
“Kamu ternyata sangat luar biasa.” Oma Tessa tak segan untuk memuji. “Bukan hanya lulus dari universitas ternama, tapi juga lulus cumlaude.”
“Itu hanya kebetulan saja, Oma.” Delano malah merendah.
“Sayang sekali kamu tidak bisa sekolah sampai ke luar negeri, padahal dengan otak seperti ini, kamu bisa masuk Harvard.”
Mendengar pujian itu, Delano hanya bisa tersenyum tipis. Dia tidak bisa mengatakan lebih banyak lagi karena takut akan salah bicara. Lagi pula, tujuannya datang adalah untuk wawancara. Bukan untuk menyombongkan pendidikannya.
Oma Tessa duduk di sofa berhadapan dengan Delano. Sementara Om Bayu duduk di sofa tunggal sebelah Delano. Mereka sedang di kantor perusahaan keluarga yang kini dikelola Om Bayu.
“Baiklah, kapan kamu bisa mulai kerja?” Oma Tessa memilih untuk bertanya.
“Kapan saja bisa, Oma. Kebetulan kontrak kerja saya sudah berakhir minggu depan dan saya masih ada cuti. Jadi kapan pun bisa.”
“Kalau begitu, setelah kontrak kerjamu berakhir saja.” Oma Tessa mengangguk yakin. “Setidaknya itu lebih aman kan?”
“Ya, Bu.” Kali ini Delano memilih untuk bicara sopan karena Oma Tessa akan menjadi atasannya.
“Tidak perlu sesopan itu.” Sayangnya Oma Tessa menggoyangkan tangannya. “Bukan aku yang jadi atasan langsungmu, jadi tetap Oma saja kalau cuma berdua atau dengan keluarga.”
“Oma benar. Kamu tidak perlu secanggung itu.” Om Bayu yang juga senang dengan lelaki di sebelahnya itu ikut mendukung keputusan sang ibu.
Delano tidak memberikan jawaban dan hanya tersenyum saja. Dia merasa bingung harus menjawab seperti apa. Apalagi, lelaki yang sebentar lagi akan menanggalkan status office boy-nya baru teringat sesuatu.
“Oma, bolehkah saya membicarakan sesuatu yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.” Setelah berpikir sesaat, lelaki yang hari ini mengenakan kemeja rapi itu memberanikan diri untuk bertanya. “Sekalian saya ingin minta pendapat Om Bayu juga.”
Dua orang yang ditanyai itu saling pandang dengan tatapan bingung. Rasanya tidak ada hal penting lain, tapi mereka tetap mendengar.
“Ini soal Adelia.” Delano memulai ceritanya. “Saya dengar, dia dijodohkan dan sepertinya agak dipaksa.”
“Oma sudah dengar soal perjodohan itu, tapi tidak tahu kalau dipaksa.”
“Adelia mengaku seperti itu pada saya,” balas Delano pada perempuan tua yang duduk di depannya. “Dia bilang lelaki itu ngotot dan ayahnya juga langsung setuju saja, tanpa bertanya terlebih dulu. Karena itu ....”
“Karena itu ....” Delano kembali tersendat karena merasa ini adalah hal yang canggung. “Adelia meminta saya saja yang menikahi dia.” Akhirnya dia bisa mengatakannya.
“Ide yang ... berani.” Om Bayu yang mengatakan hal itu.
“Karena itu saya mau minta pendapat lebih dulu.” Delano jadi meringis melihat ekspresi dua orang tua di dekatnya itu
“Oma tidak tahu seperti apa lelaki yang dijodohkan dengan Adelia.” Perempuan tua itu pada akhirnya bersuara juga, setelah cukup lama terdiam.
__ADS_1
“Seorang dosen. Saya pernah bertemu dan menurut saya dia cukup baik, tapi Adelia mengatakan dia menyebalkan.” Delano tidak segan memberitahu.
“Lalu? Kalau dia baik, kamu mau melepas Adelia?”
Jujur saja, Oma Tessa agak bingung dengan balasan lelaki muda di depannya. Sebagai pacar, harusnya Delano akan menjelekkan lelaki yang dijodohkan dengan cucunya kan? Bukan malah sebaliknya.
“Yang namanya pernikahan kan harus dengan persetujuan orang tua.” Delano tidak ragu untuk menjawab. “Kalau ada salah satu pihak yang tidak setuju, rasanya akan percuma saja dilanjutkan.”
“Lalu? Bagaimana dengan orang tuamu?” Oma Tessa tentu ingin tahu.
“Saya hanya punya mama dan jujur saja, beliau kurang setuju.” Walau mungkin tidak enak didengar, tapi Delano memilih jujur.
