Bukan Suami Yang Diinginkan

Bukan Suami Yang Diinginkan
Ban 22


__ADS_3

David menatap Mauren. Tiba-tiba hatinya terasa sakit mendengar hal itu. Dirinya juga sudah tidak memiliki ibu. Namun, dia memilih papa yang begitu sangat baik.


“Apa orang tuamu sudah meninggal?” tanya David memastikan.


“Iya, mereka sudah meninggal sejak aku kuliah.” Mauren memberitahu David.


“Apa tidak ada keluarga yang bisa mewakilkan?” David kembali bertanya.


“Tidak. Dulu ibu dan ayahku merantau ke Jakarta. Setelah itu mereka tidak pernah berkomunikasi dengan keluarga. Aku juga tidak pernah tahu keluarga dari orang tua saya.” Mauren menceritakan pada David dan papanya. Sebenarnya dia ragu menceritakan ini semua. Namun, dia tidak mau menutupi keadaannya.


Pak Dewa merasa iba. Artinya Mauren tidak punya siapa-siapa. Tentu saja itu membuatnya tidak tega sama sekali. Karena jelas pasti berat tinggal dengan orang tua.


“Tidak masalah. Jika tidak ada keluarga, tidak perlu ada lamaran. Kalian langsung saja menyiapkan semua pernikahan.” Pak Dewa mengambil jalan tengah. Dia merasa jika memang tidak ada salahnya jika tidak ada lamaran.


“Baiklah, Pa. Aku akan urus.” David mengangguk.


Mauren benar-benar masih dalam kebingungannya. Orang-orang kaya ini memang seolah mudah sekali membahas pernikahan. Padahal mengingat dulu bagaimana dirinya dan mantan suami menyiapkan pernikahan membuatnya pusing tujuh keliling.


“Jika butuh apa-apa kalian bisa katakan pada Papa.” Pak Dewa menatap David dan juga beralih pada Mauren.


“Iya, Pa.” David kembali mengangguk.


“Baik, Pak.” Mauren pun ikut mengangguk.


Mereka melanjutkan obrolan. David menceritakan rencana pernikahan. Rencananya David akan mengadakan pernikahan di hotel. Dia juga akan mengundang klien-kliennya juga. Besok David mulai akan mendata kliennya tersebut.


Mauren mendengarkan dengan saksama. Dia hanya menjadi pendengar yang baik. Karena David seolah sudah lancar sekali menjelaskan. Seolah pernikahan itu memang benar-benar sudah matang sekali.

__ADS_1


“Maaf sebelumnya. Saya ingin mengatakan


sesuatu.” Mauren memotong obrolan antara David dan papanya.


Dua orang itu langsung mengalihkan


pandangan pada Mauren. Menunggu apa yang akan dibicarakan oleh Mauren.


“Saya ingun menjelaskan pada Pak Dewa jika saya seorang janda.” Mauren sejak tadi tak mendengar David membicarakan hal itu. Jadi dia memilih untuk memberitahu.


David terperangah. Dia pikir. Mauren akan mengungkapkan ide pernikahannya. Namun, ternyata jauh dari dugaannya. Mauren justru membahas statusnya.


Pak Dewa langsung menatap David. Dia meminta penjelasan dari David. Melihat tatapan sang papa, jelas David menelan salivanya. Dia memang menunggu momen pas saja menceritakan itu. Sayangnya, Mauren sudah memulai lebih dulu.


“Mauren pernah menikah, Pa. Pernikahannya gagal. Dia sudah menjanda selama ....” Bodohnya David, dia tidak banyak tahu tentang Mauren. Jadi dia tidak bisa menjelaskan pada Mauren.


Untuk sesaat Pak Dewa terdiam. Diamnya Pak Dewa itu membuat David dan Mauren takut. Takut jika Pak Dewa tidak mengizinkan mereka menikah.


“Aku tidak masalah dengan statusmu. Yang terpenting kamu orang baik.” Pak Dewa sadar anaknya tidak sesempurna itu untuk menuntut mendapatkan wanita yang baik. Jadi tentu saja dia tidak mempermasalahkan itu.


David merasa lega. Karena ternyata papanya menerima. David jelas bersyukur.


Mauren tidak menyangka jika Pak Dewa tidak keberatan. Jika sudah begini. Jelas Mauren jauh lebih tenang. Karena tidak akan diungkit kelak masalah pernikahannya itu.


Usai berbincang sebentar, mereka melanjutkan makan. Pak Dewa memperlakukan Mauren begitu baik, hingga dia merasa nyaman.


“Kamu bekerja di mana?” Di sela-sela makan, Pak Dewa bertanya.

__ADS_1


“Saya bekerja di toko perhiasan Malya.” Mauren menjelaskan pada Pak Dewa.


Mendengar nama toko perhiasan itu membuat Pak Dewa mengingat sesuatu.


“Toko perhiasan Arriel?” tanyanya memastikan.


“Iya.” Mauren mengangguk.


“Wah ... padahal waktu itu aku ingin mengenalkan Arriel pada David, sayangnya dia kini sudah menikah.” Pak Dewa tersenyum.


“Pa.” David mengingatkan papanya untuk tidak mengungkit Arriel. Takut Mauren tersinggung.


“Maaf, Ren.” Pak Dewa jadi merasa tidak enak. Karena akhirnya justru membuat Mauren tidak nyaman dengan pembahasannya.


“Tidak apa-apa, Pak.” Jelas Mauren tidak tersinggung. Karena memang dia tahu jika sejak awal pertemuannya dengan David karena Arriel. Jika tidak nekat menemui pria yang akan dikenalkan oleh mama Arriel, mungkin dia tidak ada di sini bersama David.


Mereka melanjutkan makan. Sesekali mengobrol ringan. Mauren pun larut dengan obrolan itu. Dia tampak bisa mengimbangi setiap obrolan yang dilakukan.


“Saya permisi ke toilet dulu.” Ketika Mauren sudah selesai makan, dia izin sebentar.


Pak Dewa pun mengangguk. Mengizinkan Mauren untuk ke toilet. David tadi mau mengantarkan Mauren, tetapi Mauren melarang. Karena merasa bisa pergi sendiri.


Akhirnya, David hanya memberitahu di mana letak toilet. Mauren pun segera pergi setelah tahu ke mana harus melangkah.


“Bagaimana menurut Papa?” tanya David ketika Mauren pergi. Dia ingin tahu apa pendapat papanya tentang Mauren.


“Papa tidak masalah. Dia wanita yang baik.” Pak Dewa memberikan pendapatnya. “Papa setuju saja,” imbuh Pak Dewa.

__ADS_1


David lega ketika papanya setuju. Jadi paling tidak, dia aman. Tidak akan dipecat dari perusahaan. Akan tetap menjadi CEO Janitra.


__ADS_2