Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Nikah Paksa


__ADS_3

 “Oh, akhirnya dia bangun juga.” Seseorang mengatakan itu ketika melihat mata Adelia berkedip pelan.


 “Apakah kamu bisa bangun sebentar? Kami perlu merapikan rambutmu, tapi sulit kalau kamu tidur.” Orang tadi kembali berbicara.


 “Untuk apa merapikan rambutku?” Kening Adelia berkerut ketika mengatakan itu. Dia baru bangun tidur dan sudah dihadapkan pada situasi yang membingungkan.


 “Tentu saja karena kamu akan menikah,” jawab orang yang tadi. “Apa kamu sesakit itu sampai tidak sadar dengan pernikahan sendiri?”


 “Menikah.” Kini tangan Adelia beranjak untuk mengusap matanya yang mengantuk, tapi dengan cepat ditahan.


 “Matanya jangan dikucek. Nanti make-up matanya bisa rusak.”


 Kening Adelia makin berkerut saja. Dia sedang dalam proses mengumpulkan kesadaran setelah tidur yang sangat nyenyak, tapi malah dihadapkan dengan orang-orang tak dikenal. Mana mereka semua membicarakan hal tidak masuk akal.


 “Coba bangun sebentar.”


 Mendengar hal itu, Adelia refleks saja bangun dari posisi tidurnya. Perempuan mungil itu terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mulai tersadar. Dia tidak berada di kamar kos Delano lagi dan rasanya makin banyak orang tidak dikenal.


 “Tunggu dulu!” Adelia dengan cepat memberontak dan bangun dari tidurnya. “Apa yang kalian lakukan padaku?”


 “Tentu saja mendandanimu.” Perempuan yang sejak tadi bicara mulai terlihat kesal. “Saya tahu kamu sakit, tapi bukankah keterlaluan kalau melupakan hari pernikahan sendiri? Apalagi kulihat kamu sangat sehat.”


 “Siapa yang mau menikah?” Adelia jelas saja makan bingung. “Pacarku bahkan belum melamar, lagi pula ini di mana?”


 “Kurasa dia benar-benar sakit, sampai hilang ingatan.” Orang lain berbisik pada perempuan yang pertama berbicara.


 Perempuan yang terlihat seperti seorang make-up artist itu mendesah pelan. Dia juga tidak lupa menatap Adelia yang terlihat terlalu baik-baik saja, untuk disebut orang sakit. Jelas ini terlalu aneh baginya.


 “Pertama perkenalkan, saya Dona. Seorang make-up artist. Saya di sini karena diundang oleh keluarga kamu. Katanya kamu mau menikah dan perlu didandani, walau dalam keadaan terbaring sakit.” Orang tadi akhirnya memperkenalkan diri.


 “Tapi masalahnya, saya tidak sakit dan tidak sedang ingin menikah.” Jelas saja Adelia akan kembali membantah, kali ini dengan bahasa yang sedikit lebih sopan.

__ADS_1


 “Apa saya terlihat seperti orang yang sedang sakit?” Perempuan mungil yang hanya menggunakan bathrobe itu, kembali melanjutkan ketika melihat semua tim Dona kebingungan.


 “Tidak.” Dona dengan cepat menggeleng. “Di mataku, kamu terlihat sangat sehat dan tadi hanya sedang tidur saja. Sayangnya, saya sudah dibayar untuk pekerjaan ini. Jadi apa pun yang terjadi, saya akan tetap melakukan pekerjaan saya.”


 Adelia menggeram kesal mendengar hal itu. Sebenarnya dia bisa mengerti apa yang dikatakan Dona, jika mereka berada dalam situasi yang normal. Sayangnya, Adelia dengan cepat sadar kalau dia sudah masuk perangkap sang papa. Atau mungkin Bella, bahkan Aris.


 “Begini saja.” Adelia bergumam. Dia sebenarnya tidak tahu mau mengatakan apa, tapi dia jelas perlu mengulur waktu. “Boleh carikan ponselku? Atau mungkin ada ponsel yang bisa kupinjam? Aku ingin menghubungi pacarku.”


 “Ini adalah pernikahan karena dijodohkan. Aku tidak mau karena sudah punya pacar. Tapi karena sudah terlanjur, setidaknya aku ingin mengucapkan perpisahan pada pacarku,” lanjut Adelia berhasil mengarang indah.


 “Pakai ponselku saja.” Pada akhirnya, Dona yang mengulurkan benda pipih itu. “Tapi jangan terlalu lama. Deadline-nya jam sembilan pagi.”


