
“Hasil pemeriksaannya bagus. Rahim Ibu Mauren baik-baik saja. Tidak ada masalah. Jika memang belum hamil, mungkin karena memang belum diberikan saja oleh Tuhan. Tapi, jika ingin lebih memastikan silakan untuk ajak suami periksa.” Dokter menjelaskan pada Mauren.
Mauren bersyukur sekali jika rahimnya baik-baik saja. Terakhir kali memeriksakan rahim adalah saat hendak bercerai. Tuduhan tidak bisa hamil membuat Mauren terluka. Karena ingin membuktikan hal itu, akhirnya dia memeriksakan diri. Saat mendapati kenyataannya jika dia baik-baik saja membuat Mauren senang. Sayangnya, saat itu dia tetap memutuskan bercerai. Karena percuma mempertahankan rumah tangga tidak sehat.
Jelas Mauren tidak hamil sekarang. Karena memang tidak ada yang menyentuhnya. Walaupun sudah menikah dengan David, dia belum sama sekali melakukannya.
“Terima kasih banyak, Dok.” Bagi Mauren ini sudah cukup.
Mauren segera keluar dari ruangan dokter kandungan setelah menyelesaikan pemeriksaan.
Baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan, ponsel Mauren berdering. Mauren segera mengambil ponsel di dalam tasnya. Saat melihat layar ponselnya, dia melihat nama David di sana. Dengan segera Mauren mengangkat sambungan telepon tersebut.
“Ren, kamu di mana?” Suara David terdengar dari seberang sana.
“Aku di ....” Mauren menggantungkan ucapannya ketika melihat David dari kejauhan.
__ADS_1
David yang melihat Mauren dari kejauhan pun juga langsung berhenti bertanya. Pandangan David beralih pada ruangan dokter di mana Mauren berdiri. Ruangan itu adalah spesialis kandungan. Tentu saja banyak pertanyaan di dal benaknya kenapa Mauren ke dokter kandungan.
David segera menghampiri Mauren. “Kamu di sini?” tanyanya ketika berada tepat di depan Mauren.
“Iya, aku baru selesai pemeriksaan. Ayo kita pulang.” Mauren segera berjalan.
David pun segera mengikuti Mauren.
“Apa tidak ada obat yang diambil?” Mauren langsung pergi tanpa ke apotek rumah sakit lebih dulu. Jadi dia begitu penasaran sekali.
David pun terus mengikuti Mauren. Saat di tempat parkir, dia segera masuk ke mobilnya. Disusul Mauren setelahnya. Namun, alih-alih langsung melajukan mobilnya, David justru hanya menyalakannya saja.
“Kenapa tidak segera pergi?” tanya Mauren.
“Ada apa sebenarnya? Pemeriksaan apa yang baru saja kamu lakukan?” David begitu khawatir pada Mauren. Takut jika ada penyakit berbahaya. Dia tidak mau sampai Mauren sakit seperti itu.
__ADS_1
“Bukan pemeriksaan apa-apa. Hanya cek up rutin saja.” Mauren tidak mau mengatakan sesungguhnya. Dia malu jika harus mengatakan mengecek rahimnya.
“Jawab jujur, Ren. Aku yakin ada yang kamu sembunyikan.” David masih belum yakin dengan apa yang dilakukan Mauren. Terlihat dari sorot mata Mauran ada kebohongan.
Mauren tidak kuasa menahan tangisnya. Apalagi baru saja mengingat luka lamanya. “Aku mengecek apakah rahimku baik-baik saja! Aku hanya ingin memastikan jika aku tidak mandul seperti yang mereka bilang.” Sakit rasanya ketika mengingat bagaimana dia dituduh mandul oleh mantan mertuanya. Perselingkuhan sang suami yang sampai menghasilkan anak seolah membenarkan semua itu.
David akhirnya tahu alasan Mauren. Mereka yang dimaksud Mauren pun David juga tahu. Ternyata inilah alasan sesungguhnya perceraian Mauren dan mantan suaminya.
David langsung memeluk Mauren. Menenangkan istrinya itu. Pasti berat ketika mendapatkan tuduhan itu.
Mauren menumpahkan tangisnya. Dia sadar betul jika pertemuan kemarin menyisakan luka untuk Mauren.
“Kamu tidak boleh lemah. Kamu harus kuat. Aku sudah bilang untuk tetap kuat. Jangan pedulikan mereka.” David berusaha menenangkan Mauren.
Mendengar kalimat yang diucapkan David membuat Mauren langsung bersemangat. Dia melepaskan pelukan David dan menatap suaminya.
__ADS_1
“Hamili aku,” pinta Mauren pada David.