Bukan Suami Yang Diinginkan

Bukan Suami Yang Diinginkan
Bab 61


__ADS_3

“Mauren hamil, Pa.” David memberitahu sang papa.


Mendengar hal itu membuat Pak Dewa benar-benar senang. Akhirnya dia akan dapat cucu juga.


“Akhirnya keturunan Janitra hadir juga. Kalian harus menjaga baik-baik.” Pak Dewa tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


“Tenanglah, aku akan menjaganya, Pa.” David melihat rona bahagia sang papa. Dia bersyukur sekali karena akhirnya sang istri hamil juga. Tidak hanya memberikan kebahagiaan untuknya, tetapi untuk sang papa juga.


“Jika kamu mau sesuatu, bilang saja pada papa. Jangan ragu-ragu.” Pak Dewa menatap menantunya.


“Baik, Pa. Aku akan bilang jika menginginkan sesuatu.” Mauren melihat jika mertuanya begitu senang sekali. Kebahagiaan ini ternyata bukan hanya miliknya saja. Namun, juga milik sang papa.


Setelah sarapan Mauren dan David ke rumah sakit. Mereka ingin melihat keadaan anak mereka.


Mauren memberikan alat tes kehamilan miliknya ketika sampai di ruang pemeriksaan dokter. Dokter segera mengecek alat tes kehamilan tersebut serta menanyakan kapan terakhir Mauren datang bulan.


Pemeriksaan berlanjut pada USG kandungan Mauren. Mengecek keadaan kehamilan Mauren.

__ADS_1


“Ada penebalan dinding rahim. Terlihat ada embrio yang berkembang di dalamnya. Selamat Ibu Mauren hamil.” Dokter menjelaskan hal itu pada Mauren.


David mendaratkan kecupan di punggung tangan Mauren. Meluapkan rasa bahagianya karena akhirnya anaknya hadir juga di rahim sang istri.


Mauren melihat layar USG. Walaupun tidak mengerti apa yang di dalam layar, tetapi dia yakin itu adalah gambaran anaknya.


Dokter menjelaskan beberapa hal untuk kehamilan pertama ini. Meminta Mauren dan David untuk menjaga bayi dalam kandungan karena trimester pertama sangat riskan. David dan Mauren pun mengerti yang dijelaskan oleh dokter. Mereka jelas akan melakukan yang terbaik untuk anaknya.


Usai melakukan pemeriksaan, Mauren dan David segera menuju ke apotek menebus vitamin yang diberikan oleh dokter.


“Jadi, kita tidak boleh berhubungan selama trimester pertama?” David berbisik pada sang istri. Dia mengingat apa yang dikatakan oleh dokter.


“Itu sama saja tidak boleh.” David merasa jika itu bukan sekadar peringatan saja, tetapi larangan.


Mauren tersenyum. Memang kalimat yang diberikan dokter sedikit membingungkan. Boleh melakukan hubungan intim, tetapi bayang-bayang keguguran di depan mata. Artinya antara boleh, tetapi sedikit berisiko.


“Astaga, baru saja aku merasakan kenikmatan, sudah direngut begitu saja.” David mengembuskan napasnya. Baru sebulan ini dia dan Mauren melakukan hubungan intim. Baru saja dia bisa menikmati, tetapi justru mendapatkan larangan.

__ADS_1


Mauren tersenyum tipis. Dia mengerti kekesalan David. “Bersabarlah.” Hanya itu yang bisa diucapkan Mauren.


“Iya, aku akan bersabar.” Padahal saat sudah saling cinta seperti sekarang, melakukan hubungan intim pasti akan nikmat sekali. Namun, mau bagaimana lagi. Dia harus banyak bersabar.


Dari rumah sakit, Mauren dan David langsung ke supermarket. David membelikan susu ibu hamil untuk Mauren.


“Kamu mau susu rasa apa?” tanya David.


“Aku mau coklat saja.” Mauren merasa rasa coklat lebih enak.


“Baiklah.” David langsung mengambil susu rasa coklat.


Dari tempat susu, David dan Mauren beralih pada tempat buah. David mengambil buah-buahan untuk sang istri.


“Kenapa beli buah banyak sekali?” Mauren heran dengan sang suami.


“Iya, agar kamu sehat. Jadi harus banyak minum buah.” David tak mau sampai sang istri kekurangan vitamin. Dia beralih pada perut sang anak. “Sayang, kamu harus sehat-sehat di perut mama.” Dia membelai lembut perut Mauren.

__ADS_1


Mauren hanya tersenyum melihat hal itu. David semakin perhatian ketika mendapatkan anak.


__ADS_2