Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Dosa Lain


__ADS_3

 “Adelia.” Bella langsung berdiri ketika melihat mantan sahabat, sekaligus anak tirinya itu.


 “Ada apa dengan Papa?” tanya yang empunya nama dengan wajah datar. Adelia khawatir dengan sang ayah, tapi sama sekali tidak ingin mengiba pada Bella.


 “Aku tidak tahu.” Bella terlihat begitu sedih, nyaris menangis ketika menggeleng. “Daddy Aditya baru mau berangkat ke kantor, tapi tiba-tiba saja dia pingsan. Dokter masih memeriksa.”


 “Keluarganya Bapak Aditya Lesmana?” Bersamaan dengan selesainya kalimat Bella, seorang perawat memanggil.


 “Saya ....”


 “Saya anaknya.” Adelia dengan cepat menyela mantan sahabatnya.


 “Mari ke sebelah sini.” Si perawat membimbing ke bangsal IGD tempat Aditya dirawat.


 “Bapak Aditya kena serangan jantung.” Dokter dengan jujurnya menjelaskan, ketika melihat tatapan bertanya Adelia.


 “Hanya serangan jantung ringan saja, tapi tetap perlu diperhatikan. Saya sudah meresepkan obat dan mungkin Pak Aditya perlu tinggal beberapa hari untuk observasi. Selebihnya, tidak ada masalah dan bisa dipindah ke kamar rawat inap biasa.”


 Semua orang menghela nafas lega mendengar itu. Bahkan Delano yang sejatinya bukan atau belum menjadi anggota keluarga Lesmana. Lelaki itu bahkan tidak keberatan izin dari kantor untuk mengantar Adelia.


 “Syukurlah tidak apa-apa. Aku tadi khawatir sekali.” Bella mengelus dada sok lega.


 “Kau tidak perlu khawatir lagi. Kamu bisa pulang dan aku bisa menjaga papaku sendiri.” Tanpa diduga, Adelia mengusir.


 “Tapi aku kan istrinya aku ....”


 “Kau pulang saja!” Kali ini, Adelia memberi perintah dengan tegas.


 “Aku tahu kau membenciku, Adel. Tapi biar bagaimana, aku ini istri dari ayahmu.” Bella pun tidak ingin kalah.


 “Lalu kau pikir aku peduli?” tanya Adelia dengan nada yang sedikit naik. “Kau seharusnya bersyukur aku masih mau menjaga pria tua sialan itu, setelah apa yang kalian lakukan pada mamaku.”


 “Maaf.” Tidak ingin ada pertengkaran, si dokter segera melerai. “Ini rumah sakit.”

__ADS_1


 Kedua perempuan yang sedang bertengkar itu, langsung terdiam. Mereka juga tahu diri untuk tidak ribut di rumah sakit dan memilih untuk saling melirik dengan tajam saja. Bella yang tadinya ingin sok manja, pada akhirnya kesal juga.


 “Sebaiknya ibu hamil saja yang pulang.” Si dokter kembali berbicara dan memberi saran. “Ibu hamil tidak boleh stres dan terlalu lelah, jadi sebaiknya istirahat di rumah saja.”


 Mendengar itu, tentu saja Bella akan jadi makin kesal. Sayang sekali, dia tidak bisa membantah karena dokter yang memberi tahu. Ibu hamil itu pada akhirnya pulang dengan mood yang sangat jelek.


 “Daddy juga pulang saja. Ini masih jam kantor.” Adelia mengatakan itu, setelah mereka tiba di kamar rawat inap.


 “Biar aku temani saja dulu. Nanti ....”


 “Aku bilang Daddy pulang saja.” Adelia memotong kalimat sang tunangan. “Biar bagaimana Daddy itu karyawan Oma Tessa dan aku tidak ingin ada pembicaraan kalau Daddy itu kesayangan Oma di kantor.”


 “Kalau begitu, sebentar malam aku akan menemanimu di sini.” Delano dengan terpaksa mengalah dan pergi meninggalkan sang tunangan. Dia tahu Adelia mungkin sedang ingin sendiri, tapi tidak tahu kenapa perempuan itu tiba-tiba saja ngambek.


 


 ***


 


 “Papa sudah sadar?” Adelia bertanya dengan refleks karena merasa sedikit terkejut.


 “Adelia?” Aditya agak terkejut melihat putrinya. “Ini di mana?”


 “Rumah sakit,” jawab sang putri dengan singkat dan enggan. “Papa diam dulu, biar aku panggil perawat,” lanjut Adelia masih tampak acuh.


