
“Aduh, cantiknya pengantin kita. Sudah sehat, Nak?”
Seorang perempuan paruh baya datang mendekat dan ingin menyentuh Adelia. Sayang sekali, perempuan mungil itu tidak segan untuk menepis dengan kasar.
“Adelia.” Sebagai seorang ayah, tentu saja Aditya akan menegur. “Jangan kasar pada mertuamu.”
“Itu urusanku.” Tentu saja Adelia ingin melawan. “Lagi pula aku tidak pernah ....”
“Maafkan Adelia ya, Bu.” Tiba-tiba saja Bella menyela. “Dia masih agak sakit, jadi pikirannya kacau.”
“AKU TIDAK SAKIT.” Kesal sekali dengan ucapan musuhnya, Adelia sampai tidak bisa mengontrol suaranya.
“Adel, jangan begitu.” Bella berusaha untuk menenangkan, tapi tangannya juga ditepis.
“Bella, bawa saja keluarganya Aris ke tempat acara.” Pada akhirnya Aditya turun tangan langsung dan meminta istrinya pergi saja.
“Lepas atau aku teriak.” Walau sudah berhadapan dengan ayahnya, Adelia tetap memberontak.
“Teriak saja dan orang-orang hanya menganggapmu sakit. Setidaknya itu yang diketahui semua orang,” jawab Aditya dengan raut wajah marah.
Mendengar itu, Adelia mendengus kasar. Dia tidak menyangka kalau ayahnya akan menyebarkan rumor tidak berdasar seperti itu. Sudah jelas sekali kalau pria di depannya, tidak bisa dianggap ayah lagi. Kini Adelia menyadari hal itu.
“Lebih baik kau diam di sini, sampai Aris datang menjemputmu.” Itu yang dikatakan Aditya, sebelum dia meninggalkan putrinya dalam sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruang tunggu.
“Sialan.” Adelia langsung mengumpat, ketika hanya tinggal dirinya sendiri di dalam. “Bagaimana aku harus kabur?”
Perempuan mungil dengan gaun pengantin itu, melirik ke kiri dan kanan. Tidak ada pintu keluar lain, selain pintu tempat ayahnya keluar tadi. Adelia juga tidak mungkin langsung kabur begitu saja karena dia tahu akan ada banyak orang yang menahannya nanti. Namun, waktu berpikirnya terganggu dengan pintu yang terbuka.
“Apa yang tadi kamu lakukan pada ibu saya?” Aris Wisesa yang hari ini menggunakan softlens, muncul dalam balutan jas berwarna putih.
__ADS_1
“Aku hanya akan melakukan apa yang perlu dilakukan,” jawab Adelia dengan mata melotot. Dalam keadaan seperti ini, dia tidak boleh terlihat takut atau lemah.
“Masalahnya, pernikahan ini akan tetap terjadi. Apa pun yang kamu lakukan, ini akan tetap terjadi. Bahkan kamu tidak bisa lari.” Aris mengatakan itu dengan santainya.
“Aku tahu itu, makanya aku tidak mau membuang tenaga,” balas Adelia dengan nada ketus. “Tapi sayangnya, aku juga tidak mau menurut begitu saja.”
Aris menghela nafas dengan sangat berat. Padahal dia sudah mendapat dukungan dari ayah perempuan di depannya, tapi tetap saja Adelia tidak mau menerima dirinya, sekalipun dalam keadaan terpaksa. Sedikit menyakitkan, tapi sudahlah. Setidaknya Aris sebentar lagi akan sah menjadi suami Adelia.
“Aku akan keluar karena sepertinya acara akan dimulai.” Pada akhirnya, Aris memilih untuk pasrah saja dulu. “Nanti Om Aditya akan menjemputmu, untuk masuk ke dalam ruangan acara. Bukan pesta besar, tapi saya harap kamu suka.”
Tanpa menjawab, Adelia membuang muka. Dia tidak sudi melihat lelaki di depannya itu, bahkan berdecih keras untuk menunjukkan ketidaksukaan itu. Perbuatannya itu, jelas membuat Aris kembali menghela nafas.
“Apa kau sudah siap?” Aris keluar, kini Aditya yang masuk ke dalam ruangan.
“Sejak kapan anda peduli dengan perasaan saya dan apa isi pikiran saya?” tanya Adelia dengan bahasa yang kelewat sopan.
