
“Apa kamu tidak melihat bagaimana mereka mencelamu? Suami mana yang rela istrinya dicela seperti itu.” David benar-benar kesal pada Mauren. Istrinya itu justru memilih diam dari pada menjawab. Padahal bisa saja dia menyombongkan diri jika dia adalah istri pemilik Janitri.
Mauren tidak menyangka jika David akan begitu perhatian dengannya. Sampai-sampai tidak rela dirinya dicela seperti itu.
“Iya, aku tahu mereka melakukannya. Apa kamu mau aku membalasnya? Itu akan sangat melelahkan.” Mauren memang sudah berada pada tahap tidak mau peduli. Dia merasa jika akan percuma melawan.
“Jelas kamu harus melawan. Kamu tidak boleh membiarkan orang menginjak-injak harga dirimu. Apalagi jika kita tidak salah. Kita harus berani. Jika kamu lemah. Orang-orang akan memperlakukanmu sesuka hati.” David tidak mau Mauren menerima saja apa yang dilakukan orang padanya. Orang tua David selalu mengajarkan harus berani. Apalagi jika dirinya benar.
“Sudahlah, aku malas membahas hal ini.”
David sebenarnya belum puas membahas hal ini. Namun, Mauren tampaknya sudah menghindari pembicaraan. Mau tidak mau, dia pun memilih menghindari pembicaraan.
Akhirnya David pun memilih untuk melajukan mobilnya. Mengajak Mauren untuk pulang.
Sepanjang jalan Mauren mengingat bagaimana pertemuannya dengan mantan mertuanya. Hal yang menyakitkan bagi Mauren adalah melihat jika kini mantan suaminya sudah memiliki anak. Tampak sang mertua begitu menyayangi anak itu. Mauren merasa terpukul. Artinya memang benar jika dia diceraikan. Karena tidak bisa memberikan keturunan.
Mauren yang diam membuat David bingung. Dia tidak suka ketika Mauren diam saja.
“Mau makan es krim?” Tiba-tiba pertanyaan dari David itu memecah keheningan di dalam mobil.
Mauren segera mengalihkan pandangan pada David ketika mendapat pertanyaan itu.
Tawaran David tampak menggiurkan. Apalagi dia sedang sedikit kesal.
“Baiklah.” Mauren mengangguk. Setuju untuk ikut David.
Akhirnya David pun mengajak Mauren untuk ke restoran cepat saji. Di sana pastinya dia dapat menemukan es krim.
Mauren segera turun dari mobil ketika David selesai memarkirkan mobilnya. Mereka segera masuk ke restoran cepat saji.
“Kamu mau es krim apa?” tanya David.
Mauren melihat menu. “Aku mau cheese burger satu, kentang, soda, dan es krim” Mauren menyebut apa yang diinginkan.
David hanya bisa tersenyum. Niatnya mengajak makan es krim ternyata Mauren lapar. Tentu saja itu membuatnya senang.
“Aku sama.” David tentu saja akan menemani sang istri makan. Agar sang istri bersemangat untuk makan.
Saat makanan siap, mereka segera duduk. Mereka berdua asyik menikmati makanannya. Mauren tampak lahap sekali. Hal itu membuat David senang.
__ADS_1
“Apa kentangmu tidak di makan?” Mauren melihat David tidak mau makan kentang.
“Aku kenyang. Kalau kamu mau, makan saja.” David baru makan burger saja sudah kenyang. Jadi dia memberikan kentang pada Mauren.
Dengan senang hati Mauren memakan kentang milik David. Saat kesal melampiaskan dengan makanan adalah jalan yang tepat.
Usai makan, David segera mengajak Mauren untuk pulang. Tampak Mauren sudah lebih baik setelah makan. Dia merasa sudah menemukan cara membuat Mauren lebih baik ketika kesal.
...****************...
“Aku izin dulu, Riel.” Mauren menatap temannya itu.
“Kamu mau ke mana?” Arriel merasa heran temanya izin saat bekerja. Karena Mauren jarang melakukannya, hal itu membuat Arriel penasaran.
“Aku mau ke rumah sakit.”
“Kamu sakit?” Arriel panik ketika mendengar jika Mauren mau ke rumah sakit.
“Tidak, aku hanya akan melakukan pemeriksaan biasa saja.” Mauren mencoba menjelaskan.
“Astaga, aku pikir kamu sakit.” Arriel merasa lega ketika teman sekaligus iparnya itu baik-baik saja.
“Hati-hati di jalan.”
Mauren segera pergi. Mengingat ini sudah siang, dia takut nanti antrenya akan lama.
Mauren menuju ke rumah sakit dengan menaiki taksi. Sejak menikah dia selalu diantar jemput David. Jadi di saat ada keperluan seperti ini, dia harus naik kendaraan umum.
Sambil menunggu perjalanan ke rumah sakit, Mauren mengirim pesan pada David. Takut David akan menjemputnya nanti ke toko.
Mauren:
Aku ada urusan, jadi tidak perlu menjemput aku ke toko.
^^^David:
^^^
^^^Kamu ke mana?
__ADS_1
^^^
Mauren:
Ke rumah sakit.
^^^David:
^^^
^^^Kamu sakit?
^^^
Mauren:
Tidak.
^^^David:
^^^
^^^Lalu?
^^^
Mauren:
Hanya pemeriksaan rutin.
^^^David:
^^^
^^^Aku akan jemput ke rumah sakit. Jika selesai kabari.^^^
Mauren mengembuskan napasnya. Dia berniat meminta David untuk tidak menjemput ke toko, justru suaminya memjemput ke rumah sakit.
“Dia benar-benar perhatian.”
__ADS_1