Bukan Suami Yang Diinginkan

Bukan Suami Yang Diinginkan
Bab 63


__ADS_3

Emran melihat perut Mauren yang tampak besar. Sepertinya hamil sudah cukup besar. Melihat Mauren yang sedang hamil membuat Emran senang. Artinya mantan istrinya memang tidak mandul.


Mauren langsung menemui Emran ketika pelanggan selesai melakukan transaksi. “Apa kamu mau bertemu denganku?” Mauren langsung to the poin. Jelas tidak mungkin Emran mau menemui yang lain di toko.


“Iya, aku ke sini untuk bertemu denganmu. Bisakah kita bicara sebentar?”


Mauren menimbang permintaan Emran itu. Menurutnya, Emran tampak ingin membicarakan hal penting.


“Baiklah, kita ke restoran atas.” Akhirnya Mauren setuju.


Mereka berdua pun segera ke restoran yang bersama. Memesan minuman untuk menemani mengobrol.


“Selamat atas kehamilanmu.” Emran menatap lekat wajah Mauren. Kemudian beralih pada perut Mauren.


Mauren memegangi perutnya. “Ternyata aku tidak mandul. Hanya berada pada pria yang tidak tepat saja.” Mauren mencibir Emran.


“Kamu benar, aku memang tidak tepat. Mungkin jika kamu tetap di sisiku, kamu tidak akan pernah hamil.” Emran merasa bersalah sekali.


Mauren melihat penyesalan yang dirasakan oleh Emran. “Aku minta maaf atas semua yang pernah aku lalukan padamu, Ren.” Emran tertunduk ketika meminta maaf. Merasa malu dengan yang dilakukannya.


Mauren sudah hamil lupa kesalahan mantan suaminya itu jika pria itu tidak muncul di depannya.

__ADS_1


“Aku sudah dapat karma dari apa yang aku lakukan.” Emran mengusap wajahnya kasar. Berusaha menahan kesedihannya.


Mauren jadi penasaran karma apa yang dimaksud oleh Emran. Dia benar-benar tidak mengerti sama sekali.


“Karma apa maksudmu?” Mauren yang penasaran pun memilih bertanya.


“Anak yang dikandung istriku, bukan anakku. Sebenarnya akulah yang mandul, Ren.”


Bak disambar petir Mauren begitu terkejut mendengar cerita Emran. Dulu suaminya bercerai karena selingkuhannya hamil anaknya. Kini justru kenyataannya anak yang dilahirkan wanita itu bukan anak Emran.


“Aku baru tahu saat anak itu sakit beberapa hari lalu. Aku sudah melakukan tes DNA dan benar jika dia bukan anakku.” Ada luka terselip di setiap ucapan Emran. Dia benar-benar menyesal berselingkuh sesuai dengan saran sang mama. Dulu dia begitu senang ketika selingkuhan yang kini jadi istrinya itu hamil. Karena artinya Maurenlah yang mandul. Sesuai saran sang mama, akhirnya Emran menceraikan Mauren.


“Baguslah, akhirnya semua terjawab. Aku pikir Tuhan tidak sayang padaku karena membuat suamiku selingkuh dan memiliki anak dari wanita lain. Aku terus menyalahkan diriku karena tidak bisa hamil. Kini, ternyata jawabannya memanglah bukan Tuhan tidak sayang padaku. Tuhan hanya tidak membiarkan aku tinggal dengan orang-orang jahat seperti kalian. Tuhan juga sayang padaku, karena memberikan aku suami yang baik hingga akhirnya aku bisa hamil. Membuktikan jika selama ini tuduhan kalian tidak benar. Jika memang kamu bilang ini karma. Maka nikmatilah karma ini.” Mauren meluapkan kekesalannya itu. Dia merasa jika lega sekarang sebuah akhirnya terbongkar.


Emran menghembuskan napasnya. “Aku memang pantas mendapatkan karma ini.”


“Sepertinya kamu sudah selesai.” Mauren berdiri. Tak mau berlama-lama dengan mantan suaminya itu.


“Ren.” Emran menghentikan Mauren yang hendak pergi.


Mauren menatap Emran kembali.

__ADS_1


“Aku harap kamu bahagia dengan suami dan anakmu kelak.”


“Tenanglah. Aku jelas akan bahagia dengan suami dan anakku.” Mauren segera meninggalkan Emran.


Emran hanya bisa memandangi Mauren yang perlahan menjauh. Penyesalan memang datangnya selalu di akhir. Andai dulu dia lebih bersabar, mungkin yang dikandung Mauren adalah anaknya.


Mauren kembali ke toko. Saat di ruangannya, dia berusaha untuk menenangkan diri. Kabar ini benar-benar mengejutkannya. Tidak menyangka jika setelah bertahun-tahun berlalu, semua baru terbuka.


Kini ada perasaan lega di hati Mauren. Ternyata bukan dirinyalah yang salah, hanya berada di sekitar orang-orang yang jahat.


Mauren bersyukur kini ada David dan keluarganya yang baik padanya. Tuhan seolah mengganti mengirim David untuk mengganti kesedihan dan lukanya.


Mauren segera mengambil ponselnya. Dia ingin segera menghubungi David. Meluapkan rasa bahagianya ini.


“Halo, Sayang, ada apa? Apa ada masalah dengan kandunganmu?” David di seberang sana begitu khawatir dengan Mauren.


“Tidak, aku hanya merindukanmu saja.” Mauren mengulas senyum. Rasa syukur itu membuat Mauren semakin mencintai David.


“Tenanglah, aku akan segera pulang besok. Kamu bisa meluapkan rindumu padaku.”


“Baiklah, aku akan menunggumu.”

__ADS_1


__ADS_2