Bukan Suami Yang Diinginkan

Bukan Suami Yang Diinginkan
Bah 49


__ADS_3

David bersembunyi di ketek Mauren. Saat mendengar jeritan orang-orang, justru semakin menjadi-jadi. Dia memeluk Mauren dan bersembunyi di dada Mauren. Wajah dibenamkan lebih dalam hingga mengenai dada Mauren.


Mauren membulatkan matanya. Dia begitu terkejut ketika David membenamkan wajahnya di dadanya.


“Vid.” Mauren berusaha untuk mendorong David.


“Ren, sebenarnya aku takut menonton film horor.” David tidak peduli dengan panggilan Mauren. Dia terus bersembunyi.


“Iya, tapi jangan seperti ini.” Mauren benar-benar merasa tidak nyaman. Mereka bukan pasangan yang berniat berbuat asusila di bioskop. Jadi tentu saja Mauren harus menyingkirkan tubuh David.


“Ren, kamu tidak mengerti aku sekali.” David masih belum mau melepaskan Mauren.


Mauren benar-benar kesal. David keras kepala sekali. Sampai tidak mau menjauh dari tubuhnya.


“Vid, kamu sengaja mau menyentuh dadaku?” Mauren berbisik. Dia kesal karena David tidak mau kunjung menjauh.


David seketika tersadar jika sedari tadi dia membenamkan wajahnya di ketiak Mauren dan mengenai dada Mauren. Walaupun bukan dari depan, wajahnya tetap benda kenyal itu dari samping. David menyesali. Kenapa harus dirinya tidak sadar mendapatkan kenikmatan itu. Paling tidak, dia harus menikmati kesempatan yang datang padanya itu.


“Menjauhlah.” Mauren mendorong David.

__ADS_1


Mengingat David sedang sibuk dengan pikirannya, tentu saja dia harus melepaskan kenikmatan itu.


“Ren, aku takut.” David kembali modus lagi. Berusaha untuk memeluk Mauren lagi.


Mauren segera melayangkan tinju. Dia mengancam David yang hendak mengambil kesempatan dalam kesempitan itu.


“Ren, aku takut. Kenapa kamu pelit sekali.” David merengek seperti anak kecil.


“Ayo kita keluar jika kamu takut.” Mauren segera berdiri. Diayunkan langkahnya keluar dari dalam bioskop. Dia tidak mau jadi sasaran modus David ketika terus jika berada di dalam bioskop.


David yang melihat hal itu merasa begitu terkejut sekali. Tidak menyangka Mauren akan keluar dari bioskop. Dengan segera David pun mengikuti Mauren.


Mauren terus berjalan. Dia benar-benar kesal sekali. Karena David menyebalkan. Mengambil kesempatan dalam kesempitan.


“Ren, jangan marah.” David berusaha untuk menarik Mauren. Menghentikan langkah Mauren.


“Jelas aku marah. Kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Jelas aku marah.” Mauren meluapkan kekesalannya itu.


“Aku benar-benar takut tadi. Tidak berniat mengambil kesempatan apa-apa.” David menjelaskan pada Mauren. Memang benar adanya jika tadi dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. “Jika aku sadar dengan yang aku lakukan, kenapa harus dari samping. Dari depan saja pasti lebih enak.” David mengomentari protes Mauren.

__ADS_1


“Kamu!” Mauren kesal juga. Bisa-bisanya David mengatakan seperti itu.


Mauren yang kesal memilih meninggalkan David. Langkahnya diayunkan pergi menjauh dari David.


“Ren.” David kembali mengejar Mauren.


Mauren terus mengabaikan David. Meskipun sepanjang jalan David memanggilnya terus menerus.


“Ren, sudah jangan marah.” David mencoba membujuk Mauren.


Sayangnya, bujuk rayu David tidak mempan sama sekali. Mauren terus marah pada David.


“Ren, kita makan dulu. Sejak tadi kita belum makan.” David mencoba kembali membujuk Mauren.


Seketika Mauren berhenti. David yang berada di belakang Mauren, hampir saja menabrak istrinya. Untung saja dia bergerak cepat. Jadi tidak menabrak sang istri. Jika itu terjadi. Bisa jadi sang istri kesal lagi.


“Ayo, kita makan dulu.” Mauren pun berbelok ke salah satu restoran yang di sebelahnya. Berharap rasa kesalnya akan hilang saat diberikan makanan.


David hanya bisa menggeleng. Susah-susah merayu, hanya luluh saat diajak makan. “Memang mengembalikan mood wanita itu adalah mengajaknya makan.”

__ADS_1


__ADS_2