
Mauren makan dengan lahapnya. David yang melihat hal itu hanya bisa menggeleng. Ternyata Mauren makan begitu lahapnya. Hingga membuatnya jadi takut sendiri.
“Apa hantu tadi merasukimu?” tanya David.
“Iya, apa kamu mau aku makan juga?” Mauren menatap tajam pada David.
“Tidak-tidak. Aku masih mau hidup.” David langsung menggeleng.
Mauren kembali menikmati makannya. Dia meluapkan kekesalan pada makanan. Mauren sadar jika David memang tidak sengaja. Namun, dia merasa kesal. Karena hal itu membuatnya berdebar-debar. Jelas Mauren belum siap dengan perasaan seperti itu.
“Ren.”
Saat sedang menikmati makannya. Tiba-tiba nama Mauren dipanggil. David dan Mauren segera mengalihkan pandangannya. Tampak seorang pria menghampiri Mauren dan David.
Mauren membulatkan matanya ketika melihat siapa yang datang. Tentu saja itu membuatnya merasa terkejut. Karena pria itu adalah mantan suaminya. Entah mimpi apa Mauren sampai harus bertemu dengan pria itu.
David memerhatikan Mauren. Terlihat jelas jika istrinya begitu terkejut sekali. Jelas pria itu pasti seseorang yang pernah hadir dalam hidup Mauren.
“Tidak menyangka aku bertemu denganmu di sini.” Emran, mantan suami Mauren. Menyapa Mauren.
Mauren hanya memilih diam saja. Jelas dia tidak suka bertemu dengan pria itu. Apalagi pria itu meninggalkannya demi wanita lain.
David bingung dengan situasi ini. Mauren hanya diam saja ketika pria itu menyapa.
__ADS_1
“Hai, boleh aku tahu siapa kamu? Sepertinya istriku tampak tidak suka dengan kedatanganmu.” David mencoba mencairkan suasana.
“Hai, aku Emran, mantan suami Mauren.” Pria itu mengulurkan tangan.
Sudah David duga. Pasti pria di depannya itu adalah bagian dari masa lalu Mauren. Karena pria itu membuat Mauren kesal.
“Aku David, suami Mauren.” David mengulurkan menerima uluran tangan Emran.
“Selamat untuk pernikahan kalian. Aku senang melihat Mauren akhirnya menikah.” Emran tersenyum. Pandangannya beralih pada Mauren sejenak. Namun, kembali pada David lagi.
“Terima kasih.” David tampak tenang ketika Emran menatap Mauren. Mengingat Mauren kesal, jadi tidak ada ketakutan dalam diri David.
“Sebenarnya aku ingin bergabung dan mengobrol, tapi sayangnya aku harus bertemu klien.”
“Baiklah, aku permisi dulu.” Emran pun segera berpamitan.
David mengangguk. Saat pria itu pergi, dia beralih pada istrinya. Wajah sang istri masih saja tampak kesal sekali. Hal itu membuat nyali David ciut.
“Kenapa kamu membalas sapaannya?” tanya Mauren.
“Dia menyapa, kasihan jika tidak dibalas.” Dengan enteng David menjawab.
“Tapi, aku tidak suka kamu bicara dengannya.” Mauren menahan gemuruhnya sedari tadi. Dia tidak suka David yang sok akrab dan bersikap baik pada mantan suaminya itu.
__ADS_1
“Maaf jika itu membuatmu kesal.” David mencoba menenangkan istrinya itu.
“Ingat, jangan pernah sok akrab dengannya. Aku tidak suka. Aku tidak mau keakraban itu membuat dia mencari celah untuk masuk ke kehidupan kita. Aku mau berjalan maju tanpa melihat masa lalu. Aku juga tidak izinkan masa lalu itu menerobos masuk dalam hidupku.” Luka yang dirasakan Mauren memanglah dalam. Hingga tidak mau dia memaafkan mantan suaminya.
“Baiklah, aku akan melakukan apa yang kamu minta.” David lebih baik mengalah. Apalagi dia tidak mau membuat sang istri tidak nyaman.
“Bagus.” Mauren segera meraih tasnya.
“Kita sudah selesai makan?” tanya David.
“Aku sudah tidak nafsu makan.” Mauren sudah kehilangan minatnya untuk makan. Lagi pula dia ingin segera pergi dari mal ini. Tak mau sampai tanpa sengaja bertemu lagi dengan mantan suaminya.
David terpaksa segera memanggil pelayan. Meminta bill pembelian makanannya. Dengan segera David membayarnya. Tak mau sampai istrinya pergi lebih dulu.
David harus berlari ketika Mauren sudah jalan lebih dulu.
“Bagaimana jika kita cari restoran lain selain di mal ini.” Tiba-tiba Mauren mempunyai ide.
“Katanya tadi tidak nafsu makan?” David mencoba mengingatkan apa yang dikatakan Mauren tadi.
“Iya, tadi aku tidak nafsu makan jika di sini. Jika di tempat lain, aku jelas nafsu makan.” Mauren mencoba menjelaskan.
David hanya bisa tersenyum ketika mood Mauren berubah drastis. “Baiklah, kita cari tempat makan lain.” David pun setuju. Lagi pula hanya makan. Uangnya tidak akan habis hanya membelikan makanan untuk istrinya. Demi mengembalikan mood. Tentu saja David akan melakukannya.
__ADS_1
Mereka berdua pun memilih untuk mencari restoran lain. Saat hendak pindah tempat, senyum Mauren pun langsung mengembang. Dia begitu senang ketika mendapati apa yang diinginkannya.