
“Kamu hanya salah paham.” Delano mengatakan hal itu dengan sangat tenang. “Aku memang bertemu dengan Bella, tapi bukan seperti yang kamu bayangkan.”
“Dia memintaku untuk bekerja sama menguras harta warisanmu.” Tiba-tiba saja, Bella muncul di belakang Delano.
Semua orang jelas menoleh dan melihat perempuan hamil itu dengan tatapan penuh tanya. Bahkan Aris yang masih ada di sana pun melakukan hal yang sama juga.
“Bisa jangan memfitnah?” Delano mengucapkan hal itu dengan sangat tenang. “Tadi kau yang mengajakku seperti itu.”
“Memangnya ada bukti kalau aku mengatakan hal seperti itu?” Bella malah bertanya dengan sangat santainya. “Tidak ada bukti apa pun.”
“Kalau begitu, aku bisa mengatakan hal yang sama kan?” tanya Delano sama sekali tidak terpengaruh dengan suasana yang cukup menegangkan itu. “Tidak ada bukti tentang yang kau tuduhkan itu.”
“Bisa kalian berdua diam?” Tiba-tiba saja Adelia menghardik.
“Adelia, tolong jangan dengarkan dia.” Alih-alih diam, Bella malah berusaha membujuk mantan temannya itu. “Dia bukan lelaki baik.”
“Aku kan memintamu diam. Apa kau tuli?” tanya Adelia terlihat makin marah saja.
“Hei, mungkin kita bisa pindah tempat dulu. Orang-orang mulai melihat.” Aris kini ikut angkat suara karena memang orang-orang sudah melihat ke arah mereka.
Tanpa menjawab, Adelia dengan cepat berbalik dan melangkah pergi. Bukan untuk pergi mencari tempat berbicara yang lebih nyaman, tapi untuk pulang. Dia sedang kesal dan tidak ingin diganggu. Sayang sekali, tidak semua orang yang mengerti akan hal itu.
“Kalau kamu ingin pulang, aku bisa mengantar.” Aris menarik lengan kecil perempuan yang sejak tadi dia ikuti.
“Aku sedang tidak ingin diganggu.” Adelia tentu saja akan menepis tangan sang dosen.
“Tapi kamu tetap perlu tumpangan kan? Atau kamu bawa mobil sendiri hari ini?” Aris masih bersikeras.
“Maaf, Pak Dosen.” Delano mengeraskan suaranya untuk berbicara karena ada jarak di antara mereka. “Adelia bilang dia ingin sendiri, jadi biarkan dia sendiri.”
“Jangan ikut campur.” Aris yang tidak terima ditegur, menghardik. Itu jelas saja makin membuat orang-orang tertarik, terutama karena mereka masih ada dalam area mal.
“Harusnya kau yang jangan ikut campur, Pak Dosen.” Delano yang sudah menahan marah dari tadi, kini mulai melepaskan emosinya. “Kau adalah orang luar di sini.”
“Aku dijodohkan dengan Adelia.” Aris malah menantang.
__ADS_1
“Dan sudah ditolak,” balas Delano dengan tegas. “Lalu aku tunangannya, jadi jangan berpikir kau bisa mengatakan aku orang luar.”
Aris menggeram marah mendengar hal itu. Dia terlihat sudah ingin memukul, tapi masih tahu diri kalau ini di tempat umum. Sang dosen tidak ingin mempermalukan diri sendiri atau pekerjaan dan instansinya.
“Pokoknya aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri.” Aris pada akhirnya tidak mau menyerah.
“Daddy saja yang antar aku pulang.” Tahu dosen obsesifnya tidak akan menyerah, Adelia mengambil opsi yang paling membuatnya nyaman. Bersama dengan Delano yang paling masuk akal menurutnya.
Tentu saja dengan senang hati Delano langsung setuju. Dia tidak banyak bicara, tapi langsung meminta Adelia untuk mengikutinya hanya dengan anggukan kepala. Itu sudah cukup membuat perempuan mungil itu mengikuti ke parkiran motor.
***
“Selamat malam.” Hanya itu yang dikatakan Delano, ketika sang tunangan turun dari motornya.
“Hm. Selamat malam.” Hanya demi sopan santun, Adelia membalas dan langsung masuk.
