Bukan Suami Yang Diinginkan

Bukan Suami Yang Diinginkan
Bab 42


__ADS_3

Mauren membuat secangkir kopi. Dia ingin menghangatkan tubuhnya di pagi hari. Mauren memilih menikmati kopi hangatnya di pinggir kolam. Dia merasa tempat yang nyaman untuk menikmati minuman hangat tersebut.


Mauren duduk sambil memerhatikan


David membuka pintu kaca yang berada di kamar. Dengan percaya diri David keluar. Meregangkan otot-ototnya.


Dari kejauhan Mauren memerhatikan David. Pria itu memeluknya semalaman. Mauren akui jika tidurnya begitu nyenyak sekali ketika berada di dekat David.


“Kamu sudah bangun ternyata.” David yang mengalihkan pandangan pada Mauren. Padahal dia sudah mengintip Mauren lebih dulu.


“Iya.” Mauren menjawab singkat.


David segera menghampiri Mauren. Mendaratkan tubuhnya di atas kursi. Tanpa berbasa-basi, dia meraih cangkir berisi kopi milik Mauren. Seolah tak merasa bersalah sama sekali.


Mauren hanya terperangah melihat David.

__ADS_1


Namun, dia terlalu lelah untuk berdebat pagi-pagi. Dia membiarkan David meminum kopi miliknya.


“Kita kembali hari ini saja.” Mauren segera memberitahu David.


“Kenapa kembali cepat-cepat?” David merasa jika sayang sekali jika mereka harus kembali lebih awal. Padahal baru saja dia menikmati kedekatannya dengan Mauren.


“Aku tidak mau menginap di vila gelap-gelapan.” Mauren tidak mau berlama-lama tentunya. Jadi dia lebih memilih untuk segera pulang.


David kali ini menyesali keputusannya yang mematikan lampu. Selain keuntungan pelukan, dia akhirnya mendapatkan kerugian. Di mana Mauren meminta pulang lebih awal.


“Aku akan minta pegawai vila untuk menyalakan lampu nanti.” David berusaha untuk membujuk.


David tentu saja tidak bisa memaksa. Mau bulan madu saja sudah membuat David bersyukur. Jadi tentu saja dia tidak mau berdebat dengan Mauren.


“Baiklah.” David menjawab, kemudian menyesap kopi yang sudah diambil alihnya.

__ADS_1


Mauren meraih cangkir yang baru saja diminum David. Alih-alih membuat lagi dia memilih untuk meminum kopinya itu.


David melihat bagaimana Mauren menyesap kopi yang baru saja diminumnya. Secara tidak langsung bibir mereka saling menempel. Walaupun lewat perantara cangkir.


“Masalah curahan hati aku semalam, lupakan saja.” Sambil menyesap kopinya, Mauren memberitahu David. Dia tidak mau dianggap lemah oleh David.


“Aku akan lupakan cerita itu, tapi ada yang aku akan ingat.” David menyeringai.


Mauren menatap curiga. Harusnya dia sadar jika bercerita pada David adalah seperti menyerahkan dirinya pada pemburu. Ketika tahu di mana titik lemahnya, dia akan tertangkap.


“Apa yang kamu ingat?” tanya Mauren.


“Yang aku ingat tentu saja pelukanmu.” David mengedipkan matanya. Dia tahu pasti jika Mauren pasti tidak suka hal itu.


Mauren terdiam. Dia mengingat pasti jika pelukan itu bukan David saja yang ingat. Namun, dirinya juga. Entah kenapa Mauren merasa jika pelukan itu begitu menenangkan. Mungkin karena selama ini tidak ada tempatnya bercerita, selain dengan Arriel. Dengan Arriel pun Mauren menjaga diri untuk tidak banyak membebani temannya itu. Mengingat Arriel punya kehidupan yang lebih berat.

__ADS_1


“Anggap saja, aku sedang berbaik hati karena tidak mempermasalahkan hal itu.” Mauren segera berangsur bangun. Dia segera berlalu masuk ke kamar. Dia ingin bersiap untuk pulang.


David hanya melihatnya dari kejauhan sang istri yang perlahan pergi. “Aku akan membuatmu tidak akan mempermasalahkan semua itu.” David menyeringai. Dia akan membuat Mauren mau menerimanya.


__ADS_2