
Mauren benar-benar tidak menyangka jika ternyata bisa menendang tepat di aset berharga milik David. Mauren tadi jelas merasakan jika benda itu terasa keras. Dia tahu jika kejantanan pria selalu bangun saat pagi hari.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Mauren polos.
“Apa raut wajahku tidak menjelaskan?” David justru bertanya balik.
Mauren jelas melihat David yang meringis kesakitan. Tentu saja itu membuat Mauren bisa menebak sesakit apa yang dirasakan David.
“Salah sendiri kamu memelukku. Jadi akhirnya aku menendangmu.” Mauren masih membela diri. Dia merasa jika apa yang dilakukan tidak salah. Jadi dia merasa masih aman-aman saja.
“Tapi, kamu tidak perlu menggunakan jurus silat hanya untuk membuatku menjauh.” David juga tak kalah dengan Mauren. Dia juga merasa jika Mauren keterlaluan.
Mauren benar-benar merasa bersalah sekali. Di saat seperti ini justru dia bingung. Tidak tega pada David yang kesakitan. “Lalu aku harus bagaimana?” Akhirnya dia pun bertanya pada David. Siapa tahu ada yang bisa dilakukannya.
Mendapati pertanyaan itu membuat otak David langsung mencari kesempatan dalam kesempitan. Tentu saja dia tidak mau melepaskan kesempatan itu. “Coba kamu pegang, siapa tahu sentuhanmu membuatnya lebih nyaman.”
__ADS_1
Mauren membulatkan matanya. Bisa-bisanya David mengambil keuntungan dalam hal ini. “Dasar mesum.” Mauren bangun dari posisi tidurnya. Dengan segera, dia mengambil bantal dan memukul David dengan bantal. Dia kesal sekali dengan aksi David.
“Auch ... auch ....” David merasa kesakitan ketika dipukul Mauren. “Ren, berhenti.” David meminta Mauren untuk berhenti.
“Salah siapa mesum?” Mauren benar-benar kesal dengan suaminya itu.
“Kamu bertanya, jadi aku jawab. Apa salahnya?” David masih merasa benar dengan apa yang dilakukan.
“Salah. Kamu mengambil kesempatan dengan memintaku memegang.” Mauren yang kesal terus memukul.
Seketika Mauren menghentikan aksinya. Dia merasa percuma berdebat dengan David. Apalagi marah pada David. Jika tidak mau melakukannya, tinggal tidak melakukannya saja. Tenaganya hanya akan sia-sia saja dibuang.
David merasa bersyukur karena Mauren akhirnya menghentikan aksinya. Sebenarnya pukulan Mauren juga tidak berarti apa-apa. Namun, dia suka saja pura-pura teraniaya.
“Jika aku jahat, aku benar-benar bisa melaporkanmu ke polisi.” David menatap Mauren. Rasanya menggoda Mauren itu adalah sesuatu yang mengasyikkan bagi David.
__ADS_1
“Memangnya mau lapor apa kamu ke kantor polisi?” Mauren selalu saja terpancing. Kesabarannya yang hanya setipis tisu itu, tentu saja mudah sekali disulut.
“Aku akan melaporkanmu atas kasus kekerasan dalam rumah tangga.” David menjelaskan apa yang akan dilakukannya ketika melaporkan sang istri. “Nanti, di halaman depan majalah akan terpampang foto pernikahan kita. Dengan judul. “David Janitra mengalami kekerasan dalam rumah tangga di malam pertamanya”.” David menjelaskan apa yang akan terjadi setelah kasus kekerasan yang dilakukan Mauren terendus media.
Mauren bergidik ngeri. Seumur-umur, dia belum masuk ke dalam majalah dengan berita-berita aneh. Tentu saja itu pasti akan membuat namanya buruk.
“Ini bukan kekerasan dalam rumah tangga.” Mauren mencoba membela dirinya. Tak mau sampai nama dan fotonya terpampang di majalah dengan berita buruk.
“Jelas ini kasus kekerasan dalam rumah tangga. Setelah ini aku akan visum, dan melaporkannya. Kamu yang menendang tadi jelas masuk kekerasan dalam rumah tangga.” David rasanya ingin tertawa. Dia sendiri tidak tahu apakah benar yang diucapkannya. Namun, demi membuat Mauren takut, tentu saja dia akan melakukannya.
David segera berangsur bangun dari posisinya. Dia pura-pura kesulitan bangun di saat kejantanannya sakit. David melakukan gerakannya selembut mungkin. Sambil menunggu Mauren yang tampak berpikir.
Mauren memikirkan apa yang akan dilakukan David. Jelas dia langsung ketakutan. Bukan takut akan laporan polisi. Namun, lebih takur dengan berita yang tersiar nantinya. Jika ada yang melihat berita itu, tentu saja dia akan malu sekali.
“Vid.” Mauren menarik tangan David.
__ADS_1
David menyeringai. Dia sudah menebak Mauren akan berusaha untuk mencegahnya. Langkahnya memang tak pernah salah.