
“Kenapa?” David menoleh.
“Sudahlah, aku minta maaf. Jangan lapor-lapor polisi. Kamu buat masalah saja.” Mauren mencoba membujuk David. Dia tak mau berurusan dengan polisi. Tentu saja dia berharap jika David tidak akan melakukan hal itu.
David menebak jika pasti Mauren akan membujuknya. Jika sudah begini, bukankah dirinya yang diuntungkan.
“Maaf tidak semudah itu. Apalagi kamu membuat aku sakit.” David pura-pura lemah. Hal itu dilakukan agar mendapatkan simpati dari Mauren.
“Lalu kamu mau apa? Apa aku harus minta maaf sambil bersujud?” Mauren berusaha untuk bersabar. Padahal dia benar-benar kesal sekali dengan David. Pria itu membuat kesabaran seperti tisu yang terkena air yang mudah sekali robek.
“Aku mau permintaan maafnya kita pergi bulan madu.” David pun mengungkapkan isi hatinya.
Mauren benar-benar diuji dengan aksi David. Suaminya itu selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mauren mencengkeram bantal yang berada di sebelahnya. Melihat hal itu David segera bersiap. Takut-takut Mauren memukulnya lagi.
Cengkeraman tangan Mauren semakin erat. Dia mengangkat bantal tersebut. Karena benar-benar kesal.
__ADS_1
David yang melihat hal itu semakin ketakutan. Refleks saat Mauren mengangkat bantal yang dicengkeramnya, dia langsung menutupi wajahnya dengan tangan.
“Kita akan pergi bulan madu.” Mauren menurunkan bantalnya ke atas pahanya. Tangannya mencengkeram erat bantal untuk menahan dirinya.
David yang tadinya mengira Mauren akan memukulnya merasa begitu terkejut. Karena ternyata Mauren bukan memukulnya, tetapi justru setuju dengan usulnya.
“Kamu mau ikut bulan madu?” tanya David memastikan.
“Iya, asalkan kamu pesan vila yang terdapat dua kamar. Jangan macam-macan di sana.” Mauren pun memberikan syaratnya pada David.
Mauren mengembuskan napasnya. Dia berusaha untuk tetap tenang. Demi nama baiknya, tentu saja Mauren akan melakukannya. Tak mau sampai hal buruk terjadi.
“Baiklah, kamu bersiaplah. Kita akan pergi setelah sarapan.” David langsung memberikan rencananya.
“Memang kita mau ke mana?” Mauren menatap David. Dia bingung mau ke mana.
__ADS_1
“Kita mau ke Bali.” David menjelaskan ke mana mereka pergi.
Mauren ikut saja ke mana David akan membawanya. Lagi pula juga Mauren sudah mengajukan syarat. Jadi tentu saja dia akan aman-aman saja.
Mauren segera berangsur bangun dari tempat tidur. Dia segera mengambil baju untuk bersiap mandi.
“Kamu pisahkan saja barang yang kamu tinggal. Nanti asistenku akan membawanya ke rumah.” David memberitahu Mauren.
Mauren yang sedang memilih bajunya, langsung segera memisahkan baju-bajunya. Dia hanya memilih beberapa untuk dibawa berlibur saja.
Di saat Mauren tengah bersiap, David menghubungi asistennya. Memintanya untuk mengurus keperluannya. Termasuk dengan tiket ke Bali.
David cukup senang Mauren mau pergi dengannya. David tidak tahu kapan Mauren bisa nyaman dengannya. Karena dia melihat Mauren justru ketakutan terus dekat denganya.
...****************...
__ADS_1
Mauren dan David pergi ke bandara setelah sarapan. Sepanjang jalan Mauren menikmati perjalanan tersebut. Tak ada yang dibicarakan ketika bersama David. Jika orang lain melihat, jelas tidak akan ada yang percaya jika mereka adalah pasangan pengantin baru. Karena interaksi mereka hanya sekadarnya. Mauren dan David memilih saling diam selama dalam perjalanan.