
“Apa-apaan ini? Kenapa kos ini kumuh sekali?” Oma Tessa yang baru datang langsung mengernyit tidak suka.
“Maaf, tapi siapa ya?” tanya Pak Jamal dengan nada takut-takut, tapi juga merasa kesal. Padahal tempatnya sudah sangat bersih dan termasuk eksklusif juga.
“Saya omanya Adelia,” jawab perempuan tua yang masih sangat segar itu. “Delano juga tinggal di sini kan?”
“Wah, Mas Bos sudah kenalan sama keluarganya Non Adel toh.” Galih yang berada di sebelah yang empunya kos menyahut.
“Kamu kenal Delano dan Adelia?” tanya Tessa pada lelaki yang sedikit lebih tambun.
“Kenal. Dia itu ma ... maksudnya teman sekamar dengan Delano. Kalau Adelia di sebelah kamar kami,” jawab Galih sedikit terbata.
“Kalau begitu, boleh saya lihat-lihat kamar mereka?” tanya Oma Tessa dengan dagu yang sedikit terangkat, membuatnya terkesan sombong.
Merasa segan, Galih dengan cepat mempersilakan Oma Tessa untuk masuk. Pak Jamal pun tidak mengatakan apa pun dan termangu di teras rumah kosnya itu. Sumpah, rasanya baru kali ini Pak Jamal bertemu dengan orang kaya yang seperti itu.
“Tadinya kamar yang dipakai Non Adelia itu kamarnya Mas Bos Delano.” Galih menjelaskan sepanjang perjalanan naik ke lantai tiga. “Tapi gak mungkin mereka sekamar kan, jadi Delano pindah ke kamarku.”
“Terima kasih informasinya, tapi bisa kamu berjalan lebih lambat?” tanya Oma Tessa dengan nafas memburu. “Saya sudah tua dan kesulitan naik tangga.”
“Oh, maaf.” Galih meringis mendengar itu
Mau tidak mau, lelaki tambun itu berhenti melangkah. Dia membiarkan Oma Tessa naik terlebih dulu, agar bisa menjaga perempuan tua itu dari bawah. Rupanya memang Oma Tessa terlihat kesulitan, bahkan perlu memegang lututnya dan berhenti tiap beberapa langkah.
“Duduk dulu, Oma.” Galih segera menarik sofa terdekat, agar Oma Tessa tidak perlu berjalan terlalu jauh.
“Kamu suruh saya duduk dekat tangga?” Oma Tessa melotot melihat itu. “Kalau saya jatuh bagaimana?”
“Maaf, Oma.” Galih hanya bisa meringis dan mendorong lagi sofa kayu itu ke tempatnya. Setelah melihat perempuan tua itu duduk, barulah dia pergi mengambil air minum kemasan.
Lalu ketika Oma Tessa sudah tenang, barulah dia pergi melihat kamar sang cucu. Kalau dilihat sekilas, sepertinya Adelia memang tinggal sendiri di sana. Pasalnya, kamar itu berantakan. Khas Adelia sekali, berbeda dengan kamar sebelah yang berantakan.
“Baiklah.” Oma Tessa mengangguk puas. “Sekarang aku perlu ke kantor Delano. Kamu bisa ngantar tidak?”
“Hah?” Galih melongo mendengarnya.
__ADS_1
***
“Mama?” Aditya melotot melihat kedatangan ibu mertuanya.
“Oma.” Oma Tessa dengan cepat mengoreksi panggilan itu. “Kamu bukan menantuku lagi dan aku ke sini ingin bertemu Delano.”
“Untuk apa pula Oma melihat lelaki itu?” geram Aditya merasa tidak dianggap. “Lagi pula dia cuma office boy dan Paula juga sudah mencarikan jodoh untuk Adelia.”
“Jodoh untuk Adelia?” tanya Oma Tessa dengan sebelah alis yang terangkat. Dia belum mendengar hal ini.
“Ya. Seorang dosen dengan penghasilan yang lebih mumpuni, wawasan yang lebih luas dan jelas berperilaku baik. Dia bahkan sudah ke rumah untuk berbincang.”
Mata Oma Tessa menyipit tajam. Entah kenapa, dia merasa ada yang tidak beres dengan apa yang dikatakan Aditya. Mungkin itu semua betul, tapi perasaan Oma Tessa tidak begitu baik.
