
Mauren menikmati makan malam bersama David dan Pak Dewa. Setelah sekian lama, akhirnya Mauren merasakan makan bersama keluarga. Sejak lama Mauren kehilangan keluarganya. Dia mulai tinggal sendiri. Apalagi setelah bercerai. Tentu saja dia kembali sendiri lagi.
“Ren, kalau butuh apa-apa. Jangan sungkan menyuruh asisten rumah tangga.” Pak Dewa di sela-sela makannya memberitahu menantunya.
“Iya, Pak.” Mauren mengangguk.
“Kenapa masih memanggil ‘pak’? Panggil ‘papa’ saja.” Pak Dewa memberitahu menantunya.
“Baik, Pa.” Mauren mengangguk.
David hanya tersenyum tipis melihat interaksi dari papa dan istrinya. Tentu saja itu membuatnya merasa senang.
“Jika David macam-macam, jangan sungkan juga untuk memberitahu Papa.” Pak Dewa menambahkan. Dia tahu kelakuan anaknya. Jadi tentu saja dia memilih untuk menjaga menantunya.
“Memangnya aku mau apa?” tanya David kesal. Seolah dirinya akan melakukan kejahatan saja.
__ADS_1
“Iya, bisa jadi kamu akan macam-macam dengan wanita di luar sana.” Pak Dewa menyindir.
“Itu tidak akan terjadi. Lagi pula aku sudah punya istri. Untuk apa aku mencari wanita di luar sana.” David merasa jika David benar-benar tidak terpikir sama sekali untuk melakukan hal itu. Apalagi, dia mulai menaruh rasa pada Mauren.
“Bagus kalau kamu sadar. Jadi paling tidak istrimu tidak akan tersakiti.” Pak Dewa merasa tenang ketika anaknya berjanji. Dia merasa kehadiran Mauren memberikan dampak bagus untuk David.
Mauren hanya mendengarkan saja. Lagi pula dia tidak yakin jika David akan melakukannya. Tentu saja dia merasa jika David pastinya tetap akan melakukan hal itu. Bagi Mauren, itu bukan masalah. Itu urusan David.
Makan malam usai. Mereka mengobrol sebentar sampai saatnya David dan Mauren berpamitan ke kamar.
“Aku akan tidur di sofa saja.” Mauren memilih untuk tidur terpisah. Tak mau berada dalam satu ranjang dengan David.
David terdiam. Dia merasa jika Mauren memilih menghindar darinya.Tentu saja itu karena semalam mereka berada di dalam kamar yang sama dan saling memeluk. Tentu saja itu membuatnya merasa tidak mau terulang kembali.
“Biar aku yang tidur di sofa. Tidurlah di tempat tidur.” Dari pada memaksa Mauren tidur bersamanya, lebih baik David meminta Mauren untuk tidur di tempat tidur. Paling tidak, Mauren harus nyaman dulu di dalam kamar bersamanya.
__ADS_1
“Apa tidak apa-apa?” tanya Mauren memastikan.
“Tentu saja tidak.” David segera mengambil selimut di dan bantal di dalam lemari. Kemudian membawanya ke sofa.
David meletakan bantal di sofa. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sofa cukup lebar. Jadi bisa menampung tubuhnya. Sayangnya, tubuhnya yang tinggi membuat kakinya sedikit menggantung.
Mauren hanya terpaku ketika melihat David yang sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa. Padahal tadinya dia yang berniat untuk tidur di sofa.
“Kenapa diam saja?” David menatap sang istri.
Mauren tersadar dari lamunannya. Saat mendengar teguran David, dia memilih untuk segera naik ke atas tempat tidur. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Cepat tidur. Besok kamu sudah mulai bekerja ‘kan.” David menarik selimutnya dan segera memejamkan matanya.
Mauren melihat David yang sudah terpejam. Sebenarnya tidak tega, tetapi apa boleh buat, dari pada dirinya tergoda dengan David.
__ADS_1