“Ada apa dengan bahasamu itu?” Tentu saja Aditya akan bingung dengan kalimat sang putri.
Aditya mengetatkan rahangnya. Rasanya kesal, marah dan sedih bercampur jadi satu. Ini sedikit diluar dugaannya, tapi untuk saat ini, Aditya harus menahan diri. Biar bagaimana, acara sudah hampir dimulai.
“Kalau kau memang tidak suka dengan Aris, kalian bisa membuat perjanjian pranikah.” Aditya mengatakan itu, seraya mengulurkan tangan pada sang putri.
“Bukankah itu sudah terlalu terlambat?” Sayangnya, Adelia tidak berkenan menerima uluran tangan sang ayah. “Ini sudah dalam proses menikah, bukan pra lagi.”
“Papa sudah menyiapkan semuanya.” Walau putrinya menolak, Aditya tetap memaksakan diri dan menarik tangan sang putri. Mereka harus tampil sempurna untuk kali ini. “Kau tinggal tanda tangan.”
Walau yang dilakukan sang papa cukup menyentuh, sayang sekali itu belum bisa menggerakkan hati Adelia. Bagi perempuan mungil nan imut itu, semuanya sudah sangat terlambat. Apalagi ketika dia diculik kemarin siang.
Kini Adelia dengan terpaksa harus berjalan berdampingan dengan sang ayah, menyusuri jalan berkarpet untuk menemui Aris di ujung sana. Tiap langkah yang dilalui Adelia, sungguh sangat berat. Terutama ketika dia tidak melihat satu pun keluarga ibunya hadir.
__ADS_1
“Oma Tessa tidak diundang rupanya?” Adelia mengatakan hal itu, tanpa mengecilkan suaranya. “Kenapa? Takut kalau Oma Tessa menggagalkan pernikahan yang tidak saya inginkan ini?”
“Adelia, kecilkan suaramu.” Aditya mau tidak mau berbisik dan melempar senyum pada tamu yang duduk di tepi jalan yang mereka lalui. Para tamu itu, bisa saja mendengar suara sang putri?
“Kenapa harus mengecilkan suara?” tanya Adelia dengan tatapan tak percaya. “Tanpa mengecilkan suara pun, semua orang tahu bagaimana mukaku sekarang. Muka orang yang dipaksa.”
“Adelia.” Kali ini sang ayah mendesis karena mulai kesal. Apalagi, para tamu mulai tampak heran kenapa mereka berhenti berjalan.
“Amat sangat disayangkan karena anda sepertinya jadi benci dengan keluarga ibuku,” tambah perempuan bertubuh mungil itu, sebelum kembali berjalan.
Adelia tidak mau repot-repot menunggu ayahnya yang sempat terpaku di tempat. Tentu saja itu membuat tamu makin berbisik dan orang tua Aris pun terlihat sangat tidak suka. Tapi, itu jelas yang diinginkan Adelia.
“Kamu sepertinya suka cari sensasi ya?” tanya Aris dengan senyum miring.
“Aku hanya ingin ini semua cepat selesai,” jawab Adelia tanpa senyum di wajahnya. “Tidak ada gunanya juga jadi boneka di sini, tapi tidak bahagia di rumah.”
“Kamu akan bahagia. Aku bisa pastikan itu.” Aris tetap berusaha untuk meluluhkan hati perempuan di depannya.
“Bagaimana bisa bahagia kalau nikah saja dipaksa? Apalagi dengan orang yang jelas-jelas tidak kusukai.”
“Benci dan cinta itu bedanya sangat tipis.” Aris mengatakan itu dengan senyuman. “Bisa saja kamu hanya sedikit salah paham. Lagi pula, aku ini pilihan ibumu loh.”
“Kau mungkin benar.” Adelia tanpa terduga mengangguk. “Tapi aku bisa membedakan dengan benar mana yang benci dan mana yang cinta. Lagi pula, aku tidak benci. Hanya tidak suka dan pilihan orang tua, juga tidak selamanya yang terbaik.”
Tanpa ingin memperpanjang lagi, Adelia segera mengulurkan tangannya. Dia tidak ingin menunda apa pun lagi dan ingin segera selesai, walau ini mungkin bukan apa yang dia inginkan. Bahkan dalam hati, Adelia masih berdoa untuk diselamatkan.
“ADELIA.”
__ADS_1
***To be continued***