Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Mama Delano


__ADS_3

 “Hari ini, kamu ada waktu tidak?” Delano menanyakan itu di pagi hari, sebelum Adelia berangkat ke kampus.


 Perempuan mungil berambut cokelat itu, pada akhirnya menginap juga. Delano sudah memintanya untuk berpikir ulang, tapi Adelia rupanya keras kepala.


 “Aku ada kuliah sampai siang sih. Emang kenapa?” Perempuan yang hari ini menggunakan outer berwarna abu-abu itu balas bertanya.


 “Aku mau ngajak keluar makan siang sih.” Delano menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Tapi kalau enggak bisa, enggak apa-apa kok.”


 Adelia tidak langsung menjawab. Dia terlihat berpikir sebentar, kemudian melirik kaki Delano yang hanya mengenakan celana pendek.


 “Aku akan usahakan pulang lebih cepat, tapi ada syaratnya.” Adelia langsung tersenyum manis. “Daddy ke dokter dulu obati lukanya.”


 “Ini gak parah kok.” Sayangnya, Delano enggan melakukan itu.


 “Ya, udah.” Adelia mengedikkan bahunya dengan santai. “Kalau begitu, aku gak akan mau nemenin Daddy makan siang.”


 Delano langsung meringis mendengar itu. Padahal tadi pagi mamanya sudah kembali mengancam. Mau tidak mau, Delano harus ikut atau usahanya selama ini sia-sia saja.


 “Aku akan ke dokter. Puskesmas saja taoi.” Akhirnya, Delano mengalah.


 “Rumah sakit.” Adelia mengatakan itu, sembari mengeluarkan kartu ATM miliknya. “Gak ada tawar menawar lagi dan nanti pin-nya aku chat.”


 Adelia tidak memberikan kesempatan untuk Delano menolak. Perempuan itu langsung berlari menuruni tangga dan sempat berpapasan dengan yang empunya kos.


 “Pacarmu nginap lagi?” Pak Jamal langsung bertanya tanpa basa-basi.


 “Iya, Pak. Maaf semalam gak lapor, soalnya sudah malem banget.” Yang empunya kamar kos lantai tiga meringis ketika mengatakan itu.


 “Kalau boleh jangan lama-lama dong. Soalnya ini lantai tiga kamu semua yang sewa. Gak ada yang tahu, tapi kan gak enak sama penyewa lain. Nanti mereka kiranya kalian kumpul kebo.”


 Sekali lagi Delano meringis. Dia bisa menjelaskan kalau Adelia tinggal di kamar berbeda, tapi rasanya akan percuma saja. Netizen itu maha benar.


 “Nanti akan saya beri tahu.” Akhirnya, hanya itu yang bisa dikatakan oleh Delano.


 ***


 “Buru-buru amat sih pulangnya?” Marcel langsung menegur temannya.

__ADS_1


 “Maaf, tapi aku sudah janji sama Daddy. Nanti besok kita main lagi ya.” Adelia mengatakan itu sembari melambai.


 “Eh, tapi habis ini kan ada kuliah lagi.” Poppy mengingatkan, tapi Adelia tidak mau mendengar.


 Delano sudah menunaikan janjinya untuk ke rumah sakit. Kini giliran Adelia yang menepati janji untuk makan bersama dengan lelaki itu.


 [Daddy Delano: Maaf, tapi kebetulan mamaku datang ke kos. Jadi saya sekalian ngajak makan. Gak apa-apa kan?]


 “Waduh.” Adelia menepuk kening ketika membaca pesan itu, sebelum menyalakan mesin mobil.


 “Kenapa tiba-tiba banget sih?” gumam perempuan mungil berambut kecokelatan itu. “Padahal pakaianku biasa-biasa saja. Gak cocok dipakai ketemuan.”


 [Mbak Adelia: Gak masalah sih, tapi aku ganti baju dulu gak apa?]


 Walau menggerutu, tapi Adelia tetap mengiyakan. Dia tidak tahu apakah ada baju yang layak, tapi setidaknya  ada yang lebih baik dari kaos, jeans dan outer.


 [Daddy Delano: Gak masalah, tapi nanti ketemuan di gerai ayam dekat kantor saja ya. Soalnya udah terlanjur keluar kos.]


 [Mbak Adelia: Sip.]


