Bukan Suami Yang Diinginkan

Bukan Suami Yang Diinginkan
Bab 26


__ADS_3

Sehari sebelum hari pernikahan Mauren akan tinggal di hotel. Dia menepati janjinya pada David untuk tinggal di hotel. Lagi pula, dia tidak berniat kabur juga.


Suara bel yang terdengar membuat Mauren segera membuka pintu. Dia menduga itu adalah David.


“Hai.”


Dugaan Mauren salah. Karena ternyata itu adalah Arriel. Temannyalah yang datang ke apartemen.


“Kamu ke sini?” Mauren sedikit terkejut karena Arriel datang ke apartemennya. Temannya itu tidak mengatakan apa-apa sebelumnya.


“Aku belum terlambat ternyata. Aku pikir kamu sudah berangkat.” Arriel tersenyum. Dia merasa jika Mauren sudah berangkat ke hotel.


“Aku belum berangkat.” Mauren melebarkan pintu kamarnya. Mempersilakan Arriel masuk.


“Baguslah, kalau begitu apa yang bisa aku bantu?” Arriel memang sengaja datang untuk membantu. Sewaktu pernikahannya, Mauren membantunya. Jadi kali ini, dia pun ingin membantu Mauren juga.


“Aku sudah mempersiapkan semua. Jadi tinggal membawanya.” Mauren mengalihkan pandangan pada dua koper miliknya. Satu koper berisi gaun pernikahan, sedangkan satu koper lagi berisi pakaiannya. Mauren belum punya rencana dengan David setelah ini. Jadi tentu saja dia memilih mempersiapkan diri. Takut-takut tiba-tiba David mengajaknya untuk pulang ke rumahnya.


“Baiklah, ayo kita bawa.” Arriel segera menarik koper yang sudah disiapkan oleh Mauren.

__ADS_1


Mauren menarik satu kopernya. Bersama Arriel mereka ke tempat parkir. Mereka berjalan sambil menarik koper semuanya.


“Apa kalian akan bulan madu?” tanya Arriel menggoda Mauren.


“Tidak, aku tidak pergi untuk bulan madu.” Mauren tidak memikirkan hal itu. Dia hanya fokus menikah.


“Apa kamu tidak mau mencoba lagi?” Arriel menyeringai.


Mauren menatap malas. Dia tidak akan melakukan hal itu. Bersama David, dia sudah membuat perjanjian. Jika mereka tidak akan melakukan hal itu.


“Tidak.”


“Aku pikir sekali kamu mencicip, pasti kamu ketagihan.”


“Tergantung dengan siapa.” Mauren tertawa. Bersama David, dia memang menahan diri. Mauren tidak mau terjebak dalam pesona David dan melakukan kesalahan lagi.


Mereka berdua ke hotel dengan model Arriel. Mauren sengaja tidak membawa mobil, mengingat dia akan bersama David. Jadi mereka akan menggunakan mobil David.


Mereka sampai di hotel. David tadi sudah memesankan kamar hotel untuk Mauren. Jadi Mauren tinggal masuk saja.

__ADS_1


Kamar tidak terlalu besar. Pas untuk Mauren yang sendiri.


Mauren dan Arriel masuk. Mereka meletakkan koper di dekat tempat tidur.


“Apa kamu butuh bantuan lain?” Arriel menatap temannya itu.


“Tidak, aku tidak butuh apa-apa. Terima kasih.” Mauren merasa semua sudah aman. Semua barang sudah dibawa. Jadi tidak ada yang terlewatkan.


“Aku akan datang besok pagi.” Arriel memilih berpamitan jika memang Mauren sudah tidak memerlukan sesuatu.


“Baiklah.” Mauren mengangguk.


Mauren mengantarkan Arriel sampai pintu kamar. Dia melambaikan tangannya melepaskan kepulangan temannya.


Saat Arriel sudah hilang dari pandangan, Mauren langsung masuk ke kamar. Dia segera membuka koper berisi gaunnya. Memastikan gaunnya rapi. Mauren memilih menggantungnya.


Melihat gaun pengantin yang dipilih bersama David, Mauren sejenak termangu. Rasanya, dia tidak menyangka jika akan menikah dengan lagi. Lima tahun menjanda, nyatanya berakhir dengan orang yang sifatnya sama dengan mantan suaminya. Itu semua adalah karena kesalahan semalam yang diperbuatnya.


“Aku tidak bisa berharap banyak dengan pernikahan ini. Jika Tuhan memang menakdirkan aku menikah dengan David. Artinya Tuhan punya rencana baik untukku.” Untuk saat ini, memang tak banyak yang diharapkan Mauren. Dia ingin seperti air yang mengalih membawanya ke muara.

__ADS_1


__ADS_2