Bukan Suami Yang Diinginkan

Bukan Suami Yang Diinginkan
Bab 37


__ADS_3

David dan Mauren saling pandang. David mengangsur tubuhnya. Tangannya merengkuh pinggang Mauren dan segera mendaratkan bibirnya. Gerakan cepat David, tentu saja membuat Mauren tak bisa menghindar.


Mauren dalam keadaan sadar. Jadi tentu saja dia menolak apa yang dilakukan David. Dia segera mendorong tubuh David. Namun, David seolah tak melepaskannya. Dia terus mencium Mauren.


Dengan segenap tenaga, Mauren mendorong David. Hingga akhirnya tubuh David terjatuh ke dalam air.


“Dasar.” Mauren yang kesal segera keluar dari kolam renang. David benar-benar merusak kenikmatannya. Baru saja menikmati berenang, sudah terusik oleh aksi David.


David mengapung di kolam renang. Dia tampak tenang ketika Mauren baru saja pergi karena kesal. Tentu saja itu membuatnya merasa lucu. David sedikit merutuki kesalahannya. Karena terlalu terburu-buru untuk mencium Mauren.


Mauren memilih berjemur di pinggir kolam renang. Sambil menikmati minuman dingin yang disediakan oleh pihak vila.


David masih berenang. Menikmati air dingin yang mengenai kulitnya. Lumayan air dingin yang mengenai kulitnya dapat meredakan panas yang dirasakannya.


Mauren yang berada di tepi kolam renang melemparkan tatapan sinis. David benar-benar membuatnya kesenangannya berantakan sekali. David sendiri justru asyik menikmati berenang.

__ADS_1


“Jangan marah seperti itu.” David menyeringai sambil keluar dari kolam renang. Dia menghampiri Mauren dan duduk di kursi yang berada di sebelah Mauren.


Melihat David yang naik ke permukaan, membuat Mauren segera menutupi tubuhnya dengan jubah handuk. Tak mau tubuhnya dilihat David.


“Kamu sudah bilang bukan jika tidak akan menyentuh aku!” Mauren yang tadinya diam, akhirnya bicara juga. Meluapkan rasa kesalnya itu. David sudah memancingnya bicara, jadi tentu saja menjadi ajang dirinya meluapkan kesal.


“Aku khilaf. Tadi terlalu terpesona melihatmu di depanku.” David memberikan alasannya.


“Harusnya kamu bisa menahan diri.” Mauren masih tidak terima dengan apa yang dilakukan David.


“Sudah jangan marah. Ayo makan.” David menghentikan aksi Mauren. Dia segera berdiri. Dia segera pergi untuk membersihkan diri. Pihak vila sedang menyiapkan makan. Jadi sambil menunggu makanan siap, dia membersihkan diri lebih dulu.


Mauren ingin marah, tetapi tidak bisa. Entah kenapa, dia tidak bisa marah pada David. Jika boleh jujur, Mauren juga menikmati ciuman itu. Hanya saja dia harus menyadarkan dirinya. Karena jika terlalu terlena. Yang ada dia akan jatuh ke lubang yang sama.


Mauren segera berdiri. Dia juga harus membersihkan tubuhnya sebelum makan. Jadi dia bisa menikmati makan dengan tenang.

__ADS_1


...****************...


David yang keluar lebih dulu, segera menuju ke meja makan. Meja makan tersaji makanan yang lengkap. Ada udang, cumi-cumi, ikan, dan kepiting. Semua tersaji dengan berbagai olahan.


Sesaat kemudian Mauren keluar dari kamarnya. Dia begitu antusias ketika melihat makanan di atas meja.


“Wah ... tampaknya enak.” Sejenak Mauren lupa dengan rasa kesalnya.


“Ayo makan kalau begitu.” David segera menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya.


Mauren melakukan hal yang sama. Duduk di kursi dan segera mencicipi makanan yang ada. Mauren begitu lahap sekali makan. Makanan laut terasa manis dan segar. Sehingga membuatnya tak henti menikmati makanan yang ada di depannya.


David melihat jelas Mauren yang lahap makan. Sepertinya kini dia tahu apa yang bisa meluluhkan hati Mauren jika kesal. Apalagi jika bukan makan.


“Setelah ini kita ke pantai. Kita lihat matahari terbenam.” David memberitahu istrinya itu. Berharap ajakannya dapat membuat sang istri dapat melupakan rasa kesalnya.

__ADS_1


“Aku tak sabar melihat matahari terbenam.” Mauren semakin bersemangat makannya. Dia ingin segera ke pantai setelah makan.


__ADS_2