu, bukan begitu kek. Sebenarnya ibuku sudah lama meninggal, sedangkan ayahku entah berada dimana karena sejak kecil dia pergi meninggalkan aku," lirih Sukma yang merasa sedih karena ia teringat akan masa lalunya.


"Maafkan kakek nak, kakek tidak tahu jika kehidupanmu begitu menyedihkan," timpal kakek yang begitu prihatin mendengar tentang keluarga Sukma.


"Tidak apa kek," jawab Sukma sambil tersenyum.


"Ini baju yang harus kamu pakai nak. Oiya jangan lupa kerudung nya harus dipakai dan acara ini merupakan acara yang sakral untuk calon bayi dan juga ibunya. Kalian akan didoakan secara khusus," tambah Risma saat masuk ke dalam kamar Amanda.


"Iya bu," jawab Amanda saat menerima pakaian itu.


"Oiya Sukma, maaf kamu tidak bisa ikut turun ke bawah karena ini hanya bisa dilakukan oleh satu orang yang sedang hamil. Jika tidak makan ibu akan melakukan ritual ini untukmu juga," ujar Risma.

__ADS_1


"Tidak apa-apa bu, aku akan menunggu dikamar saja," jawab Sukma.


Tidak lama saat ibunya keluar dari kamar, Gilang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana ini Gilang, ibu bilang ini acara yang sangat sakral. Sang ibu dan juga calon bayi harus hadir untuk mendapatkan doa khusus. Aku tidak bisa bermain-main dengan acara ini karena kehamilanku hanyalah pura-pura," lirih Amanda.


"Jangan khawatir, aku akan mencari cara lain," timpal Gilang yang tampak serius memikirkan sesuatu.


"Begini saja, biar Sukma yang akan memakai pakaian ini dan berada diposisiku," ujar Amanda yang segera berfikir dengan matang.


"Tapi bagaimana kalau ketahuan?" tanya Gilang yang menautkan kedua halisnya.


"Semuanya aman, karena ibu memintaku untuk memakai kerudung dan wajahku tidak boleh sampai terlihat," tukas Amanda.


Akhirnya mereka sepakat untuk menggantikan posisi Amanda oleh Sukma. Sukma yang kebetulan berada diantara mereka segera mengganti pakaian yang diberikan oleh Risma. Semua perhiasan yang Amanda pakai sementara dipakai oleh Sukma agar lebih meyakinkan.

__ADS_1


Sementara di bawah semua keluarga sudah berkumpul karena acara akan segera dimulai.


__ADS_2