“Menurut mama saya, Adelia terlalu muda. Belum siap untuk menjadi seorang istri dan saya juga tidak bisa menunggu lama karena faktor usia.”
Oma Tessa dan Om Bayu mengangguk pelan. Yang dikatakan Delano memang sangat masuk akal, tapi mereka juga tidak bisa mengambil keputusan.
“Kalau misalnya Oma dan Om setuju, saya mungkin masih bisa membujuk mama.” Lelaki muda tampan itu melanjutkan.
“Tapi siapa sih orang yang dijodohkan dengan Adelia?” Walau lelaki, tapi Om Bayu juga kepo.
“Saya pernah dikirimi media sosialnya.” Delano tidak segan untuk menunjukkan room chat-nya dengan Adelia.
Tidak banyak yang terlihat karena Delano langsung menekan tautan yang ada di sana. Itu adalah halaman media sosial Aris.
“Kalau begitu, kamu menikah saja dengan Adelia.” Oma Tessa dengan cepat mengambil keputusan dan menunjuk Delano.
“Oma tidak keberatan kalau saya miskin?” Tentu saja lelaki itu mencoba mengelak.
“Yang penting kan kamu mau kerja dan Oma yakin kamu bukan lelaki pemalas.” Oma Tessa mengangguk dengan yakin.
Delano langsung meringis mendengar itu. Padahal tadinya dia berharap tidak direstui, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Kalau sudah begini, Delano tidak punya jalan lain selain meyakinkan sang mama.
***
[Daddy Delano: Aku sudah diterima kerja dan minta izin ke Oma Tessa. Setelah ini, aku akan membujuk mamaku.]
Kening yang empunya ponsel berkerut dalam, ketika tahu sang kekasih pura-pura tidak membalas pesannya. Jangankan dibalas, dibaca pun belum.
__ADS_1
“Kok tumben sih?” Delano bergumam pelan.
“Apanya yang tumben?”
Mendengar suara teguran bernada tanya itu, Delano langsung berdiri. “Mama.”
“Tumben rapi?” Monic yang hari ini juga berpenampilan sangat rapi, langsung duduk di kursi depan putranya.
Selesai dari kantor Om Bayu, Delano langsung menghubungi sang mama. Dia meminta bertemu dan Monic dengan cepat menyetujui. Kebetulan dia sedang tidak ada pekerjaan.
“Delano habis interview.”
“Oh, akhirnya kamu mau kerja kantoran yang benar juga.” Monic tentu saja langsung mengangguk senang. “Di mana? “
“Keluarganya Adelia.” Jawaban jujur Delano itu, membuat ibunya berdecak.
“Kamu masih pacaran sama dia?” tanya sang mama dengan raut wajah tidak suka.
“Ya dan kemungkinan besar akan mengarah ke jenjang yang lebih serius.” Dari pada basa-basi, Delano lebih memilih untuk langsung saja.
“Rasanya Mama sudah memperingatkan.” Wajah Monic makin terlihat jelek mendengar apa yang sang putra katakan.
“Adelia mungkin masih muda. Dia mungkin anak manja yang tidak tahu soal rumah tangga, tapi bukan berarti tidak bisa belajar. Lagi pula, kalau kami tidak menikah, dia akan dijodohkan dengan lelaki lain.”
Kali ini Monic berdecak mendengar kalimat panjang sang putra. “Kamu sesuka itu dengan dia?”
“Ya.” Mau tidak mau, Delano mengangguk. “Lagi pula, umur Delano kan sudah cukup. Rasanya aku tidak mau menunggu lagi.”
Mendengar hal itu, Monic kembali berdecak kesal. Apa yang dikatakan snag putra ada benarnya.
Monic bisa mencarikan perempuan lain, tapi belum tentu Delano mau. Sekalipun putranya mau, pasti butuh waktu lagi.
“Tapi Mama tidak mau melihatmu tidak terawat ya.” Pada akhirnya, Monic mengalah.
“Tenang saja, Ma. Aku akan beri tahu Adel soal itu.” Tanpa diduga, Delano merasa cukup senang dengan penerimaan itu
Sayang sekali, rasa senang itu tidak bertahan lama. Rasa khawatir dengan cepat menggantikan, terutama ketika Adelia belum pulang dan tidak membalas chat atau telepon, padahal hari sudah malam.
Alih-alih melihat pesan dari Adelia, Delano malah mendapat pesan dari nomor tidak dikenal. Itu pun terjadi keesokan harinya.
[+628xxxxxxxx: Daddy tolong aku.]
__ADS_1
***To be continued***