
David dan Mauren kembali ke vila setelah tadi sempat makan malam di pinggir pantai. Walaupun sempat kesal dengan David tadi pagi, kini Mauren jauh lebih baik. Perasaannya lebih tenang setelah melihat pantai.
Sampai di vila Mauren memilih untuk membersihkan diri dan segera merebahkan diri. Memainkan ponselnya untuk melihat siapa saja yang mengirimi pesan. Sejak pernikahan, Mauren memang belum membuka ponselnya.
Ternyata banyak sekali pesan masuk ke ponselnya. Teman-temannya semua mengirimi ucapan selamat pada Mauren atas pernikahannya. Mauren memilih membalas satu per satu. Mengucapkan terima kasih atas ucapan selamat untuknya.
Saat melihat nomor saja yang mengirim pesan, Mauren merasa heran. Siapa gerangan yang mengirim pesan. Alangkah terkejutnya ketika ternyata mantan suaminya yang mengirimi pesan. Mantan suaminya juga turut memberikan ucapan selamat.
Mauren hanya terpaku. Entah dari mana suaminya tahu jika dirinya menikah. Yang jelas ini adalah satu pembuktian jika kini Mauren sudah move on.
Mauren memilih tidak membalas pesan mantan suaminya. Dia tidak mau sampai pesannya menjadi masalah. Lagi pula suaminya sudah memiliki istri, dan jika pesannya menjadi masalah. Yang ada nanti dirinya balik dikira perusak rumah tangga orang.
Pesan sudah dibalas semua. Jadi tenang karena akhirnya tidak ada beban lagi. Tinggal tidur saja. Mauren segera meletakkan ponselnya, dan bersiap untuk tidur. Namun, baru saja dia ingin tidur. Tenggorokannya terasa kering. Terpaksa, Mauren bangun dari posisi tidurnya dan segera menuju ke dapur.
Saat membuka pintu, suasana begitu sepi sekali. Sebenarnya Mauren takut sekali. Namun, tenggorokannya yang kering tak mau ditunda. Terpaksa, dia segera memilih untuk memberanikan diri.
Diayunkannya langkahnya ke dapur. Mauren sudah meyakinkan dirinya jika tidak akan ada apa-apa. Dia juga tidak mau membayangkan apa-apa. Termasuk dengan hantu.
Namun, baru saja langkahnya sampai di dapur, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar ke arahnya. Mauren yang berusaha memberanikan diri, tidak menoleh sama sekali. Tak mau menoleh. Dia tidak mau sampai saat menoleh yang dilihatnya hantu.
__ADS_1
Sayangnya, langkah kaki itu semakin kencang. Membuat jantung Mauren semakin kencang. Dia semakin ketakutan.
“Kamu sedang apa?”
Suara berbisik tepat di telinga Mauren terdengar. Suara begitu lirih dengan embusan angin di telinga.
“Achh ... achh ... achh...” Mauren berjongkok dan sambil menutup telinga dengan telapak tangannya. Matanya terpejam agar tidak melihat apa yang baru saja ada di belakangnya.
David terheran-heran. Kenapa istrinya sehisteris itu padahal, dia bertanya lirik. Karena tidak mau membuat Mauren takut, dia segera menyalakan lampu.
“Kamu kenapa ketakutan?” David menatap Mauren yang berjongkok ketakutan. Hal itu membuat David benar-benar merasa lucu sekali.
Mauren segera bangun, dan memukul David. “ Menyebalkan. Kamu membuar aku takut.” Dia kesal sekali karena dibuat takut oleh kehadiran David.
David hanya bisa tertawa. “Jadi kamu pikir aku hantu.” Dia membiarkan Mauren memukulnya.
Mauren terus memukul David. Tadi, langkah kaki David tadi memang tidak terlalu terdengar. Hanya terdengar samar. Jadi jelas dia ketakutan.
“Lihatlah wajahmu pucat.” David tertawa. Senang sekali melihat wajah Mauren yang pucat.
__ADS_1
Mauren yang kesal terus memukul David. Namun, kali ini akhirnya David menghentikan aksi Mauren. Dia menatap Mauren lekat.
Tatapan itu sudah hafal tatapan apa itu.
Mauren mendapati tatapan itu adalah tatapan ketika perlahan David akan menciumnya. Karena tak mau itu terjadi, Mauren segera mendorong tubuh David.
“Menyebalkan.” Mauren berbalik dan segera mengambil gelas. Mengisinya dengan air, dan melegakan tenggorokannya. Tak hanya minum saja, Mauren juga membawa gelas berisi air ke dalam kamar.
David tersenyum ketika Mauren menghindari tatapannya. Tentu saja itu sangat membuatnya lucu.
“Awas hati-hati ada hantu di kamarmu.” Saat melintas di sampingnya, David menggoda Mauren.
“Kamu itu hantunya.” Mauren mencibir David dan terus mengayunkan langkahnya. Dia tidak akan takut seperti tadi apalagi ketika lampu menyala.
David tersenyum melihat Mauren yang telah pergi. Dia pun memilih untuk membuat kopi karena tiba-tiba tidak bisa tidur.
Mauren yang di kamar pun segera meletakkan gelas di atas nakas. Kemudian masuk ke dalam selimut lagi. Setelah tenggorokannya lega karena minum, kini tinggal dirinya pergi tidur. Dia membayangkan tidurnya akan nyenyak malam ini.
Baru Mauren hendak memejamkan mata, tiba-tiba lampu mati. Mauren yang seketika takut, langsung berteriak. “David.” Dia memanggil suaminya karena takut.
__ADS_1