 “Siang, Pak Jamal.” Adelia langsung menegur si pemilik kos, begitu dia sudah selesai parkir dengan cantik.


 “Siang juga, Mbak Adel.” Tentu saja yang empunya kos akan balik menyapa dengan ramah.


 “Ada waktu buat ngobrol sebentar gak?” lanjut pria paruh baya itu.


 “Emang mau ngobrol apa, Pak? Gak lama kan?”


 “Ini soal kamu yang tinggal di kamar Delano,” jawab Pak Jamal tanpa basa-basi. “Sebenarnya, Bapak dan anak-anak yang lain agak risih.”


 “Maksudnya gimana ya? Aku dan Delano kan gak sekamar?” Adelia masih saja bingung.


 “Iya, kalian tidak sekamar. Cuma kan mana ada yang tahu apa yang terjadi di lantai tiga? Kan hanya ada kalian dan Galih saja. Galih juga temannya Delano kan?”


 Mendengar hal itu, Adelia terdiam. Jujur saja, dia merasa tidak adil karena kos itu campuran. Selama ini, hanya ada satu perempuan di sana. Bukankah kalau seperti itu juga bisa dicurigai? Siapa yang tahu kan?


 “Kalau begitu cewek yang di lantai dua juga ditegur dong.” Adelia memilih untuk melawan.

__ADS_1


 “Dia perempuan juga dan sendirian di rumah kos penuh lelaki. Siapa yang tahu di apa yang terjadi?” lanjut perempuan mungil itu dengan senyum lebar.


 “Ya, tapi dia kan bayar.” Pak Jamal hanya bisa mengatakan itu sebagai alasan untuk menghindar.


 Tanpa banyak basa-basi lagi, Adelia segera merogoh tasnya. Dia mengeluarkan dompet dan melihat isinya. Tidak banyak uang di sana, tapi ada beberapa lembar uang dolar Amerika.


 “Anggap saja ini tambahan.” Adelia memberikan pecahan seratus dolar. “Itu cukup kan? Berhubung Delano juga sudah bayar.”


 Pak Jamal tak berkata-kata. Pria paruh baya itu mengecup lembaran uang asing itu dan memasukkannya ke saku kemeja, tanda dia menerima kehadiran Adelia.


 “Kalau mau ditukar dengan harga mahal, jangan sampai lecek.” Adelia berbaik hati mengatakan itu, sebelum beranjak naik ke kamar.


 Sesampainya di lantai tiga, Adelia tiba-tiba mengentakkan kakinya. Dia merasa kesal dengan pemilik kos, tapi tidak bisa juga bicara banyak.


 “Dasar mata duitan,” gerutu perempuan itu, sambil membuka kopernya. “Bilang saja kalau mau duit. Gak perlu juga bicara seperti itu.”


 “Aku kan jadi makin telat saja pergi makan siang.” Adelia kembali menggerutu, sambil berganti pakaian secepat mungkin.


 Kali ini, Adelia memilih menggunakan overall kotak-kotak bermodel rok di atas lutut, tanpa mengganti kemeja yang tadi dia pakai. Warnanya pun senada, cokelat tua untuk overall dan kopi susu untuk kemeja. Sling bag cokelat, menjadi pemanis.


 “Ini sudah cukup baik kan?” tanya Adelia berputar di depan cermin.


 “Kurasa masih kurang parfum.” Adelia segera mencari Victoria Secret Bombshell miliknya, yang dia beli pada saat promo beli dua lebih murah.


 Merasa sudah percaya diri, Adelia bergegas keluar dari kos. Sayangnya ada pesan yang mengganggunya datang.


 [Pelacur Selingkuhan Papa: Papamu marah karena kau pergi dan memutuskan untuk tidak memberimu uang jajan. Aku ada sedikit uang dan kuharap kau bisa hidup dengan ini.]


 “Cuma lima juta?” Adelia langsung mencibir. “Padahal dia pasti dapat banyak dari papa.”


 Adelia melempar ponselnya ke kursi penumpang. Dia tidak peduli dengan uang kiriman itu karena sejatinya Adelia masih punya simpanan rahasia. Karena itu, dia lebih fokus pada pertemuannya dengan mamanya Delano.


 “Ini pacarmu?” Itu yang dikatakan mamanya Delano ketika mereka akhirnya bertemu. “Yang benar saja, masa anak-anak sih?”


 


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2