 Untung saja Aditya menurut dan tidak banyak tanya. Dia membiarkan sang putri memanggil perawat dan menurut ketika diperiksa. Setelah semua itu selesai dan kesadarannya sudah makin baik, barulah pria paruh baya itu mulai bertanya.


 “Bagaimana Papa bisa ada di sani?” Aditya memulai dengan pertanyaan standar.


 “Selingkuhanmu bilang Papa pingsan dan dia membawamu ke sini dengan bantuan sopir dan satpam,” jawab Adelia seadanya dan masih terlihat begitu enggan.


 “Adelia. Bella itu ....”

__ADS_1


 “Apa pun sebutan Papa untuk dia, aku tidak akan pernah mau mengakui,” potong Adelia kini menatap sang ayah tepat di mata. “Sampai mati pun aku tidak bersedia untuk mengakui dia dan anak itu, jadi tidak usah membuang nafas untuk menjelaskan atau menegur.”


 “Kau ... kudengar akan menikah dengan lelaki itu.” Aditya memilih untuk mengikuti keinginan sang putri sekali ini. “Benar begitu?”


 “Entahlah. Memangnya apa urusannya denganmu?” tanya Adelia kini sudah kembali tidak sopan, seperti beberapa waktu yang lalu. Dia tidak mau mengakui Aditya juga.


 “Kau sudah melihat contoh pasangan yang menikah tanpa restu orang tua dan tidak bahagia. Kau tidak mungkin mengulang hal bodoh yang sama kan?”


 Adelia langsung tertawa cukup keras mendengar apa yang dikatakan lelaki yang terbaring di ranjang. Rasanya perkataan itu sangat lucu baginya karena jelas saja apa yang terjadi bukan karena tidak direstui semata. Setidaknya, itu yang dipikirkan oleh Adelia.


 “Oke.” Perempuan mungil itu mengangguk sok paham. “Katakan saja Aditya Lesmana yang tidak direstui menikah dengan mamaku, memilih untuk selingkuh untuk menghilangkan rasa sakit hati dan jenuh.


 “Tapi apakah itu dibenarkan?” tanya Adelia dengan mata melotot.


 “Maksudku seperti ini loh,” lanjut Adelia kini berdiri dari posisi duduknya. “Jangan menyalahkan restu ketika kalian sendiri yang berbuat dosa, terutama ketika hubunganmu dengan mamaku baik-baik saja.”


 “Aku bukan orang buta. Aku tahu kalian berdua cukup bahagia, walau masih dihantui perasaan bersalah. Kalau kalian bertengkar dan kau ingin menyalahkan restu, aku masih bisa memaklumi. Tapi ini jelas tidak seperti itu.” Adelia kembali mengakhiri kalimatnya dengan pelototon kesal. “Kamu hanya membuat dosa yang lain dengan berselingkuh.”


 Jujur saja, Aditya merasa sakit hati dengan kalimat putrinya. Bukan hanya karena apa yang dikatakan Adelia itu benar, tapi karena sang putri enggan memanggilnya papa lagi. Rasanya sangat sakit.


 “Kurasa kau benar.” Setelah terdiam cukup lama, Aditya akhirnya mengangguk pelan. “Mungkin aku yang salah karena sudah tergoda.”


 “Kalau perasaanmu kuat, kamu pasti tidak akan tergoda,” bantah Adelia dengan cepat. “Kamu pergi meninggalkan mama karena pada dasarnya, kamu memang tidak secinta itu.”


 Kali ini Aditya meringis mendengar sang putri. Lagi-lagi putri kecilnya yang ternyata sudah sangat dewasa itu, mengatakan hal yang mungkin saja benar. Saat Bella datang, Aditya memang sedang merasa sedikit jenuh dengan hubungannya. Kini dia benar-benar merasa bersalah.


 “Tapi setidaknya Papa ingin melihatmu bahagia. Bersama dengan lelaki itu, tidak akan membuatmu bahagia.” Pada akhirnya Aditya hanya mengatakan apa yang dia khawatirkan.


 “Uang memang bukan segalanya, tapi uang dibutuhkan untuk hidup dan uang itu ada banyak setannya.” Aditya tidak akan bosan menasihati sang putri. “Kau mungkin melihat dia sebagai lelaki baik, tapi apakah akan tetap seperti itu? Pikirkanlah lagi.”


 “Aku akan memikirkannya.” Hanya itu yang dikatakan Adelia, setelah berpikir agak lama.


 Dia memang merasa perlu memikirkan ulang tentang semuanya. Terutama karena Delano yang sepertinya tidak akan pernah sadar atau tidak akan pernah mau mengakui perasaannya.

__ADS_1


 


***To be continued***


__ADS_2