Bukan Suami Yang Diinginkan

Bukan Suami Yang Diinginkan
Bab 18


__ADS_3

Mauren datang ke restoran star ketika pulang kerja. Tadi dia memang membuat jadwal untuk bertemu dengan David saat pulang kerja. Sengaja dia pulang lebih awal agar tidak terlalu malam saat bertemu dengan David. Tak mau berada dekat David di malam hari. Karena mengingatkan aksi bodohnya dulu.


Saat sampai di restoran, Mauren diantarkan oleh pramusaji ke meja David. Ternyata David memesan ruangan privat. Jadi jelas jika hanya mereka akan berdua saja.


Mauren tidak mau berpikir macam-macam karena ini restoran besar. Tidak mungkin David akan melakukan hal buruk.


Pintu ruangan privat dibuka, pramusaji mempersilakan Mauren untuk masuk.


Saat masuk sudah ada David di sana. Pria itu duduk manis di sana dan sedang menikmati minuman dingin miliknya.


“Aku pikir kamu tidak akan datang.” David tersenyum.


Mauren tidak menanggapi, dia memilih untuk diam saja dan menarik kursi. Perlahan dia mendaratkan tubuhnya di kursi. Duduk manis tepat di depan David.


“Aku tentu saja akan datang.” Mauren sudah berjanji jadi tentu saja dia akan datang.


David cukup senang. Karena dengan begitu mereka bisa bertemu.

__ADS_1


“Kamu memang harus datang. Karena aku harus keluar uang milyaran hanya untuk bertemu denganmu.” David harus rela membeli perhiasan hanya untuk sekadar bertemu Mauren. Padahal, dia bisa membayar wanita hanya untuk menyenangkannya. Tidak sampai menghabiskan milyaran dalam sekejap mata.


Mauren memang datang karena menghargai David yang sudah keluar milyaran hanya untuk bertemu dengannya.


“Aku sudah datang. Jadi cepat katakan apa maumu.” Mauren tak mau berbasa-basi. Dia merasa segera cepat bicara, segera cepat selesai.


“Bersantailah dulu. Kita makan dulu.” David tersenyum. Dia tidak mau cepat-cepat berpisah dengan Mauren.


“Aku—“ Baru Mauren hendak menjawab, pintu terbuka. Pramusaji membawa masuk makanan yang dipesan oleh David. Alhasil, Mauren memutuskan untuk menutup rapat mulutnya. Lagi pula mengelak akan percuma. Makanan sudah dipesan oleh David.


“Kita bahas nanti. Kita makan dulu.” David tidak mau membahas apa yang ingin dikatakannya ketika perut kosong. Karena pastinya, perut kosong akan membuat tingkat emosi manusia bertambah.


Mauren tidak punya pilihan lain. Dia segera menikmati makanan yang disajikan. Tak ada suara ketika mereka makan. Mereka berdua asyik menikmati makannya.


Sekitar sepuluh menit Mauren selesai lebih dulu. Dia ingin segera bicara dengan David. Jadi dia buru-buru menghabiskan makanannya.


“Kamu makan sudah seperti hendak menang lomba saja.” David tersenyum. Merasa lucu dengan aksi Mauren yang makan begitu cepat.

__ADS_1


Mauren hanya menatap malas. “Cepat habiskan makanmu, dan cepatlah bicara.” Dia tidak mau berlama-lama. Dia sudah terlalu penasaran.


David masih asyik menikmati makannya.


Jika Mauren buru-buru, tidak dengan David. Dia tampak santai saja.


Mauren benar-benar sedang diuji kesabarannya. Padahal jelas dia sedang ingin segera tahu.


David menikmati minuman dingin miliknya dulu. Barulah dia bicara.


“Cepatlah!” pinta Mauren yang kesabarannya mau habis.


“Iya, baiklah.” David menegakkan tubuhnya dengan benar. Dia menatap Mauren yang duduk di depannya.


Mauren menunggu dengan sabar apa yang dikatakan oleh David.


“Menikahlah denganku.” Kalimat itu yang keluar dari mulut David. Kalimat uang sejak tadi ingin diucapkan sejak melihat Mauren. Kalimat yang sedari tadi ingin didengar Mauren.

__ADS_1


__ADS_2