“Kau diantar sama Delano?” Oma yang menyambut di ruang tengah, bertanya pada cucunya.
“Ya, Oma.” Hanya itu yang dijawabkan Adelia. “Adelia masuk ke kamar dulu ya.”
“Kenapa?” Oma yang cepat tanggap, langsung tahu ada yang salah pada cucunya. “Bertengkar dengan tunanganmu? Atau mungkin kau bertengkar dengan orang lain?”
Adelia tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir terlebih dahulu, perlukah bertanya pada sang oma atau tidak.
Pikiran Adelia mengatakan dia tidak ingin berbagi, tapi hatinya mengatakan sebaliknya. Pada akhirnya, perempuan mungil itu lebih memilih untuk mengikuti kata hatinya. Bukankah kata orang kata hatilah yang biasanya benar?
“Aku ada masalah dengan banyak orang.” Adelia mengatakan itu setelah duduk di samping sang oma. “Aku melihat Daddy Delano bertemu dengan Bella, bersamaan dengan Aris yang terus mengejarku dengan begitu obsesifnya.”
“Bagus dong. Itu artinya kau punya banyak penggemar.” Bukannya menanggapi dengan serius, Oma Tessa malah bercanda.
“Oma. Aku lagi serius loh.” Adelia memutar bola matanya dengan gemas. Dia kesal, tapi tidak bisa marah juga.
__ADS_1
“Kalau begitu, yang mana yang kau inginkan? Aris atau Delano?” Oma Tessa akhirnya mencoba untuk serius. Sang oma sudah mendengar soal Aris dan kasus penculikannya, jadi dia tidak perlu bertanya lebih banyak.
“Kalau untuk dijadikan pacar atau suami, tentu saja Daddy Delano. Tapi masalahnya, dia hari ini mencurigakan. Dia pergi bertemu berdua dengan Bella, tanpa memberitahuku.” Kali ini, Adelia mengatakannya dengan sangat menggebu-gebu.
“Lalu? Apa yang dikatakan Delano soal itu?”
“Tentu saja dia mengatakan tidak ada apa-apa.” Adelia melipat tangan ketika mengatakan itu. “Tapi siapa yang tahu kan?”
“Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kau percaya pada Delano atau tidak?” Oma Tessa kembali bertanya.
“Itu aku juga tidak tahu.” Adelia menggeleng dengan raut wajah lemas. “Aku tidak bisa membaca pikiran orang.”
“Tapi kau bisa merasakannya dengan hatimu.” Oma Tessa tak sungkan menunjuk ke bagian yang dikatakannya itu. “Oma percaya kalau kau mampu melakukannya.”
“Tapi bagaimana kalau aku salah?” Adelia membalas dengan pertanyaan. “Bagaimana kalau aku salah menilai lelaki, seperti yang terjadi pada mama dulu.”
“Setidaknya kau yang memilih sendiri. Itu jelas lebih baik dibandingkan kalau kau dipaksa menjalaninya.” Tanpa terduga, oma Tessa mengatakan hal itu.
“Mana yang kau pilih? Dipaksa dengan Aris ataukah memilih dengan Delano?” lanjut perempuan tua itu dengan senyum tipis.
“Tentu saja aku akan lebih suka memilih. Walau mungkin itu bukan yang terbaik, tapi itu pilihanku sendiri.” Adelia mengatakan itu dengan tegas. “Tentu saja aku akan menanggung akibat buruk yang mungkin terjadi juga.”
“Kalau begitu, kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan.” Hanya itu yang Oma Tessa katakan dan Adelia sudah mengerti.
Setelah mengucapkan terima kasih, Adelia bergegas masuk ke kamarnya. Dia sudah hendak menghubungi Delano, ketika melihat ada pesan yang masuk. Pesan dari Bella yang sejak tadi sudah ada dan baru dia lihat.
[Pelakor: Aku hanya ingin yang terbaik untukmu karena aku peduli.]
[Pelakor: Mengirim gambar.]
[Pelakor: Dia bukan lelaki yang baik.]
“Ini kan mantanya Daddy,” gumam Adelia seorang diri, sambil melihat foto yang dikirim.
__ADS_1
***To be continued***