Bukan Suami Yang Diinginkan

Bukan Suami Yang Diinginkan
Bab 40


__ADS_3

David tertawa. Dia sengaja mematikan lampu. Mengerjai Mauren. Entah kenapa dia senang sekali mengerjai istrinya itu.


“Iya.” David segera bergegas ke kamar Mauren. Mengecek keadaan Mauren.


David berjalan dengan menggunakan lampu ponselnya. Saat minta terbuka, tanpa David sadari Mauren langsung memeluknya.


“Aku takut lampunya mati.” Mauren memeluk David erat. Di tempat asing. Dengan keadaan lampu mati, tentu saja membuat Mauren begitu ketakutan.


David tidak menyangka reaksi Mauren akan seperti ini. Padahal jelas dia hanya ingin membuat Mauren sedikit takut saja.


“Tenanglah, aku di sini.” David mencoba menenangkan sang istri.


“Kenapa juga vila mati lampunya. Apa dia tidak menyediakan sesuatu agar lampu tidak mati?” Di dalam pelukan David, Mauren melayangkan protesnya.


“Aku tidak tahu. Mungkin ada. Hanya saja harus dinyalakan. Pemilik vila biasanya pulang saat malam. Jadi dia tidak tahu lampu mati. Aku akan coba menghubungi.”


David mematikan layar ponselnya. Agar dapat menghubungi pemilik vila. Namun, saat lampu ponsel mati, Mauren justru mengencangkan pelukannya. Mauren semakin ketakutan.


“Halo, Pak. Lampunya mati. Apa ada mesin genset di sini?” tanya David pada pemilik vila melalui sambungan telepon.


“Ada, Pak. Lihat saja di dekat kolam renang.” Pemilik vila memberitahu David.


“Baiklah, saya akan mengeceknya.” David pun memilih untuk mematikan sambungan telepon. Berniat untuk pura-pura mencari menyalakan lampu. David beralih pada Mauren. “Aku akan menyalakan genset dulu.” Dia meminta Mauren untuk melepaskan tubuhnya.


“Tidak mau. Aku tidak mau ditinggal.” Mauren semakin mengeratkan pelukannya. Dia merasa jika Mauren benar-benar seperti anak koala yang menempel.

__ADS_1


“Lalu bagaimana caranya aku mau pergi menyalakan lampu?” Dia senang saat dipeluk Mauren. Namun, tidak nyaman ketika Mauren terus menempel. Jadi kesulitan bergerak.


“Aku ikut saja.” Mauren tidak mau sampai kehilangan David. Pastinya akan membuat semakin ketakutan.


David bingung. Saat Mauren mau ikut. Jika seperti itu. Jelas Mauren akan tahu jika dirinya akan membuat drama mati lampu.


“Baiklah, ikutlah, tapi lepaskan aku dulu. Aku tidak akan bisa berjalan jika kamu tidak melepaskan aku.”


Seketika Mauren melepaskan pelukan pada David. Namun, langsung beralih pada lengan suaminya itu. Tak mau melepaskan suaminya itu.


David hanya bisa pasrah. Dia berjalan dengan terus menggandeng istrinya. Tempat yang David tuju adalah di dekat kolam renang. Mauren masih memegangi tangan David. Tak mau melepaskan sama sekali. Hal itu membuat David tidak bisa bergerak.


Saat keluar suasana begitu gelap. Langit malam yang biasanya dihiasi dengan bulan dan bintang pun tak tampak sama sekali. Suasana tampak mencekam sekali.


Mauren melirik malas pada David.


Bisa-bisanya dipanggil ‘istriku’. Panggilan itu terdengar menggelikan Sekali.


“Cepat lepaskan.” David menggoyangkan tubuh Mauren.


Mauren melepaskan, tetapi beralih ke baju David. Memeganginya erat agar tidak jauh-jauh dari suaminya itu.


David segera menghidupkan genset. Sejujurnya, dia tidak tahu cara menyalakannya, tapi pura-pura bisa. Agar Mauren tidak curiga.


“Kenapa lama sekali?” tanya Mauren.

__ADS_1


“Tidak mau menyala.” David memberitahu sang istri.


“Kalau begitu telepon lagi saja pemilik vila.” Mauren memberikan saran.


David segera menelepon pemilik vila, tetapi sambungan tak terhubung. Bagaimana bisa terhubung jika yang ditelepon mantan karyawannya, yang nomornya tidak aktif.


“Tidak diangkat.” David memberitahu Mauren.


“Lalu bagaimana?” Mauren bingung dalam keadaan ini.


“Iya, mau bagaimana lagi. Kita tidur gelap-gelapan.” David menahan tawanya. Pasti istrinya itu kesal sekali karena menempatkan dalam keadaan tidak nyaman.


Seperti dugaan David, Mauren sangat kesal. Namun, tidak bisa berkata apa-apa. “Baiklah, kalau begitu.” Mauren akhirnya pasrah.


David tersenyum. Akhirnya aksinya gelap-gelapan lancar juga. Dengan segera David masuk ke dalam vila lagi. Diayunkannya melewati kamar Mauren.


“Kamu mau ke mana?” Mauren yang sedari tadi memegangi baju David menariknya.


“Ke lantai atas.” David menunjuk tangannya ke lantai atas, meskipun tangannya tidak kelihatan di dalam kegelapan.


“Aku tidak mau ditinggal sendiri.” Mauren jelas takut.


“Lalu kamu mau apa?”


“Temani aku.” Dengan berat hati Mauren meminta David untuk tetap tinggal bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2