
“Jangan dipikirkan apa yang dikatakan papa.” David menatap Mauren yang sedang membersihkan wajahnya di depan cermin.
Mauren melirik David yang berada di tempat tidur. “Aku tidak memikirkannya.”
Walaupun sebenarnya Mauren memikirkan hal itu, tetapi dia memilih berbohong pada David. Sebenarnya, dia lebih kasihan pada Pak Dewa, karena tampak ingin punya cucu. Namun, beruntung Arriel sekarang hamil. Jadi paling tidak, dia tidak harus terburu-buru untuk memiliki anak. Lagi pula, bagaimana bisa dia punya anak jika dia dan David saja tidak pernah saling menyentuh.
“Bagus jika kamu tidak memikirkannya.” David segera merebahkan tubuhnya menikmati beristirahat.
Mauren yang selesai membersihkan wajahnya segera ikut merebahkan tubuhnya. Sudah cukup lama Mauren dan David tidur bersama. Namun, sesuai kesepakatan, mereka tetap tidak akan melakukan apa-apa.
David memiringkan tubuhnya. Menatap Mauren. Melihat istrinya yang cantik di depan mata kadang pikiran jahat di kepala David suka muncul. Sayangnya, janjinya tetap harus dipegang. Jadi tentu saja dia tidak akan melakukan hal itu tanpa izin Mauren.
“Ren, kamu bilang kita berteman. Apa teman bisa pergi kencan berdua?” Pertanyaan itu terlontar saat David memandangi Mauren.
__ADS_1
Muaren menatap David sinis. Itu bukan pertanyaan, lebih tepatnya adalah sebuah ajakan. “Mana ada teman berkencan. Yang berkencan itu pacar.”
Davis berdecak. Kemudian mengembuskan napasnya. Ternyata dia tidak bisa berkencan dengan Mauren. Tentu saja itu membuatnya merasa kecewa.
“Jika kamu ingin pergi jalan denganku, aku tidak keberatan.” Mauren sadar. Berlaku keras pada David terkadang memang terlalu kejam. Jadi sesekali dia ingin berlaku baik. Apalagi, David sudah menepati janjinya untuk tidak menyentuhnya. Tentu saja itu adalah sebuah hal yang hebat yang perlu diapresiasi.
David seketika berbinar. Tidak menyangka jika Mauren mau pergi bersamanya. “Benarkah?” tanya David memastikan.
“Jelaskan dulu aneh versi kamu. Aku mana tahu aneh versimu seperti apa?”
Mauren memikirkan apa yang menurutnya aneh. “Jangan pergi ke hotel. Jangan pergi ke puncak yang harus menginap. Jangan … intinya jangan berbau-bau menginap. Satu lagi, jangan buat suasana romantis apa pun itu.” Mauren menjelaskan tempat-tempat aneh sesuai dengan versinya.
David rasanya ingin tertawa. Aneh versi Mauren adalah tempat-tempat yang memicu keinginan untuk bermesraan. David tahu jika Mauren takut terbawa suasana. Jadi dia memilih menghindari tempat-tempat itu.
__ADS_1
“Baiklah, kita tidak akan ada agenda ke hotel. Lagi pula aku hanya ingin mengajakmu menonton, makan, dan berbelanja.” David menjelaskan ke mana dirinya akan mengajak Mauren.
Ternyata dia mau mengajak aku untuk itu.
Mauren sudah curiga saja. Karena itu dia sudah memberikan larangan. Ternyata, David hanya ingin pergi dengannya ke tempat-tempat itu.
“Tapi, kamu tahu ‘kan, aku tidak libur di akhir pekan, jadi bagaimana?” tanya Mauren. Dia memang kerja saat akhir pekan. Maklum, toko milik Arriel selalu buka di akhir pekan.
“Tidak masalah. Aku bisa libur kapan saja. Kapan pun kamu libur, aku akan usahakan untuk libur. Setelah itu kita akan pergi bersama.” Davis tidak masalah. Lagi pula siapa yang akan memprotesnya jika tidak datang ke kantor.
“Baiklah, kita pergi hari kamis.” Mauren memberitahu kapan dia akan libur.
“Baiklah.” David setuju.
__ADS_1