 “Tentu saja.” Mau tidak mau, Adelia mengangguk setuju dan segera jadi panik karena sekarang waktunya tersisa tiga puluh menit lagi.


 Untung saja Adelia menghafal nomor telepon kekasih bayarannya. Tapi sayang, Delano tidak mengangkat teleponnya. Alhasil, perempuan mungil yang panik itu hanya bisa meninggalkan pesan dan mengirimkan lokasinya.


 “Waktunya sudah habis.” Dona mengulurkan tangan untuk meminta kembali alat komunikasinya itu. “Aku harus melanjutkan lagi, agar nanti bisa dibayar lunas.”


 “Aku akan memberikannya padamu, kalau ponselnya berbunyi. Biar bagaimana, itu barang punyaku.” Sayang sekali, Dona tidak bisa diajak bekerja sama.


 Pada akhirnya, Adelia mendesah dan memberikan benda pipih itu. Dia hanya bisa pasrah saja, sambil berusaha memikirkan cara untuk melarikan diri. Masalahnya, sekarang dia tidak tahu ada di mana. Adelia sempat mengirimkan lokasi pada Delano, tapi dia tidak memperhatikan dengan seksama karena bur-buru.


 “Apa sudah selesai?” Tiba-tiba saja terdengar ketukan dan suara dari arah pintu.


 “Sedikit lagi.” Dona mau tidak mau berteriak, sembari meminta salah satu timnya membuka pintu. Adelia kebetulan sudah hampir selesai dengan gaun pengantinnya.


 “Kenapa lama sekali?” Rupanya Aditya yang datang untuk melihat putrinya. “Pengantin prianya sudah datang.”


 “Putrimu menimbulkan masalah, Pak.” Tentu saja Dona tidak segan untuk memberi tahu. “Kami kesulitan, apalagi dia terlihat sangat sehat.”


 Mata Aditya dan Adelia bertemu pandang. Tidak ada sama sekali perasaan bersalah yang dirasakan pria itu, walau putrinya terlihat sangat marah.

__ADS_1


 “Boleh kami bicara berdua saja dulu?” Pada akhirnya Aditya yang duluan memutuskan adu tatap itu.


 “Tentu saja.” Dona dengan cepat menyuruh timnya keluar, tanpa membereskan apa pun di dalam kamar hotel yang sudah dipesan itu.


 “Apa maksud Papa melakukan semua ini?“ Adelia langsung bertanya, ketika tinggal mereka berdua di dalam kamar.


 “Papa hanya ingin yang terbaik untukmu,” jawab Aditya dengan jujur. “Setidaknya dosen lebih bisa menjamin hidupmu, dari  pada office boy yang bahkan akan resign sebentar lagi.”


 “Delano keluar dari pekerjaannya yang sekarang karena sudah mendapat pekerjaan baru yang lebih baik.” Adelia mengatakan itu dengan penuh keyakinan.


 “Lalu memangnya kenapa kalau dia punya pekerjaan yang lebih baik?” Aditya bertanya dengan nada berang. “Itu tidak membuat hidupmu langsung menjadi lebih baik.”


 “Aku punya harta warisan dari mama. Itu cukup untuk kami hidup dengan lebih baik,” balas Adelia tidak mau kalah.


 “Masalahnya, bisa saja dia justru hanya ingin mengambil harta warisanmu.” Aditya pun tidak mau kalah. “Kalau seperti itu, kamu bisa apa?”


 “Delano tidak seperti itu,” hardik Adelia sudah makin kesal saja.


 “Terserah apa yang mau kamu katakan. “ Pada akhirnya, Aditya menyerah untuk menasihati putrinya. “Yang jelas, sekarang kamu akan menikah dengan Aris Wisesa.”


 “AKU TIDAK MAU.” Aditya masih bisa mendengar teriakan sang putri, walau pintu kamar sudah tertutup.


 “Tolong selesaikan secepat mungkin.” Hanya itu yang dikatakan pria itu, pada Dona. “Kita tidak punya banyak waktu.”


 Tidak ada yang bisa dikatakan sang make-up artist, selain mengangguk. Biar bagaimana, dia sudah dibayar untuk ini. Walau ponselnya yang berdenting, menunjukkan pesan yang tampak khawatir.


 [+628xxxxxxxx: Adelia? Apa kamu terluka? Ada apa denganmu?]


 “Maaf, tapi kita harus melanjutkan ini, “ gumam Dona pada pengantinnya yang terlihat frustrasi.


 

__ADS_1


***To be continued***


__ADS_2