Bukan Suami Yang Diinginkan

Bukan Suami Yang Diinginkan
Bab 45


__ADS_3

Seminggu David dan Mauren menjadi sepasang suami istri. Mereka sudah melakukan aktivitas seperti biasa. David sudah bekerja di kantor seperti biasa, Mauren sudah bekerja seperti biasa.


Seminggu ini David tidur di sofa. Tidak ada interaksi antara Mauren dan David selama berada di kamar. Mereka mereka melakukan hal yang biasa dilakukannya begitu saja.


Mauren baru saja selesai membantu merapikan sisa makan malam. Namun, dia tidak mendapati sang suami di ruang keluarga. Padahal papanya masih berada di ruang keluarga. Saat Mauren menanyakan pada Pak Dewa, ternyata suaminya sudah di kamar. Mauren yang selesai merapikan makan malam, memilih segera ke kamar.


Saat membuka pintu tampak David sedang sibuk memijat kakinya. Mauren yang melihat merasa bingung. Kenapa tumben suaminya melakukan hal itu.


“Kamu kenapa?” tanya Mauren seraya mengayunkan langkahnya masuk.


“Pegal. Mungkin karena saat tidur kakiku menggantung.” David menjawab sambil memijat kakinya.


Mauren teringat jika David tidur di sofa. Tentu saja dia tidak nyaman sama sekali. Jadi tentu saja itu membuatnya jadi merasa bersalah.


Langkah Mauren diayunkan ke sofa di mana David berada. Dia duduk dan segera ikut memijat kaki David.


David cukup terkejut dengan yang dilakukan Mauren tiba-tiba. Tidak menyangka jika ternyata Mauren mau memijatnya. Tentu saja itu tidak dilepaskan oleh David.


“Wah ... kamu belajar memijat di mana?” David menatap sang istri.


“Mana ada belajar. Itu karena terlalu sering memijat saja.” Mauren terus memijat kaki David.


David merasakan pijatan Mauren cukup enak. “Siapa yang kamu pijat?” tanyanya.


“Aku sering memijat ....” Mauren menggantung ucapannya ketika mendapati jika dia hampir saja mengatakan siapa yang dipijat. Sejujurnya hal ini sering dilakukannya pada mantan suaminya.

__ADS_1


David bisa menebak siapa yang dipijat istrinya itu saat Mauren menggantung ucapannya. Namun, dia juga tidak mau membahas mantan suami Mauren.


“Ren, bolehkah aku tidur di tempat tidur? Kakiku sakit karena menggantung kakiku.” David menatap Mauren penuh harap. Dia sadar jika selama ini dia tidak terbiasa tidur di sofa. Jadi wajar jika merasa sakit.


“Tidurlah bersamaku.” Mauren jelas tidak tega melihat suaminya sakit. Jika harus berbagi, kenapa tidak.


David berbinar. Rasanya tidak sabar menunggu tidur bersama Mauren. Tentu saja pasti sangat mengasyikkan.


“Tapi, awas jika macam-macam.” Mauren memberikan peringatan pada David.


Baru saja David merasa senang, tiba-tiba, dia merasa sedih. Karena tiba-tiba Mauren mengancamnya.


“Iya.” David mengangguk. Dari pada tidur di sofa lagi. Lebih baik dia tidur di tempat tidur dan tidak macam-macam.


Mauren memijat kaki David. Dia hanya memijat sebatas betis saja. Tidak ke mana-mana.


Mauren langsung melayangkan tinju pada suaminya itu. David hanya membalas dengan tawa. Dia tahu jika sang istri tidak benar-benar marah.


“Sudah.” Mauren berdiri. Dia segera beralih untuk mencuci mukanya dan membersihkan wajahnya. Rutinitas yang dilakukannya setiap malam.


Sambil menunggu Mauren, David memilih untuk berpindah ke tempat tidur. Rasanya tidak sabar berada di tempat tidur bersama Mauren.


“Astaga, nyamannya.” David akhirnya merasakan tempat tidur setelah sekian lama.


Mauren yang duduk di kursi di depan cermin hanya tersenyum saja. Merasa lucu dengan aksi David.

__ADS_1


“Vid.” Mauren menatap David.


David mengalihkan pandangannya pada sang istri. “Apa?” tanyanya.


“Bisakah kita berteman?” Mauren sadar hubungannya dengan David sudah terikat pernikahan. Namun, untuk mencintai dan menerima David, tentu saja tidak semudah itu.


Sakit mendengar perkataan Mauren itu. Dia merasa jika Mauren seolah ingin memberikan batasannya. Namun, David harusnya bersyukur, Mauren tidak berniat menjauh darinya.


“Tentu saja.” David setuju. Mungkin berawal dari berteman, lama-lama perasaan cinta akan muncul di hati Mauren.


Mauren tersenyum. Jika David mau menjadi temannya. Paling tidak, dia tidak akan takut David menyentuhnya.


“Karena kita berteman. Jadi kita tahu batasan antara teman.” Mauren dengan semangatnya naik ke atas tempat tidur.


“Batasan apa?” David menatap Mauren.


“Batasan jika kamu tidak akan menyentuh temanmu sendiri.” Mauren mencoba menjelaskan.


“Kenapa tidak boleh menyentuh?” David menatap dengan wajah serius.


“Iya, karena kita berteman.”


“Justru teman, kita harus bersentuhan.” David menjelaskan.


Mauren menatap David dengan alis yang saling bertautan. Dia merasa bingung dengan maksud David. “Teman apa yang kamu maksud?” Dia yang penasaran bertanya.

__ADS_1


“Teman tidur.” David menyeringai.


__ADS_2