
David dan Mauren sampai di bandara. Mereka sudah dijemput oleh sopir keluarga Janitra.
“Kita akan tinggal di rumah bersama papa. Kamu tidak keberatan ‘kan?” David menatap Mauren yang duduk di sebelahnya.
Sebenarnya Mauren ingin tidur di rumah saja. Namun, apa boleh dikata. Kini dia adalah istri David. Jadi tentu saja dia harus ikut ke mana David pergi. Termasuk ke mana David akan membawanya tinggal.
“Baiklah.” Mauren akhirnya setuju.
David senang ketika Mauren mau tinggal di rumah. David tidak bisa meninggalkan papanya. Mengingat sang papa sudah tua. Jadi dia harus menjaganya.
Mobil akhirnya sampai di rumah. Mauren segera turun dari mobil. Tampak Pak Dewa menyambut mereka.
“Kalian sudah pulang?” Pak Dewa merasa jika David dan Mauren begitu cepat sekali bulan madu. Jadi tentu saja itu membuatnya merasa jika anaknya kurang menikmati bulan madu.
__ADS_1
“Iya, Pa. David ada banyak pekerjaan. Jadi pulang lebih awal.” David memilih untuk berbohong. Dia tidak mau papanya tahu jika Mauren yang meminta pulang.
“Kamu ini. Harusnya kamu menikmati bulan madu dulu. Baru pulang. Biar kalian cepat bisa punya anak. Papa sudah tidak sabar kalian punya anak.” Pak Dewa melemparkan protesnya.
Mauren terdiam. Antara dirinya dan David tidak pernah terjadi apa-apa. Tentu saja itu membuat Pak Dewa tidak akan pernah punya cucu. Rasanya Mauren tidak tega jika sampai Pak Dewa tahu.
“Tenanglah, Pa. Tidak bulan madu pun, aku akan berusaha untuk dapat anak.” David mencoba menenangkan papanya.
Pak Dewa pun jauh lebih tenang. Dia yakin anaknya pasti akan berusaha untuk punya anak.
Mendengar ucapan Pak Dewa, David dan Mauren segera masuk ke rumah. David mengajak Mauren ke kamarnya yang berada di lantai atas.
“Kenapa kita berada di satu kamar?” Mauren berhenti di depan kamar.
__ADS_1
“Apa kamu lupa kita tinggal bersama papa? Apa kamu mau papaku bertanya kenapa kita tidur terpisah?” David justru melemparkan pertanyaan bernada sindiran.
Mauren teringat jika dia berada satu rumah dengan mertuanya. Tidak mungkin dia tidur terpisah dari David. Yang ada akan menjadi pertanyaan nanti. Terpaksa dia menerima keputusan David untuk tidur di satu kamar.
David membuka pintu. Saat pintu dibuka, tercium aroma maskulin. Padahal beberapa hari kamar ditinggal pemiliknya. Dekorasi dengan dominasi warna hitam dan putih adalah warna-warna pilihan seorang David. Warna-warna netral yang menurutnya pas untuk kepribadiannya.
Di dalam kamar ada satu ranjang besar dan serta sofa yang cukup besar. Melihat sofa itu, Mauren berpikir untuk tidur di sana. Tempat aman untuknya jika tidak ingin berada dalam satu ranjang dengan David.
“Kamu bisa taruh bajumu di lemari ini.” David membuka lemari di mana dia menyiapkan lemari kosong untuk Mauren.
Mauren hanya mengangguk. Baju yang dibawanya tidak terlalu banyak. Mengingat bajunya masih banyak di apartemen. Mungkin besok Mauren akan mengambil baju itu.
“Aku akan keluar dulu.” David yang meletakkan kopernya segera keluar. Dia ingin memberikan ruang pada istrinya.
__ADS_1
Mauren segera merapikan bajunya di lemari tempat David memintanya. Tidak terbayang olehnya jika David. Mauren benar-benar tidak tahu. Akan seperti apa rumah tangganya. Rasanya membayangkan saja Mauren tidak mampu. Dia memilih untuk mengikuti alur yang ada di depannya saja.