Bukan Suami Yang Diinginkan

Bukan Suami Yang Diinginkan
Bab 21


__ADS_3

David menjemput Mauren. Dia ingin mengajak Mauren menemui papanya. Mauren bisa ikut ketika Arriel sudah kembali dari bulan madunya. Mauren tidak bisa cuti di saat Arriel tidak ada.


“Kapan kita akan menikah?” tanya Mauren saat perjalanan ke rumah David.


“Dua bulan lagi.” David menjawab sambil masih fokus pada jalanan di depannya.


“Apa?” Mauren berteriak. Dia begitu terkejut ketika mengetahui jika David akan mengadakan pernikahan dalam dua bulan lagi. Tentu saja itu membuatnya terkejut.


“Apa kamu sedang main-main mengadakan pernikahan dalam dua bulan?” tanyanya.


“Tidak. Aku sedang tidak main-main.” David merasa memang harus melangsungkan secepat mungkin.


“Tapi, apa itu tidak terlalu cepat?” Mauren merasa dua bulan pasti akan sulit menyiapkan semuanya.


“Tidak ada yang sulit. Tinggal uang bekerja.” David merasa semua akan selesai dengan uang. Tentu saja itu membuatnya merasa tidak ada masalah.


Mauren hanya mendengkus kesal. Dia merasa orang-orang kaya menyelesaikan semua dengan uang. Mauren sadar jika itu adalah hal biasa bagi mereka orang kaya.


Mobil sampai di rumah David. Saat turun, Mauren melihat rumah tampak begitu besar. Rumah yang dimiliki David jauh lebih besar dibanding rumah yang dimiliki keluarga Arriel.

__ADS_1


“Ayo.” David mengajak Mauren masuk ke rumah.


Mauren berjalan bersama David ke rumah. Rumah dengan pilar-pilar besar dan juga atap yang tinggi membuat rumah bak istana. Hal yang dipikirkan Mauren, bagaimana cara membersihkannya.


“Kamu tunggu di sini. Aku akan panggil papa.” David meminta Mauren untuk duduk di ruang tamu lebih dulu. Karena dia harus masuk dan mencari papanya.


Mauren mengangguk. Dia duduk di kursi dengan punggung kursi yang tinggi. Warna emas yang melapisi kursi membuat kursi bak singgasana raja. Mauren yang duduk, tersenyum. Membayangkan dirinya seorang putri raja.


“Ren.” Tiba-tiba suara David terdengar.


Mauren yang sedang mengagumi setiap sudut rumah, mengalihkan pandangannya. Dilihatnya seorang pria paruh baya bersama David. Dia yakin jika itu adalah papa David.


Pak Dewa menatap anaknya. Tidak menyangka anaknya membawa calon istri. Tentu saja itu membuatnya bahagia. Karena ini yang ditunggu selama ini.


Saat ditatap sang papanya, David tersenyum. Bangga karena akhirnya mendapatkan wanita untuk dinikahi.


Pak Dewa mengalihkan pandangannya pada Mauren. Dilihatnya Mauren tampak cantik dengan kulit coklat.


Mauren takut ketika diperhatikan oleh papa David. Dia merasa papa David sedang memastikan dirinya baik untuk anak atau tidak.

__ADS_1


“Aku Dewa-papa David..” Pak Dewa mengulurkan tangan.


“Saya Mauren, Pak.” Mauren menerima uluran tangan Pak Dewa.


Pak Dewa segera duduk. Dia duduk di depan Mauren. David memilih duduk di kursi yang berada di sebelahnya.


“Jadi kalian akan menikah?” tanya Pak Dewa memastikan.


“Iya, Pa. Kami akan menikah dua bulan lagi.” David yang menjawab pertanyaan papanya itu.


“Kalau begitu kita punya waktu untuk melamar Mauren pada orang tuanya lebih dulu.” Pak Dewa memberikan pendapatnya pada anaknya itu.


“Iya, kita akan pergi melamar dulu. Setelah itu baru menyiapkan acara pernikahan.” David membenarkan ucapan papanya. “Kapan kira-kira orang tuamu siap untuk kami datang?” Dia segera beralih pada Mauren.


Mauren terdiam. Dia bingung harus menjawab apa.


“Ren.” David memanggil Mauren yang diam saja.


“Aku tidak punya orang tua.” Mauren menundukkan kepalannya. Memberanikan diri menjawab.

__ADS_1


__ADS_2