Bukan Rahim Pinjaman

Bukan Rahim Pinjaman
54. Rencana Pernikahan


__ADS_3

Beberapa hari setelah pertemuan itu membuat Reza ingin segera menikahi Sukma. Rasa nya sudah tidak sabar bagi Reza untuk segera hidup bersama Sukma.


"Aku ingin kita segera menikah," ujar Reza.


"Apa? Apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Sukma yang menautkan kedua halisnya.


"Justru lebih cepat lebih baik kan?" timpal Reza lagi yang kini semakin mempercepat laju kendaraannya.


"Aku sih terserah, tapi bagaimana dengan ibumu?" tanya Sukma yang selalu mengkhawatirkan perasaan ibunya.


"Biarkan saja ibu, toh nanti juga kamu akan menikah denganku kan? Bukan dengan ibu," sanggah Reza.


"Aku tahu, tapi walau bagaimanapun aku tidak ingin kehidupan kita berjalan tanpa restu ibumu," lirih Sukma.


"Baiklah aku mengerti, nanti aku akan coba bicarakan dengan ibu," ujar Reza yang kini menghentikan mobilnya karena mereka sudah tiba di depan rumah Sukma.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku pulang ya!" pamit Reza sesaat setelah Sukma turun dari mobilnya.


"Iya hati-hati," teriak Sukma dari arah belakang mobil.


Sukma pun hanya melihat mobil Reza dari kejauhan. Entah mengapa hati Sukma masih saja merasa tidak enak. Rasanya ada hal yang mengganjal didalam hatinya. Namun entah lah, Sukma pun tidak mengerti sama sekali.


Sukma pun mulai melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Namun saat Sukma akan membukakan pintu tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.


"Sukma!" teriak seorang laki-laki paruh baya itu.


"Ayah hanya ingin meminta maaf untuk yang terakhir kalinya Sukma. Mungkin umur ayah tidak akan lama lagi, uhuk.. uhuk.." terdengar suara sang ayah yang kini terbatuk.


"Alah itu pasti alasan ayah saja. Walau bagaimana pun aku tidak akan pernah memberikan ayah maaf," timpal Sukma.


"Tapi ayah memang sedang sakit keras nak, untuk terakhir kalinya ayah ingin melihatmu dan benar-benar meminta maaf kepadamu," lirih Gunawan yang kini mulai tersungkur di atas lantai.

__ADS_1


Sukma yang sejak tadi berusaha untuk tidak perduli pun kini merasa iba. Sepertinya kini Gunawan memang benar-benar sedang sakit keras. Meski Sukma merasa begitu sakit hati akan perlakuan ayahnya pada masa itu, tapi setelah melihat kejadian hari ini Sukma sepertinya akan memaafkan ayahnya.


Ayahnya kini tergeletak di depan teras rumah Sukma. Sejak pertemuannya dengan Sukma beberapa hari lalu membuat Gunawan berinisiatif untuk mencari tahu tempat tinggal Sukma tanpa sepengetahuannya.


Gunawan yang selama ini sering sakit-sakitan pun merasa bahwa ini adalah hari terakhirnya. Gunawan ingin mati dengan tenang.


"Ayah, ayah," panggil Sukma beberapa kali. Namun tidak ada jawaban dari mulutnya. Kini Gunawan terbujur kaku. Gunawan benar-benar harus pergi meninggalkan dunia ini.


"Tolong," teriak Sukma yang berusaha meminta tolong saat ayah nya mulai tergeletak.


Beberapa warga yang sedang melintas pun segera memberikan pertolongan pertama. Namun karena sudah mengetahui jika Gunawan telah tiada akhirnya mereka segera mengurus pemakaman ayah Sukma.


"Aku sudah memaafkan ayah ya, aku mohon bangun," lirih Sukma yang kini menciumi jasad ayahnya yang sudah terbungkus oleh kain berwarna putih dan akan segera dikebumikan.


"Sudah lah tidak baik, ayahmu kini sudah tenang berada di alam sana," ujar salah seorang tetangga yang ikut mengangkat jenazah Gunawan.

__ADS_1


Akhirnya dengan penuh deraian air mata, jasad Gunawan segera dikebumikan. Dan kini Sukma mulai terisak di pusara makam ayahnya. Setelah ibunya, kini barulah ayahnya yang pergi meninggalkan Sukma.


__ADS_2