
Baru beberapa hari bekerja membuat Sukma merasa lelah. Namun ia tidak boleh banyak mengeluh karena memang inilah sebuah kehidupan. Akan ada konsekuensi yang kita dapatkan atas apapun yang kita pilih.
"Hoam, hari ini rasanya malas sekali untuk bangun," ujar Sukma yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Entah mengapa hari ini rasanya begitu malas. Sukma merasa kurang bersemangat hari ini. Rasanya ada sesuatu yang tiba-tiba menganggu pikirannya, tapi entah apa. Sukma tiba-tiba merasa tidak enak hati.
Walau begitu Sukma harus tetap pergi bekerja. Selesai bersiap Sukma segera bergegas menuju depan rumah. Seperti biasa Sukma pun memesan ojeg online terlebih dahulu. Sambil menunggu Sukma duduk di depan teras rumahnya sambil memainkan ponselnya.
Sukma melihat status whatsapp dan membuka sosial media miliknya. Tak berapa lama datanglah seorang tukang ojeg online yang ia pesan. Sukma pun segera bergegas menaiki ojeg tersebut.
Satu jam kemudian tibalah Sukma di dekat kantornya. Saat Sukma turun dari ojeg tersebut Sukma melihat seorang laki-laki yang menurut dirinya tidak asing. Laki-laki itu duduk di pinggir jalan sedang mengemis.
Merasa seperti mengenal lelaki itu, Sukma pun mendekati laki-laki paruh baya itu dengan seksama. Semakin dekat Sukma merasa semakin mengenal laki-laki itu.
__ADS_1
"Neng, minta neng," ujar lelaki itu lirih.
"Ayah?" tanya Sukma yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sukma tambah yakin saat mendengar suara laki-laki itu.
Semakin Sukma perhatikan, semakin Sukma yakin jika laki-laki paruh baya itu adalah ayahnya yang sudah sejak lama meninggalkan dia dan ibunya. Sudah beberapa tahun mereka tidak pernah bertemu.
Kini saat dipertemukan ayahnya, Gunawan terlihat dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Gunawan yang sudah terlihat tua, berpakaian lusuh dan kini menjadi pengemis.
"Sukma? Anakku? Maafkan ayah nak, ayah menyesal telah meninggalkanmu dan juga ibumu," lirih Gunawan yang kini berlutut dihadapan Sukma.
"Iya Sukma tolong maafkan ayah, ayah sangat menyesal karena sudah meninggalkan kalian berdua."
"Bagaimana kabar ibumu?" tambah Gunawan.
__ADS_1
"Apa perdulimu? Bukan kah selama ini tidak pernah memperdulikan kami!" pekik Sukma.
"Itu dulu Sukma, kini ayah sudah menyadari kesalahan ayah dan ayah sangat menyesali semuanya," lirih Gunawan.
"Ibu sudah lama tiada, itu semua terjadi gara-gara ayah meninggalkan kami. Seandainya ayah tidak pernah mengkhianati ibu, mungkin ibu masih hidup sampai saat ini!" pekik Sukma.
"Apa? Ibumu sudah tiada?" tanya Gunawan yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Sudahlah aku tidak mau berbicara panjang lebar lagi!" pekik Sukma yang segera bergegas meninggalkan ayahnya.
"Sukma ayah mohon, tolong ayah nak. Maafkan ayah," lirih Gunawan.
Tanpa menghiraukan ayahnya, Sukma segera bergegas masuk ke dalam kantor. Sukma sudah muak mendengarkan semua ocehan ayahnya. Rasa sakit bertahun-tahun yang sudah ia lupakan, kini seakan terasa kembali. Ibarat luka menganga rasa itu terasa perih kembali.
__ADS_1
"Siapa laki-laki yang berbicara dengannya?" gumam batin Reza yang sejak tadi memperhatikan percakapan Sukma dan ayahnya.
Sesampainya dikantor Sukma segera menghapus air matanya. Walau bagaimanapun Sukma merasa sangat merindukan ayahnya karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Namun jika Sukma mengingat kelakuan ayahnya, Sukma merasa begitu sakit hati.