
“Untuk apa aku melihatnya?” Mauren merasa jika tidak mau melihat video tersebut. Yang ada justru akan membuatnya pusing sendiri. Karena mengingat kesalahannya kala itu.
“Harusnya kamu mengecek dulu apakah video itu asli atau palsu. Jika hanya editan saja bagaimana?” David menatap Mauren yang berada di sebelahnya.
Mauren langsung menoleh. Dia begitu terkejut ketika mendapati pertanyaan David.
“Kamu mengedit videonya?” Mauren memastikan. Dia curiga jika David membuat video palsu untuk membuatnya menikah.
David menaikkan bahunya. “Harusnya kamu cek dulu.” Dia merasa jika Mauren sangat ceroboh sekali.
“Jelaskan jika video itu benar editan?” Mauren seketika merasa jika memang tidak pernah ada video.
“Editan atau tidak, jawabannya ada di video yang kamu hapus. Jadi artinya. Kamu harus mengecek sendiri.” David berangsur bangun.
Mauren terperangah. Dia memikirkan jika bisa saja David membohonginya dengan video palsu. Jelas hal itu yang paling bodoh yang dilakukannya. Karena terjebak pada David yang membohonginya.
__ADS_1
Mauren segera berangsur bangun. Dia langsung menatap David. “Katakan apakah ada file lain selain ini?” tanyanya ingin tahu. Kali ini Mauren ingin melihat video itu. Mauren sambil memberikan ponsel pada David untuk mengecek file video itu.
David meraih ponselnya. “Hanya ada satu file. Bagaimana bisa kamu meminta mengeceknya?” David memutar bola matanya malas.
Mauren menyesali kebodohannya karena tidak melihat video itu lebih dulu. Main asal hapus saja.
“Anggap saja memang itu video kita. Jangan pikirkan macam-macam.” David menyeringai. Tangannya langsung bergerak melepaskan dasi yang melingkar di kerah kemejanya. Dia berusaha untuk menenangkan Mauren.
Mauren hanya bisa mengembuskan napasnya. Rasanya kesal karena David tidak memberikan file yang dimintanya.
Mauren menggerutu kesal dia
memukul-mukul tempat tidur. Masih merutuki kebodohannya.
“Terserah mau asli atau editan. Yang penting aku sudah hapus. Masalah selesai.” Mauren merasa harus melupakannya. Masalah editan atau bukan. Itu bukan masalah baginya.
__ADS_1
Mauren segera berangsur bangun dari tempat tidur. Dilihatnya tempat tidur begitu berantakan sekali. Bunga-bunga yang tadi rapi di atas tempat tidur menandakan jika tadi dirinya dan David bertengkar begitu hebatnya.
Mauren yang berdiri, segera bergerak melepas perhiasan yang melekat di tubuhnya. Mauren membuka lemari. Mengecek tasnya dan koper miliknya. Ternyata tas dan kopernya ada di sana. Tadi Mauren sudah meminta Arriel untuk membawa kopernya ke kamar pengantin. Arriel akhirnya meminta pihak WO untuk membantunya. Menaruh tas dan koper Mauren di kamar.
Mauren mengambil tasnya. Kemudian menyimpan perhiasan di dalam tas. Memastikan perhiasan yang diberikan David aman. Perhiasan koleksi terbaru dari Malya Jewelry itu memang sangat indah. David yang kala itu membelinya, ternyata memberikannya pada Mauren.
Saat sedang sibuk melepaskan perhiasan, David tiba-tiba keluar dari kamar mandi, hanya dengan memakai handuk di pinggang. Hal itu membuat Mauren menjerit.
“Ach ... kenapa kamu memakai handuk saja?” Mauren segera berbalik agar tidak melihat David. Walaupun Mauren pernah tidur dengan David, kala itu dia setengah sadar melihat tubuh David. Jadi wajar jika dia terkejut kali ini.
“Memangnya kenapa?” David berjalan dengan santainya. “Kamu seperti baru pertama melihat aku telanjang saja.” David tersenyum.
Mauren kesal sekali. Bisa-bisanya David mengingatkan kejadian itu. “Itu beda. Sekarang aku sadar. Jadi kamu harusnya memakai pakaianmu.”
“Aku tidak mau.” Dengan entengnya David menjawab.
__ADS_1
Mauren benar-benar diuji dengan apa yang dilakukan David. Selalu saja tidak mau mengalah.