Bukan Suami Yang Diinginkan

Bukan Suami Yang Diinginkan
Bab 24


__ADS_3

Bel apartemen Mauren berbunyi. Mauren menduga jika itu adalah David. Dengan segera Mauren membuka pintu. Benar dugaan Mauren jika itu adalah David.


“Mana?” Mauren yang hanya menyembulkan kepalanya, meminta David memberikan undangannya.


“Kamu tidak mempersilakan aku masuk dulu?” tanya David.


“Tidak, aku tidak mau kamu masuk.” Mauren sengaja tidak membuka pintu apartemennya. Karena tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


“Astaga kamu pelit sekali. Setidaknya berikan aku minum dulu.” David menatap Mauren kesal. Mauren benar-benar menyebalkan sekali. Karena tidak sedikit pun mempersilakan dirinya masuk.


Mauren pun segera menutup pintu. Hal itu jelas membuat David melongo. Kenapa calon istrinya itu main masuk saja. Tidak berkata apa-apa.


Sesaat kemudian Mauren membuka pintu apartemen. Kali ini dia keluar dari dalam apartemen. Tak mau setengah-setengah seperti tadi.


“Ini.” Mauren menyerahkan gelas berisi air pada David. Karena tadi David mengatakan meminta air, dia mengambilkannya dulu ke dapur.


“Apa seperti ini kamu menyambut tamu?” David dibuat geleng-geleng ketika melihat apa yang dilakukan Mauren.


“Kalau tamu, harusnya kamu tahu kapan waktu bertamu yang benar.” Mauren justru menyindir David. Dia merasa jika memang David datang di waktu yang tidak pas. Ini sudah malam, jadi tentu saja tidak pas untuk bertamu.


David hanya mendengkus kesal. Walaupun yang dikatakan Mauren benar, dia tidak terima dengan hal itu.


“Cepat ambil.” Mauren menyodorkan gelas berisi air putih.

__ADS_1


“Jika hanya air putih, aku bisa minum dari kran kamar mandi di lobi.” David menyindir balik Mauren.


“Minum saja sana. Jika sakit perut jangan salahkan aku.” Mauren menahan tawanya. Tidak mungkin David benar-benar akan minum air keran.


“Menyebalkan.” Walaupun kesal, tetap saja David meraih gelas tersebut. Dia haus, jadi butuh air.


Mauren menahan tawanya. David ternyata selemah itu. Sampai-sampai kalah dengannya.


“Mana undangannya?” Mauren melihat ke arah tangan David yang memegangi paper bag. Dia yakin isinya adalah undangan.


David mengabaikan ucapan Mauren. Dia memilih untuk minum lebih dulu. Mauren harus menunggu David yang menghabiskan minumnya lebih dulu.


David menurunkan gelas berisi minumannya. Merasa senang karena tenggorokannya sudah lega. Tadi benar-benar terasa kering sekali.


Mauren meraih undangan tersebut. Kemudian meraih gelas yang berada di tangan David. Tanpa berbasa-basi, dia segera berbalik. Berniat masuk ke apartemennya lagi.


“Kamu mau ke mana?” tanya David. Dia meraih bahu Mauren agar berhenti.


“Aku akan masuk ke dalam. Memang mau ke mana lagi?” Maureen menoleh ke arah David. Menatap pria yang sedari tadi aneh sekali.


David mengembuskan napasnya. Berusaha untuk sabar. “Kamu tidak mempersilakan aku masuk, tidak masalah. Memberikan aku minum di depan pintu, aku tidak masalah, tapi bisakah kamu memilih undangannya sekarang. Besok akan dicetak. Jadi harus aku tidak bisa menunggu.” David dari kemarin sibuk mempersiapkan pernikahannya. Tentu saja itu membuatnya kesal. Karena Mauren tidak mengerti dirinya sama sekali.


“Oh ... jadi kamu mau aku melihat sekarang?” tanya Mauren memastikan, dan mendapati anggukan dari David. “Bilang dari tadi.”

__ADS_1


Mauren kembali berbalik menghadap David.


David hanya terperangah. Mauren saja yang main pergi tanpa mendengarkan apa-apa. Sekuat tenaga David menenangkan diri. Tidak mau sampai bertengkar dengan Mauren.


Mauren memberikan gela kosong pada David. Dengan polosnya, David menerima tanpa melakukan protes sama sekali. David berpikir, lebih baik mengalah, dari pada Mauren kesal dan tidak mau memilih undangan.


Mauren memilih-milih undangan yang pas untuk pernikahannya. Undangan ada beberapa jenis dan bentuk. Ketebalan pun beraneka ragam. Font dari undangan juga berbeda-beda. Membuat Mauren sedikit bingung.


“Ini saja.” Mauren menunjukkan undangan berwarna putih-pink. Tampak cantik sekali.


“Baiklah, aku akan memesan undangan ini.” David setuju saja dengan keinginan Mauren. Terkadang pilihan wanita itu lebih epik, karena menggunakan perasaan.


Mauren memasukkan kembali undangan ke dalam paper bag. Kemudian memberikan pada David lagi. Sebagai gantinya David memberikan gelas yang berada di tangannya.


Sayangnya, David tidak memberikan gelas itu dengan segera. Dia menarik gelas itu ketika Mauren hendak mengambil darinya.


“Kamu takut tergoda denganku, sampai tidak mengizinkan aku masuk?” David menyeringai. Dia menebak alasan Mauren tidak mengizinkan dirinya masuk.


“Siapa yang tergoda denganmu?” Mauren menatap sinis pada David. Tak ada niatnya menggodanya. “Tahukah kamu jika bertamu itu harus tahu waktu. Jadi aku hanya ingin kamu tahu waktu. Jika ini sudah malam. Jadi kamu harus menghargai wanita yang dikunjungi pada malam hari.” Mauren memberikan pengertian panjang lebar.


“Yakin, bukan karena takut kamu menjadi liar ketika di dekatku?” David masih menggoda.


Mauren memicingkan matanya. Mulai semakin kesal dengan David yang terus berbicara ngawur. “Tidak.” Mauren menjawab sambil meraih gelas. Dia pun segera masuk ke apartemennya tanpa berpamitan.

__ADS_1


David hanya tersenyum saja. “Pernikahanku pasti akan sangat seru sekali.” Mauren menebak hal itu.” Dia segera mengayunkan langkahnya meninggalkan apartemen Mauren. Melihat Mauren hari ini setelah beberapa hari tentu saja mengobati rindunya. Nanti dia pasti akan lebih nyenyak saat tidur. Tak sabar menunggu hari pernikahan tiba.


__ADS_2