“Kalau kamu tidak mau menunjukkan di mana Delano sekarang, aku akan pergi mencarinya sendiri.” Pada akhirnya, Oma Tessa memilih untuk tidak terlalu memikirkan keresahannya terlebih dahulu.
“Terserah Oma saja.” Kesal omongannya tidak didengar, Aditya memilih untuk tidak peduli.
Karena itu kini Oma Tessa menyusuri tempat yang menurut Galih, mereka bisa menemukan Delano. Hanya beberapa menit saja dan mereka sudah menemukan orang yang dicari. Delano sedang melakukan tugas bersih-bersih, sambil memperhatikan mesin fotokopi.
“Mas Bos memang seperti itu.” Galih berucap dengan bangga.
“Coba panggilkan dia.” Oma Tessa memberi perintah.
Walau sedikit kesal, Galih tetap pergi memanggil. Sayangnya, Delano menolak untuk langsung datang. Dia merasa perlu menyelesaikan pekerjaannya dulu, sebelum menerima tamu. Untungnya Oma Tessa tidak keberatan.
“Maaf harus menunggu lama,” gumam Delano berlarian mendekati tamunya.
“Tidak masalah.” Oma Tessa yang duduk di ruang tamu umum, menggeleng pelan. “Sudah selesai?”
“Belum jam istirahat sih, Oma. Tapi pekerjaan yang penting sudah selesai semua,” jawab Delano dengan cepat.
“Apa kamu sudah memikirkan penawaran Oma?” Tessa bertanya tanpa basa-basi.
“Oma datang hanya untuk mengatakan itu?” Jujur saja, Delano agak terkejut.
__ADS_1
“Tentu tidak.” Oma Tessa menggeleng pelan. “Oma juga mau melihat perkembangan perusahaan ini. Ini dulunya milik mamanya Adelia.”
“Setelah menikah, dia dengan bodohnya memberikan perusahaan ini pada Aditya. Untung saja berjalan cukup baik.”
Delano tidak bisa berkata mendengar pengakuan itu. Apalagi ketika Oma Tessa melihat sekeliling dengan tatapan sendu.
“Jadi bagaimana?” Tessa kembali menatap Delano, setelah puas melihat-lihat.
“Saya berminat mengambil cuti untuk mengurusi hal itu,” jawab lelaki dengan seragam office boy itu, diikuti dengan senyum lembut.
“Hanya saja, saya tidak tahu kapan itu bisa terlaksana. Saya usahakan secepat mungkin,” lanjut Delano, masih dengan senyum yang sama.
“Bagus. Oma suka semangat kerja kamu.” Tessa mengangguk puas.
“Sekarang, kita harus membahas hal lain lagi.” Oma Tessa dengan cepat mengubah topik pembicaraan.
“Tapi Oma tidak lama kan?” tanya Delano ragu-ragu. “Saya masih harus bekerja.”
“Kalau begitu, Oma langsung saja. Apa kamu serius dengan Adelia?” tanya perempuan tua itu dengan ekspresi serius.
“Maksud Oma?” Kening Delano berkerut mendengar hal itu.
Sejujurnya, Delano bisa menebak arah pembicaraan ini. Hanya saja, lelaki dengan seragam itu enggan berasumsi dan ingin langsung bertanya dengan jelas.
“Kamu ada niatan untuk menikahi Adelia atau tidak?” Kali ini, Om Tessa bertanya dengan lebih detail.
“Kenapa Oma bertanya hal seperti itu?” Delano menanyakan hal itu tanpa dia sadari.
“Maksud saya, Adelia kan masih muda. Jalannya masih panjang untuk memikirkan pernikahan.” Merasa salah bicara, Delano segera meluruskan.
“Memang, tapi Oma dengar Adelia dijodohkan. Sepertinya lelaki itu juga direstui oleh Aditya dan jujur saja, walau belum bertemu dengan lelaki yang dijodohkan, firasat Oma kurang bagus.”
“Kurang bagus gimana?” Tentu saja Delano akan bertanya dengan raut wajah bingung.
“Firasat dan insting Oma itu cukup baik. Sayangnya ketika Aditya mengatakan soal lelaki itu, firasat Oma bilang kalau Adelia mungkin tidak akan bahagia atau bahkan menderita.”
“Mungkin ini adalah hal sepele bagimu,” lanjut Oma Tessa dengan pelan. “Tapi sebagian besar firasat Oma selalu jadi kenyataan.”
__ADS_1
***To be continued***